Skip to main content

Baitul Arqam yang Mencerahkan

 

_Sri Lestari Linawati_

 

Pagi-pagi sudah kami dapatkan laporan pelaksanaan Baitul Arqam Banyuraden yang dikoordinir Majelis Pendidikan Kader Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sleman. Luar biasa. Hadiah terindah. Satu hal yang selama ini sering saya impikan benar-benar terjadi. Alhamdulillah.

Karenanya terima kasih kami sampaikan kepada:
1. Bapak Muhammad Ichsan, S.E., M.M. dan segenap Tim MPK PDM Sleman,
2. Bapak dr. H. Faesol, Sp.Rad dan segenap jajaran Pimpinan Ranting Muhammadiyah Banyuraden,
3. Ibu Wijayanti dan segenap jajaran Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah Banyuraden,
4. Bapak dan Ibu segenap panitia Baitul Arqam Banyuraden,
5. Ibu-ibu dan bapak-bapak peserta Baitul Arqam Banyuraden, dan
6. Ibu/ Bapak semua pihak yang telah membantu terselenggaranya Baitul Arqam ini dengan baik, lancar dan sukses.
Teriring doa semoga amal ibadah kita diterima dan diridhai Allah swt, amin.

Ada rasa haru menyeruak saat membaca satu per satu laporan yang dipaparkan MPK PDM Sleman. Terlihat jelas adanya sebuah semangat PDM Sleman dalam mengelola perkaderan Muhammadiyah dengan sungguh-sungguh.

Usai pembukaan Baitul Arqam pada sabtu, 14 Maret 2020, kami lihat ada beberapa ibu dari MPK PDM Sleman. “MPK PDM ada ibu-ibunya juga, Pak Ichsan?” tanya saya. “Ya, Bu, karena tiap perkaderan yang kami kelola seringkali ada ibu-ibunya, jadi kita libatkan untuk kemudahan pengelolaan,” terang Pak Ichsan.

Apa arti pengelolaan?
Kita bisa mengikuti rangkaian materi sejak awal hingga akhir dengan baik dan lancar, ini hasil nyata sebuah pengelolaan itu. Saya yang menjadi peserta sekaligus panitia dapat mengikuti kegiatan dengan baik, dapat menunaikan tugas dengan optimal, saya kira ini adalah buah adanya pengelolaan ini. Adanya pengelolaan perkaderan oleh MPK ini sangat membantu kami dan membuat kami bisa bernafas lega.

Pak Ichsan dibantu timnya antara lain Bu Nur, Bu Wari dan Mbak Esti (?) sebagai moderator, Pak Afandi selaku Imam Training Dan Kang Zaenal sebagai instruktur outbound.

MPK PDM Sleman juga telah menghubungi para pemateri yang sesuai. Bila ada yang tidak bisa pun, dicarikan penggantinya yang tak kalah menariknya. Kami sangat menikmati runtutan materi dari materi satu, dua, tiga, empat, hingga materi lima. Saya merasakan ini sebagai sebuah momentum baik kami segenap keluarga Muhammadiyah ‘Aisyiyah Banyuraden.

Persiapan panitia juga membuahkan hasil manis. Penyiapan penginapan, ruang pembelajaran, penyediaan makanan dan snack, air minum, masjid, transportasi, kesemuanya memungkinkan kami dapat mengikuti materi dengan baik dan nyaman. Bahwa ada satu dua kekurangan di sana-sini, saya kira masih dalam batas kewajaran. Bisa dimaklumi. Justru ini mengajarkan pada kita bahwa manusia itu wajib berusaha optimal. Adapun hasilnya kita serahkan pada Allah swt.

Saat outbound juga cukup seru. Kang Zaenal mampu menghidupkan suasana refreshing kami pagi kemarin. Bapak yang tinggal di Kotagede Yogya ini cukup mengocok perut kami. Permainan yang disajikan pun cukup membuka kesadaran kami tentang filosofi manajemen organisasi. “Mengelola persyarikatan kita ini perlu inovasi dan kreasi, maka bicarakan dengan terbuka. Rasio kalangan tua dan angkatan muda harus seimbang agar terjadi dinamisasi,” papar Kang Zaenal.

Acara RTL atau Rencana Tindak Lanjut disajikan dengan baik oleh Pak Dr. Samiyanto dan Pak Junaini. Satu per satu hasil diskusi peserta dibahas oleh Pak Sam. Kajian ibadah harian menjadi prioritas utama program Banyuraden yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat, demikian menurut seorang peserta saat saya tanya hasil akhir RTL.

Bagaimana dengan peserta?
Baitul Arqam ini, hingga H-1, rencananya akan diikuti 70 peserta, dari Bapak Muhammadiyah dan Ibu ‘Aisyiyah. Menjelang pemberangkatan, ada ijin dari Ibu-ibu. Ada tugas kerja, sakit, anak sakit. Ada pula saat sudah bersama kami di Kaliurang, ditelpon keluarganya bahwa Ada saudaranya yang meninggal. Ada yang suaminya harus segera melakukan koordinasi di kampusnya untuk merespon penyebaran covid-19. Saya kira itu semua merupakan faktor di luar kehendak manusia, sehingga kita hanya wajib tawakkal ‘alallah. Semua telah diupayakan sebaik mungkin. Di titik inilah pentingnya kita memiliki konsep yang jelas antara kepasrahan pada Allah dan ikhtiar manusia. Keseimbangan hablum minallah dan hablum minannas .

Itu semua memang bukan hal mudah. Oleh karena itu semangat berbuat baik dan membaikkan diri dan sekitar menjadi penting ditanamkan. “Tolerans boleh, namun penyusunan program persyarikatan butuh ide-ide nakal, dikomunikasikan dengan baik, ” kata Kang Zaenal. Saling menghormati, saling menghargai, saling mendengarkan, saling mendukung saya kira menjadi poin-poin pengembangan yang penting dilakukan dan terus dikaji bersama.

Pengembangan Ranting Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sebagaimana dipaparkan Pak Ridwan Furqoni saya kira cukup menghentak kesadaran kita untuk bersama membawa ke kondisi Ranting Maju dan Unggul. Bukan sendiri kita berjuang. Kebersamaan itu semestinya kita kaji ulang secara kritis dan konstruktif.

Untuk apakah itu semua kita lakukan?
Agar bermanfaat hidup Kita di dunia. Mati itu adalah sebuah kepastian, hanya kita tidak pernah tahu kapan saatnya. KHA Dahlan pernah berpesan, “Djanganlah kamu berteriak-teriak sanggup membela agama meskipun harus mejumbangkan djiwamu sekalipun. Djiwamu tak usah kamu tawarkan, kalau Tuhan menghendakinja, entah dengan djalan sakit atau tidak, tentu akan mati sendiri. Tapi beranikah kamu menawarkan harta bendamu untuk kepentingan agama?”

Dokter Faesol dalam penutupan Baitul Arqam menyampaikan apresiasinya. Saya sendiri salut dengan kehadiran beliau. Beliau ikut survey sebelumnya, rapat-rapat hingga persiapan terakhir. Sempat ijin waktu pemberangkatan karena ibundanya di Brebes sakit. Dalam penutupan itu beliau juga menyampaikan pesan kewaspadaan kita pada penyebaran covid-19. Mencuci tangan yang bersih dan pola hidup bersih dan sehat penting lebih kita tingkatkan.

Dari proses itu semua saya belajar bahwa denyut nadi persyarikatan dan pembinaan anggota Muhammadiyah ‘Aisyiyah itu memang di ranting. Saya kira, sudah saatnya segenap unsur Pimpinan Amal Usaha dan kepemimpinan Muhammadiyah ‘Aisyiyah di Daerah, Cabang dan Ranting di kabupaten Sleman ini melakukan sinergi, koordinasi, sinkronisasi program AIK (Al-Islam Kemuhammadiyahan)-nya. Untuk apa? Agar kita dapat bersama memajukan dan mengembangkan Muhammadiyah ‘Aisyiyah dengan kegiatan yang terprogram, terarah dan terukur. Agar pada saatnya kita dapat menghadap Allah swt dalam keadaan husnul khatimah, amin.[]

 

 

Kanoman, 16 Maret 2020

 

 

Sri Lestari Linawati akrab disapa Mbak Lina atau Bu Lina. Peserta dan panitia Baitul Arqam Banyuraden ini adalah pegiat literasi, penggagas dan pengelola BirruNA “PAUD Berbasis Alam dan Komunitas”, Dosen UNISA Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *