Skip to main content

Tanggal Merah di Work From Home

TANGGAL MERAH DI WORK FROM HOME

 

Sri Lestari Linawati

 

 

Hari ini mau menulis apa ya? Bukannya ini hari libur, mengapa harus menulis? Bukankah perkuliahan juga libur? Hehe.. iya libur. Saya jadi ingat kemarin dua mahasiswa PJ kelas menghubungi saya, “Ibu, mengingatkan besok ada jadwal kuliah dengan kelas kami, apakah Ibu berkenan masuk?”

 

Saya tahu bahwa besok tanggal merah, namun untuk memastikan jawaban yang harus saya berikan kepada mahasiswa, saya membuka catatan perkembangan perkuliahan kelas tersebut. Aha.. ternyata saya sudah menyampaikan sebelumnya tentang tanggal berapa kelas ini akan pertemuan kembali. Oya, PJ juga sudah sudah pernah konfirmasi kembali. Ok.. ok.. tidak apa. Kita memang harus banyak-banyak memaafkan, lebih memahami mahasiswa.

 

Mendidik mahasiswa itu kan sebagaimana mendidik anak-anak kita sendiri. Anak kita sendiri, darah daging kita sendiri, mereka memiliki keragaman pola pikir dan laku. Kadang kita dibuat geram juga oleh anak sendiri. Punya anak 4, ya empat macam karakter yang harus kita selami. Apalagi mahasiswa yang banyak itu kan anaknya orang banyak, maka tak ada pilihan, kecuali kita sabar menjelaskan kembali. Akhirnya saya fotokan kalender April dan saya lingkari tanggal sepuluh ini. Dia pun tersenyum dan berkata, “Iya, Bu, ini saya lihat di simptt ada jadwal kita. Baik, Bu, kalau begitu saya ganti.” Alhamdulillah.

 

Dari pengalaman kecil itu mengajarkan pada saya sebuah hikmah kuliah online, yaitu meningkatkan komunikasi. Semua urusan perkuliahan di hari work from home ini diharapkan selesai dengan cara online. Tidak ada tatap muka. Ini titik baliknya. Oleh karena itu kurang bijak mengatakan “saya tidak suka kuliah online, mending tatap muka.” Bukankah wabah corona ini datang begitu saja? Bila ditawari, siapa sih yang mau sakit? Tidak ada yang mau, namun yang kita tahu hanyalah “Apabila kamu sakit, maka berobatlah.” Bukankah kita pernah sakit? Inilah hikmahnya pelajaran sakit yang Allah berikan pada kita.

 

Oya, kembali ke persoalan menulis. Apa yang harus ditulis? Baiklah, yuk kita baca dulu. Buku Free Writing-nya Pak Hernowo Hasim cocok kita baca saat kita buntu, tidak punya ide. Beliau menuliskan di halaman 54 “Sekali lagi, saya menganjurkan untuk membaca “ngemil” dengan keperluan “mengikat” gagasan. Gagasan tidak terduga kehadirannya. Lewat membaca “ngemil” kita memang sudah menyiapkan diri untuk berhenti sejenak atau jeda dalam membaca. Apabila dalam keadaan seperti itu dibiasakan maka seluruh diri kita –terutama pikiran- akan peka dan awas dalam menjalankan kegiatan membaca. Memperoleh gagasan akibat membaca adalah berkah yang tidak terkira. Membaca itu tidak mudah. Membaca itu berat. Namun, begitu kita mendapatkan gagasan dari membaca, membaca terasa ringan, menyenangkan, serta menghasilkan.

 

Nah, jadi Anda faham kan apa  yang dimaksud dengan “baca ngemil”? Ternyata membaca itu bisa juga lho dilakukan dengan ngemil, sedikit demi sedikit membacanya. Bukan membaca sambil ngemil ‘klethikan’ lho. Kalau untuk yang kedua ini, seorang teman saya menuliskan “Meskipun di rumah, tetap gunakanlah masker, agar mulut tidak mengunyah terus.” Hehe..

 

Lalu apa hubungannya antara “baca ngemil” dan “nulis ngemil”? Menulis itu, sebagaimana membaca, juga bisa dilakukan secara bertahap, sedikit demi sedikit. Ada ide dan gagasan, tulislah. Macet? Bacalah. Ada ide lewat lagi? Tulislah kembali. Macet lagi? Istirahatlah sejenak.. Membaca lagi? Iya. Tapi anak-anak sudah ribut?

 

Bila ini yang terjadi, segera hentikan dulu membaca dan menulis Anda. Segeralah pergi ke dapur. Siapkan makan untuk anak-anak dan suami. Makanlah bersama dalam suasana nyaman bertabur cinta dan kasih sayang. “Cara terbaik untuk membuat anak-anak betah di rumah adalah menciptakan suasana yang menyenangkan dan jauh dari kejenuhan.” (Dorothy Parker)

 

Apakah masih belum bisa meneruskan tulisan Anda? Saya pun pernah mengalami sebagaimana yang Anda alami. Itu terjadi ketika di belakang masih ada setumpuk pekerjaan: baju yang belum dicuci, cucian baju yang belum dijemur, piring gelas yang belum dicuci, halaman yang belum disapu, air di tandon habis, stop kontak air yang putus, atau galon air minum yang kosong. Bila ini yang terjadi, maka segeralah selesaikan, baru duduk manis untuk menulis.

 

Bukankah capek mengerjakan semua pekerjaan rumah itu? Tentu, namun bukankah kita juga meyakini “La yukallifullahu nafsan illa wus’aha”, “Tidaklah Allah membebani setiap diri kecuali sebatas kemampuannya”. Jadi, lakukan saja tugas-tugas itu dengan suka cita. Apabila selesai, istirahatlah sejenak. Bersyukurlah pada Allah karena atas pertolonganNya, kita mampu menyelesaikan pekerjaan itu. Bila telah on kembali, maka mulailah mengerjakan tugas lainnya. Faidza faraghta fanshab. Subhanallah, inilah indahnya berislam.

 

Hari-hari ini, kita masih menyimpan ketakutan pada corona. Dahlan Iskan pun menulis “Corona Apalagi”. Dahlan mengingatkan kita untuk bangkit dan berfikir positif. Tidak dapat dipungkiri, susah bagi kita untuk memilah antara ketakutan dan harapan. Antara faham mu’tazilah atau jabariyah. Antara menyerah ataukah masih bergerak mencari harapan. “Harapan dan ketakutan tidak dapat dipisahkan.” (Dug de La Rochfoucauld).

 

Bosan di rumah aja? Malas membaca? Tidak punya waktu untuk menulis?

Yuk kita renungkan pesan berikut.

“Rasa bosan adalah satu-satunya penyebab utama dari kemerosotan hasil kerja manusia.” (Edward Thomdrike)

“Malas itu  bukan berarti tidak berbuat apa-apa, tetapi merasa bebas untuk tidak berbuat sesuatu.” (Floyd Dell)

“Suatu garis pemisah antara sukses dan kegagalan , dapat dinyatakan dalam empat buah kata saja, yaitu: “Saya tidak punya waktu”. (Franklin Field)

 

Ya, menulis itu memang gampang-gampang susah. Itulah sebabnya Pak Imron, Dekan FIKes UNISA Yogya, nekat menyelenggarakan lomba menulis bagi segenap civitas akademika. Sederhana saja alasannya. Satu, kita semua sama-sama menghadapi corona. Ini realitas yang sangat jelas. Kita semua terdampak adanya corona. Artinya, bahan menulis itu sudah terpampang jelas di depan mata.

 

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap orang melihat apa yang dilakukannya untuk hari esok, bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah seperti orang-orang yang melupakan Allah, dan Allah membuat mereka lupa akan diri sendiri, itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyr (59): 18-19).

 

Marilah menulis, untuk mengingat kehadiran Allah di setiap detak nafas kita. Ketika kita melupakan Allah, maka mudah saja bagi Allah menjadikan kita lupa akan diri kita sendiri. Fasik. Na’udzubillah.

 

Mari buang rasa bosan. Mari tanggalkan rasa malas. Jangan mudah mengatakan “Saya tidak punya waktu”, padahal di saat yang sama kita sangat mengharapkan datangnya kesuksesan berpihak pada kita. Sungguh Allah Maha Mendengarkan doa. Gusti ora sare. Tersenyumlah. Tarik nafas panjang. Lihatlah mentari pagi mulai menyapa. Sambutlah hari dengan penuh suka cita dan berita bahagia. Bergeraklah. Menulislah. []

 

Yogyakarta, 10 April 2020

 

 

# DiRumahAja

# WorkFromHome

# PhysicalDistancing

# UNISAYogyaMenulis2020

# FIKesUNISAYogya-MasaKini

 

 

Sri Lestari Linawati adalah pegiat literasi, penggagas BirruNA “PAUD Berbasis Alam dan Komunitas”, peneliti di “Pusat Dunia” (Pusat Studi Anak Usia Dini dan Keluarga), kini mengabdi sebagai Dosen UNISA Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *