Skip to main content

Bersama Anak selama Work From Home

Hikmah terbesar selama Work From Home adalah full bersama anak di rumah. Kita bekerja dari rumah, anak belajar juga dari rumah. Yang penting internet kenceng dan lancar, maka pembelajaran online dan penugasan insyaallah oke. Apakah hanya terkait dengan internet?

 

Tentu tidak. Dalam kehidupan yang kita jalani selama dua puluh empat, ada banyak kegiatan di rumah yang membutuhkan kerjasama semua anggota keluarga. Mulai bangun tidur, wudlu, shalat malam, bersujud, memanjatkan doa, menyiapkan sarana prasarana kegiatan seharian nanti, menyapu halaman, mengisi air, olahraga, menyambut mentari pagi, hingga bisa duduk tenang membaca buku dan menulis.

 

Bukan pekerjaan sekali jadi, namun dilakukan bertahap satu demi satu dengan penuh suka cita, sepenuh cinta dan tetap dengan mengharapkan sepenuhnya pertolongan Allah. Mengapa? karena kemampuan manusia amat sangat terbatas. Antara jiwa dan fisik ada dalam satu kesatuan tubuh ini. Itulah sebabnya mengapa kita perlu menulis. Sebagai apapun  kita, menulis itu diperlukan. Menulis itu mengambil hikmah. Menulis itu menggapai cahaya Tuhan.

 

Work From Home sebagai kebijakan yang diambil untuk mencegah penularan covid-19, membuat saya memikirkan tentang kematian. Kita dihadapkan pada suatu situasi begitu mudahnya orang mati saat terkena covid-19. Pandemi. Kita pun dicekam ketakutan akan kematian. Memang tidak semudah itu kita mati karena covid, namun toh kita dihadapkan pada keadaan waspada terhadap ancaman terpapar covid-19. Karena itulah saya ingin menulis, untuk menempatkan persoalan kematian ini pada tempat yang wajar.

 

“Setiap yang berjiwa akan merasakan mati”. Ayat ini terdapat dalam 3 ayat, yaitu surat Ali Imran (3): 185, surat Al-Anbiya (21): 35 dan surat Al-Ankabut (29): 57. Ingat ya, Teman, ada cara mudah untuk mencari ayat. Di google, Teman bisa mencarinya dengan aplikasi Lafzi. Cukup klik dengan transliterasi Indonesianya. Tidak perlu repot menulis dengan huruf khat atau tulisan Arab. Jadi, Teman cukup tulis “kullu nafsin dzaiqatul maut.” Nah, gampang kan? Sampai di sini, kita menjadi tahu kan manfaatnya sering mendengarkan murattal Al-Qur’an. Nggak punya ide, dengarin murattal. Sambil olahraga ringan di samping rumah, dengarin murattal juga oke. Leyeh-leyeh, asyik juga dengarin murattal.  Mau tidur pun, murattal terasa indah terdengar di telinga. Jadi, mendengarkan murattal itu sama sekali tidak mengurangi waktu kita. Tetap bisa menjalankan aktivitas apapun. Kerja oke, kuliah oke.

 

Apa hubungan mati dengan menulis?

Janganlah kita mati sebelum menulis. Jangan biarkan ide kita, gagasan, pengetahuan, pengalaman kita ikut terkubur dengan jasad kita. Nah. Yuk mulai menulis..

 

Lalu bagaimana dengan anak-anak di rumah?

Nah, buat emak-emak seperti saya nih, bersama anak di rumah selama work from home memang asyik-asyik sedap. Asyik bila kita bisa kerjasama. Sedap bila indah kerjasama yang tertata. Bila tidak? Sewot tentulah yang dirasa.. Sebelum itu terjadi, yuk kita baca puisinya Dorothy Low Nolte.

 

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.

Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri.

Jika anak dibesarkan dengantoleransi, ia belajar menahan diri.

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.

Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.

Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan.

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya.

Jika anak dibesarkan dalam kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

 

Bismillah. Semoga Allah mampukan kita menjadi emak-emak shalihah yang mampu menerima kehadiran anak-anak kita apa adanya. “Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan yang tidak dimiliki orang lain” (Arcele Ary Tandy).

 

Selamat bertugas. Selamat belajar. Semoga sukses, amin.

 

Yogyakarta, 9 April 2020

 

# DiRumahAja

# WorkfromHome

# PhysicalDistancing

# UNISAYogyaMenulis2020

# FIKesUNISAYogya-MasaKini

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *