Skip to main content

SCHELLONG TEST UNTUK RUJU’ ILAL QUR’AN

SCHELLONG TEST UNTUK RUJU’ ILAL QUR’AN *)

Sri Lestari Linawati **)

 

Beberapa waktu lalu di UNISA Yogyakarta diselenggarakan schellong test untuk seluruh dosen dan karyawan. Hal ini dilakukan karena Unisa adalah universitas berbasis kesehatan, maka institusi merasa perlu untuk memastikan kesehatan dosen dan karyawannya. Pada hari dan jam yang telah ditentukan, kami diminta melakukan pemeriksaan rekam jantung dan tekanan darah. Pertama kami diminta mengisi biodata medis.Pada saat masuk ruang periksa, kami diminta berbaring selama 5 menit, kemudian posisi berdiri selama 7 menit dan setiap menitnya dicatat denyut jantung dan tekanan darahnya. Saya manut saja pada ahlinya, mengikuti aba-aba yang disampaikan.Belajar terbiasa dengan berbagai kabel yang harus dipasang ke tubuh.Pemeriksaan selesai, kami kembali bertugas seperti biasa.

Rabu, 24 Mei 2017, kami semua diundang menghadiri pemaparan hasil Schellong Test tersebut.Acara yang diselenggarakan di hall 4 Siti Baroroh Baried itu dihadiri oleh seluruh dosen dan karyawan Unisa. Usai mengisi daftar hadir, kepada kami dibagikan hasil Schellong Test yang telah dimasukkan ke dalam amplop dengan nama kami masing-masing. Di dalam ruangan, tampak Dr. dr. H. Zaenal Muttaqien Sofro, AIFM, Sports & Circulatory Med duduk di kursi depan, telah siap memaparkan hasil tes. Nasyid yang dibawakan anak-anak muslim menjadi pengantar pemaparan. Sambil menunggu kehadiran semua peserta, kami saling bersilaturrahmi.Saat seperti ini adalah saat bertemu antardosen dan karyawan.Karenanya, saya selalu memanfaatkannya untuk saling tegur sapa. Maklumlah bila jam mengajar, seakan tak sempat bertemu satu sama lain. Sebagian besar peserta telah membaca hasil tes. Saya mengamati sampul depan yang unik bertuliskan “Abadan: life support” dengan warna dasar biru. Sampul belakang bertuliskan “ Tubuh Sehat Seimbang”. Lama saya baru membukanya dan membaca biasa saja. Karena tak punya ilmu tentang itu, saya mencoba menerima saja informasi yang tertera di dalamnya, dengan menunggu penjelasan yang akan disampaikan oleh dokter Zaenal Sofro.Saya termenung dan kagum. Dari sebuah rekam jantung, dapat diketahui apa-apa yang sedang terjadi dengan tubuh kita dan menggambarkan secara detil apa yang harus kita lakukan ke depan. Baca surat al-Hasyr (59) : 18 dan 19. Subhanallah..

Tibalah saatnya dokter Zaenal memaparkan materi, dengan membaca Qur’an Surat An-Nisa (4) ayat1 :

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍۢ وَٰحِدَةٍۢ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًۭا كَثِيرًۭا وَنِسَآءًۭ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًۭا

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

Abadan life support, Pusat Pengembangan Autonomic Quotient. Orientasi hidup selamanya. Terinpirasi dari “khalidina fiha abada” (QS Al Maidah (6): 119, QS At-Taubah (9): 22 dan 100, At-Taghabun (64) : 9, Ath-Thalaq (65) : 11) .

خَـٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا

“mereka kekal di dalamnya selama-lamanya”

 

Dengan informasi yang diberikan, diharapkan kita menata hidup ke depan, bila kita ingin hidup selamanya. Jantung bekerja tidak ada yang memerintah, itulah kerja saraf otonom. “jangan baca dulu hasil schellong..” hehe.. umumnya kami sudah baca. untunglah aku tak gimana-mana dg hasil itu. Biasa saja. Menjelang tidur, bacalah QSAl-Mulk (67) :

تَبَـٰرَكَ ٱلَّذِى بِيَدِهِ ٱلْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌ

Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,

 

Sering-seringlah baca QS Al-Mulk (67) ayat 1-30 sebelum tidur di malam hari, betapa Allah menciptakan alam ini dalam keadaan seimbang. Jangan berkeluh kesah. Manusia pada dasarnya suka mengeluh, “illal mushollin”, kecuali orang-orang yang shalat (QS Al-Ma’arij (70) : 22)

إِلَّا ٱلْمُصَلِّينَ

“kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat”, yaitu shalat yang dikerjakan secara konsisten (daa imuun)

Yang berada di zona 1, tubuhnya kacau balau. Entah kekuatan apa yang ada, membuatku tak ciut mendengar itu. Aku hanya ingin mendengar penjelasan beliau. Apakah itu Zona 1? Apa maknanya ? Dan musti bagaimana selanjutnya ? Dokter Zaenal melanjutkan, ”Berbahagialah yang ada di zona normal yang menunjukkan keseimbangan di dalam tubuh. Dijaga.. Ingatlah Allah saat berdiri, duduk dan berbaring..QS Al-Imran (3) :191

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“(Ulul Albab ialah) orang-orang yang menyebut dan mengingati Allah semasa mereka berdiri dan duduk dan semasa mereka berbaring mengiring, dan mereka pula memikirkan tentang kejadian langit dan bumi.”

Carilah ketenangan hidup.Bila lekat Al-qur’an dalam hidup kita, maka apapun yang kita lihat, bunyinya adalah Al-Qur’an. Hidup yang tidak seimbang, akan menimbulkan kebimbangan. Artinya, semua hal tergantung bagaimana kita merespon lingkungan.

Marilah kita berbondong-bondong ke zona nyaman (normal). Yang ada di zona nyaman, jangan mengolok-olok.. “Aku sudah normal, kamu zona berapa?” dan Dokter Zaenal memperagakan gaya khasnya yang menurut saya sangat fasih menunjukkan gaya orang mencibir. Sebuah kemampuan Bahasa verbal yang perlu dimiliki oleh para penyampai dakwah. Pelan, santai dan mengena. Baca surat Al-Hujurat (QS 49) : 11. Meskipun hasil test Schellong berada di luar zona normal, tidak perlu takut, agar kelak dapat kembali ke zona normal. Renungkanlah dan tadabburilah ayat Allah yang ada di dalam suratFussilat ayat 30.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.

Allah Rabb. Orang takwa kriterianya adalah: 1. Orang yang pandai “menelan” kemarahan. Jadi terjemah Depag perlu diperbaiki, bukan “menahan” marah.Yang benar adalah “menelan” marah (QS Ali imran ayat 134). 2.  Jangan sedih, nelongso. 3. Tidak boleh takut. 4. Tidak boleh benci orang. Mencap-mencep itu nggak boleh. 5. Jangan kecewa (Al-Hadid: 22-23). Jangan berputus asa terhadap apa yang luput darimu.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (22) لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آَتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (23)

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Al Hadid: 22-23)

 

OTAK. Otak terbagi 3, yaitu reptile, emosi dan neo cortex. Otak reptile berkaitan dengan fungsi-fungsi: makan, aktivitas sexual, mempertahankan diri. Dua, Pusat emosi.Tiga, neocortex yang hanya diberikan kepada manusia untuk mengendalikan pusat-pusat yang ada di bawahnya (emosi dan reptile).Di sinilah peran wahyu menjadi sangat penting.QS 4 ayat 1. Manusia adalah makhluk social. Jangan salah baca WA.WA itu waosan Al-Qur’an, mungkin juga Wallahu a’lam bisshawab. Maka perlu di sebuah tempat kita pajang tulisan kaligrafi yang menyampaikan hubungan dasar takwa dan kasih sayang (compassion/rahman).Saraf social merupakan pemberian Allah adalah saraf yang diperankan oleh saraf vagus yang bermielin yang menghubungkan otak dan jantung.

SEJARAH KEJADIAN MANUSIA. Mahluk yang paling tua adalah hewan sejenis reptile yang hidup jutaan tahun sebelum diciptakannya manusia, kemudian disusul mahluk berkaki empat dan yang terakhir adalah penciptaaan manusia yang notabene adalah mahluk social dengan label safety (aman /safety). Bangunlah tali silaturrahim. Hidup itu hanyalah ‘laibun’,bermain, hiburan, saling membanggakan, memperbanyak harta dan anak (QS. Al-Hadid ayat 20). Agar hubungan antara manusia dapat berjalan dengan harmonis, tadabburilah surat Al- Hujurat yang kandungan isinya merupakan akhlaq manusia yang amat indah, bahkan akhlaq Rasulullah tergambar jelas di dalam QS 3: 159.

فَبِمَا رَحْمَةٍۢ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu.Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah.Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

 

Sebagaimana disebutkan di dalam hadist : alaa wa inna fil jazadi mudqhah idzaa shaluhat shaluhal jazadu kulluh wa idhaa fasadat fasadal jazadu kulluh, alaa wa hiyal qalb. Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu bagus baguslah seluruhnya dan apabila segumpal daging itu rusak maka rusaklah seluruhnya apakah itu? Itulah qalb (jantung). Sesungguhnya Allah telah menciptakan jantung manusia tetapi juga melengkapi nya dengan berbagai pendukungnya agar jantung dapat terpelihara dengan baik. Beberapa pendukungnya adalah: wajah, rahang, pendengaran, pita suara, otot-otot penggerak bahu dan lehe. Menggerakkkan rahang itu tak selalu iddentik dengan makan dan makan, namun menggerakkan rahang itu menderas Al-Qur’an..jangan Cuma dengar. Maka kita tahu dari kisah sahabat Umar bin Khattab ketika mendengar bacaan Alqur’an, dia langsung terpana dan akhirnya masuk islam. Beda dengan kita, ketika mendengar lantunan Alquran, kita bertanya, “Sopo sing mati?” hahaha…. Peserta gerrr…

Bagian-bagian tubuh. 1. Muscles of mastication. Rahang gerakkan. Untuk menderas quran, bukan hanya makan. 2. Middle ear muscles. 3. Facial Muscles. 4. Larynx. Maka yang bagus baca qur’an itu tartil..bila terlalu tinggi nada bacanya, dapat menghentikan jantung. Dengan demikian, pengucapan makhraj dan tajwid yang benar akan menguatkan kerja jantung.Inilah pentingnya kita banyak-banyak membaca Al-Qur’an dengan tartil. Wallahu a’lam. 5. Head turning. Hindari kekakuan otot tengkung dan leher bagian belakang. Nada bicara sebaiknya intonasinya diatur sebagaimana disebutkan di dalam QS Al-Hujurat : 2, 3 dan 4.

Gerakan shalat sebaiknya yang  tuma’ninah dan setiap pergantian gerakan perlu waktu paling tidak 30 detik agar berefek pada saraf sosialnya, sehingga expressi pasca shalat menunjukkan rasa kasih sayang (compassion).Batasi duduk paling lama 1 jam, kemudian diselingi dengan gerak tubuh agar sistim sirkulasi darah dapat berjalan dengan lancar. Usia di atas 50 tahun, banyak konsumsi lauk yang direbus. Mari merespon lingkungan dengan cool. Jangan tegang. Hiduplah berdasar Al-Qur’an. Kita baca QS. Asy-Syura : 36 dan Al-Isra : 82.

فَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ لِلَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

 

Maka sesuatu yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal. (Asy-Syura : 36)

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (Al-Isra’ : 82)

Cool, tenang. Ora kesusunan.Orang kita tipenya bingungan, gumunan, kagetan.Hindari gorengan.Untuk tahu bagaimana tubuh merespon stress, jangan biasakan bangun tidur langsung berdiri. Miringlah ke kanan sekitar setengah menit. Duduk setengah menit. Berdiri dan jinjit 8 x, tidak lebih.

Mohon focus ke hasil tes masing-masing. Ke depan kita perbaiki. Mari kita baca QS Asy-Syu’ara (26) : 80 dan QS 3: 190-191.

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku”

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَـٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَـَٔايَـٰتٍۢ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَـٰبِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَـٰمًۭا وَقُعُودًۭا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَـٰذَا بَـٰطِلًۭا سُبْحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

 

Tadzkiyatun nafs penting. Bersyukur ada tes, bisa mawas diri. Ke depan harus perbaiki diri.

QS 3 : 133-134 mengajarkan pada kita tentang bagaimana Allah memandang kehidupan.

وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍۢ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَـٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَـٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

 

Tes ini terinspirasi surat Yasin (36) ayat 65.

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

 

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.

 

Nanti, yang bicara bukan mulut, tapi tangan, kaki.. lain syakartum laazidannakum walain kafartum inna adzabi lasyadid.. qalilan ma tasykurun.. An: Nahl (16) :78.

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”

Bekerja janganlah hanya untuk mencari uang semata, tapi untuk mencari ridlo Allah (QS Al- Qashas : 77). “Saya anak ke-9 dari 14 bersaudara. Ketika hendak berangkat tugas belajar untuk belajar tes Schellong di benua Eropa, pesan yang disampaikan ibu saya selalu, ”ojo lali shalat”, cerita Dokter Zaenal.  Mengapa shalat? Shalat untuk membersihkan diri kita. Surat Al-A’la (87) ayat 14

قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ’

Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman),

 

.

Dari awal hingga akhir, dokter Zaenal menyampaikan pesan-pesan Al-Qur’an. Tujuannya adalah agar kita mengingat Allah, akhir hidup kita untuk Allah, proses yang kita jalani ini marilah dijalani dengan caranya Allah.

Saat dialog tak saya lewatkan. Saya sampaikan terima kasih atas hasil tes ini. Ya, sesuai dengan yang saya rasakan. Saya menjadi semakin yakin bahwa Al-Qur’an adalah nyata. Bukan semata kalimat biasa yang bisa diabaikan begitu saja dan hilang dari ingatan. Sebaliknya, Al-Qur’an adalah firman Allah, yang akan abadi sepanjang hidup ini dan mengandung makna spiritualitas. Dengan demikian, yang bisa kita lakukan sebagai manusia adalah meyakini kalimatNya, mencari makna yang terkandung di dalamnya. Bahkan ilmu pengetahuan pun telah membuktikan adanya itu. Tes schellong hari ini membuktikan. Dari pemeriksaan tersebut, diketahui kesehatan tubuh kita, keadaan secara klinis, secara psikologis, dan saran-saran yang dianjurkan berdasarkan kondisi klinis dan psikologis. Subhanallah.. Alhamdulillah..Tentu saja saya senang dan bersyukur. Kembali pada Al-Qur’an, menjadi jalan selamat yang wajib ditempuh oleh setiap kita. Tepat kiranya UNISA dengan ikon “Profesional Qur’ani” melakukan Schellong Test untuk seluruh dosen dan karyawannya. Perlu kita dukung dan upayakan bersama untuk menjadi kampus berbasis kesehatan. Wallahu a’lam. (Ln)

*)  Disarikan dari Pemaparan Schellong Test oleh Dr. dr. H. Zaenal Muttaqien Sofro, AIFM., Sports & Circulatory Med di Hall 4 UNISA, 24 Mei 2017

**) Dosen Bahasa Arab UNISA Yogyakarta

Nabi Pernah Dituduh Gila

Joging pagi yuuuk.. 🏃🏻

 

 

Nabi Pernah Dituduh Gila

 

Oleh: Sri Lestari Linawati

 

 

Tersentak membaca buku “Mengerti Asbabun Nuzul”, Muhammad Chirzin, 2015: 132-133. Nun. Walqalami wama yasthurun. Ma anta bini’mati rabbika bimajnun

 

Siapa sih yang nggak tahu surat Alqalam ayat 1? Pelajar Muhammadiyah pastilah hafal. Itulah ruh gerakan pelajar “Nun. Demi pena dan apa saja yang mereka tulis”. Mencerdaskan anak bangsa untuk bangkit terpelajar. Pena merupakan simbol terbukanya wawasan seorang terdidik. Dia membaca, dia menulis. Upaya ini menjalar pada kesadaran pentingnya gerakan literasi. Perlu upaya aktif mendekatkan buku pada pembacanya, baik tukang becak dan buruh gendong di jalanan, penumpang di angkot dan halte, pasien yang antri di rumah sakit atau sedang rawat inap. Lebih-lebih, para pelajar dan mahasiswa yang sedang studi, wajib hukumnya seneng buku.

 

Ayat 1 tersebut mungkin sudah menjadi makanan dan camilan kita sehari-hari. Karenanya bertebaranlah para pelajar Muhammadiyah menuntut ilmu di berbagai penjuru dunia, pun lintas kota saja ada, hanya demi cita peningkatan kualitas ummat dan bangsa.

 

Yang menarik perhatian saya pagi ini adalah sejarah turunnya ayat tersebut.  Ayat 1 di atas ternyata dilanjutkan dengan ayat 2 yang artinya “Dengan karunia Tuhanmu, kau bukanlah orang gila.”  Ibn al-Mundzir meriwayatkan dari Ibn Juraij bahwa kaum kafir Qurays menuduh Nabi saw gila, bahkan menyebutnya tukang sihir dan setan yang menyesatkan. Maka turunlah ayat ini membantah tuduhan dan ucapan mereka.

 

Satu hal yang patut kita renungkan ketika kita telah menyatakan keimanan kita pada Nabi Muhammad saw adalah kita pun harus siap dituduh gila oleh orang-orang yang di hatinya masih tersimpan sifat dan sikap seperti kafir Qurays.

 

Ini pula sebabnya kita perlu selalu mengasah keimanan kita dengan membaca Alquran dan mengajarkan Alquran. Membacanya yang benar sesuai dengan makhraj dan kaidah tajwid, masih banyak agenda kita. Pun memahami makna yang terkandung di dalam Alquran yang berbahasa Arab, butuh pengetahuan, kesediaan dan keluasan hati. Nah, hijrah inilah yang tak mudah.

 

Dalam konteks kebudayaan, Koentjaraningrat mengulas panjang lebar bagaimana suatu kebudayaan itu tercipta. Unsur-unsur apakah yang mempengaruhi terjadinya sebuah kebudayaan, diulas tuntas dalam keilmuan budaya. Bahasa adalah salah satu unsur terbentuknya budaya.

 

Bukankah tak mudah mempelajari bahasa? Masuklah ilmu psikologi yang menelusuri secara perlahan sisi-sisi kejiwaan agar manusia menyukai bahasa. Penelitian tesis saya yang menguak persepsi dalam pembelajaran bahasa Arab di Muhammadiyah Boarding School mengajarkan bahwa dalam keadaan fun, bahagia, maka materi/ pelajaran/ perkuliahan apapun akan mampu ditangkap/ diterima/ difahami dengan mudah oleh siswa/ mahasiswa/ peserta didik.

 

Nah, tugas  pendidikan selanjutnya adalah mengemas dalam satu paket pembelajaran yang bernama kurikulum. Jelas dan gamblang atau ruwet dan mbulet itu diperlukan forum komunikasi/ koordinasi.

 

Mengapa perlu komunikasi dan koordinasi? Karena kondisi siswa/ mahasiswa/ peserta didik kita mengikuti perkembangan jaman. Jaman kita sekolah dulu beda dengan kids zaman now. Dulu, guru sekali bilang, kita dengerin. Kita cuma tunduk dan patuh. Itu jaman kita tempo doeloe. Hla kids zaman now? Dosen menerangkan, mahasiswa asyik hp-an. Macem-macem lah alasannya. Koordinasi dosen selanjutnya karena beliau belum balas. Memberi tahu teman sekelas. Ada keperluan mendadak. Atau, dihubungi ayah ibu. Ngajak fokus, butuh pemahaman dan kesepakatan para dosen. Ada lagunya kan.. 🎼 Mau dibawa kemana hubungan kita?😍

 

Mendidik siswa/ mahasiswa/ peserta didik sama halnya mendidik anak di rumah. Di kampus dan sekolah, mahasiswa atau siswa butuh figur dosen dan guru yang menjadi ayah bunda mereka. Mereka butuh ilmu, pengetahuan, ketrampilan, sekaligus cinta dan kasih sayang.

 

Ayah dan ibu bisa beda caranya ngasuh anak. Apalagi dosen mengajar mahasiswa. Keduanya memiliki keragaman latar belakang, keilmuan, budaya dan harapan. Jelas banyak hal yang harus dirumuskan agar ada satu visi dan misi. Ada transparansi.

 

Tanpa itu, bisa saja pemikiran kita, yang merupakan ekspresi keimanan dan keyakinan pada Allah, dianggap gila. Tidak umum bagi masyarakat tertentu. Di titik inilah dibutuhkan kebeningan hati dan samudra maaf dalam proses koordinasi dan komunikasi. Nah, para dosen, guru dan pendidik, janganlah sedih, murung dan berduka saat Anda dituduh gila. Nabi saw pun pernah dituduh gila. Dekatkan diri pada Allah, maafkan mereka yang menuduhmu gila dan bawalah cahaya iman dengan sepenuh cinta semata mengharap ridhaNya. []

 

Di antara kicau burung di pagi cerah di sudut Yogyakarta, 13 April 2018.

 

#SavePerempuanSehat

 

 

Sri Lestari Linawati adalah Dosen Universitas Aisyiyah Yogyakarta. Diskusi? Dengan senang hati dan terbuka, via email sllinawati@gmail.com (ingat, dobel “el” ya guys..) dan hp/WA 0856.292.8998.

 

 

Skripsi Lina di Sastra Arab UGM “Hubungan Sikap Berbahasa Arab dengan Penguasaan Bahasa Arab Bagi Siswa Putri Pondok Modern Gontor (Kajian Sosiolinguistik).

 

Tesis Lina di Psikologi Pendidikan Islam Magister Studi Islam UMY “Persepsi Siswa SMP Muhammadiyah Boarding School Yogyakarta terhadap Pembelajaran Bahasa Arab

 

Minat studi lanjutnya “Bahasa Arab dan Alquran”.

Inovasi Pembelajaran Bahasa Arab

Madhang yuuuk…

 

Inovasi Pembelajaran Bahasa Arab

 

Oleh: Sri Lestari Linawati

 

 

Inspirasi pertemuan saya dengan Bu Dokter Cantik tadi malam adalah tentang inovasi pembelajaran Bahasa Arab. Lah, apa hubungannya? Begini, hm.. saya tanya dulu, apakah teman-teman sudah siap mendengarkan diskusi ringan kita pagi ini? Monggo duduk yang nyaman.. Apapun aktivitas Anda, jangan lupa bahagia ya.. Sudah siap?

 

Bu Dokter Gigi itu, tadi malam menjelaskan secara rinci hal sakit gigi yang saya derita. Inilah yang membuat saya bahagia dan merasa harus menularkannya kepada Anda. Untuk Anda yang susah menulis, mau nulis apa bingung, mau nulis dari mana ndak tahu, percayalah, saya sama dengan Anda. Saya pun susah menulis. Saya hanya ingin berbagi saja dengan Anda tentang apa yang sedang melesat dalam pikiran saya.

 

Mendengarkan penjelasan Bu Dokter tadi malam, membuat saya berfikir, beliau sekolah di mana? Kok bisa pinter, ramah dan sabar begitu? Bagaimana pendidikan yang diterima? Bagaimana dengan pendidikanku? Manfaat apa yang telah kutebarkan pada masyarakat?

 

Saya sempat sedih ketika dulu tetangga di kampung membayangkan saya jadi juru doa. Alamak. Mengkaji kebudayaan dengan berbagai pernak-perniknya, itulah yang dibekalkan pada kami. Jadi kami yang suka baca novel, nonton film, nyanyi, baca puisi, kongkow-kongkow di kantin kampus sambil ngrancang kegiatan membangun kebudayaan. Tentu berbeda pendidikannya dengan ahli doa. Itulah sebabnya saya menghindar bila diminta jadi juru doa.

 

Kalau pagi ini Bu Dukuh datang ke rumah saya, meminta bantuan untuk membacakan Alquran di acara pengajian Ibu-ibu sekelurahan Banyuraden pada 21 April nanti, ini beda lagi. Saya tidak bisa menolak. Pengajian yang dihadiri sekitar 300 ibu di Banyuraden ini tentu butuh pendamping baca Alquran. Lagian, Bu Dukuh sudah repot-repot datang ke rumah. Tak elok bila saya menolaknya. Semangat, Kawan!

 

Di kelas perkuliahan Bahasa Arab di prodi perawat, mahasiswa yang saya hadapi sangat beragam. Lebih banyak perempuan daripada laki-laki. Ada beberapa lulusan pesantren, sebagian besar lainnya adalah baru sekarang mendapat pelajaran Bahasa Arab. Ada juga mahasiswa Hindu dan Kristen. Berikut saya sampaikan beberapa penilaian mereka tentang perkuliahan Bahasa Arab.

 

Dalam mempelajari bahasa Arab sangat menyenangkan, penyampaian materi jelas dan tidak banyak penugasan.  Selain itu dalam mempelajari bahasa arab tidak begitu sulit karena pada materi-materi tertentu sudah dikombinasikan dengan nyanyian-nyanyian yang menyangkut materi yang diajarkan. DU, 20151020xxxx.

 

Pengalaman saya belajar bahasa Arab sangat menyenangkan. Menantang. Karena sebelumnya sama sekali belum pernah mendalami bahasa Arab. Metode pengajaran juga berbeda dari dosen lain. RR, 20151020xxxx.

 

Selama mengikuti mata kuliah Bahasa Arab sangat menyenangkan ketika menghafal katakata dengan bernyanyi. Belajar bahasa Arab jadi mengerti dan paham cara pengucapan, artinya dan banyak sekali manfaatnya. Sangat menyenangkan sekali belajar Bahasa Arab. GDR, 20151020xxxx.

 

Alhamdulillah hingga saat ini saya belajar bahasa arab saya suka karena bahasa yang dimengerti.  Walau tidak semua tahu artinya, tapi sangat menyenangkan dan dapat menghibur. Di setiap mata kuliah yang diajarkan pasti ada yang bisa untuk tertawa, tapi kami jadi memahami. PIK, 20151020xxxx.

 

Model pembelajaran Bahasa Arab yang sangat menyenangkan, seru, tidak membosankan. Penyampaiannya materi sangat mudah sekali dipahami dan dimengerti. Walaupun kadang jam jam ngantuk, tapi menjadikan mahasiswa-mahasiswinya jadi tidak ngantuk kalau Bu Lina yang mengajar dengan suaranya yang sangat merdu 😍. OS, 20151020xxxx.

 

Saya sangat senang sekali belajar bahasa Arab. Saya sedikit mengerti istilah-istilah bahasa Arab yang sudah diajarkan di kelas. Menambah pengalaman. Metode pembelajaran sangat berbeda dengan pembelajaran lainnya😻 FEF, 20151020xxxx

 

Banyak cara – cara belajar yang baru yakni bernyanyi saat menghafal bahasa Arab. Dan tidak ada tugas yang memberatkan mahasiswanya. Selain itu bahasa Arab juga penting untuk bekal kita nanti dalam menghadapi masa depan. DL, 20151020xxxx

 

Bahasa Arab Asyik. Selama saya sekolah baru, kali ini mendapatkan pelajaran bahasa Arab. Menurut saya bahasa arab itu menyenangkan karena yang ngajar Bu Lina. Di sela-sela pelajaran pasti ada menyanyi, jadi tidak spaneng saat mengikuti pelajaran. Menurut saya pelajaran bahasa Arab itu menyenangkan karena bisa mengetahui fa’il dan fi’il. Pokoknya asyik. DSN, 20151020xxxx

 

Manfaat mempelajari bahasa arab untuk perawat. Pengalaman belajar bahasa Arab di semester 5 ini sangat menambah pengetahuan saya dalam berbahasa Arab. Awalnya sama sekali tidak bisa dan susah dimengerti, tetapi pada akhirnya saya mengerti sedikit dan bisa bermanfaat untuk mahasiswa yang ingin bekerja di daerah timur seperti Arab Saudi. Bahasa arab itu biasanya hanya didapatkan di universitas tertentu. Jadi saya bersyukur bisa mendapat bahasa arab. Belum tentu teman saya mendapatkannya di kampus mereka. SA, 20151020xxxx

 

Niatkan belajar bahasa arab. Bahasa arab itu jengkel-jengkel menyenangkan. Karena ada gregetnya. Dan tiba-tiba disuruh mengerjakan, yang selesai duluan pulang, sangat membuat greget. Namun dengan bernyanyi bisa lebih dipahami. Menurut saya harus menyenangi dahulu, baru kita akan paham. NK, 20151020xxxx.

 

Bahasa Arab menurut saya menyenangkan dan menggembirakan. Kenapa? Karena perawat tidak cuma belajar bahasa Indonesia dan Inggris, tetapi kita juga bisa berbahasa Arab. Meskipun agak susah untuk dipelajari dalam waktu yang singkat, setidaknya kita harus tetap semangat belajar. Intinya bahasa arab itu penting karena kita bisa paham arti yang ada di Al-Qur’an. Sebelum ajal menjemput kita masih bisa belajar untuk lebih sempurna. AK, 20151020xxxx.

 

‪Bahasa Arab menyenangkan tapi terkadang membosankan. Seharusnya bahasa arab dikaitkan dengan bahasa medis atau bahasa yang ada di kesehatan, agar mahasiswa lebih tertarik. Hari ini saya merasa bosan belajar bahasa arab. +62 856-47xx-xxxx.

Bahasa Arab buat saya kadang menyenangkan, tapi lebih banyak membosankannya. Tapi saya seneng dengan bu lina yang ceria🙏 NPA, mahasiswa Hindu,20151020xxxx.

 

Pengalaman saya dalam bahasa Arab, sebelumnya saya sangatlah berterima kasih kepada dosen pengampu bahasa Arab beserta seluruh teamnya karena telah mengajarkan kami bahasa Arab. Walau tidak sepenuhnya kami menguasainya, tapi setidaknya kami telah dibukakan pikiran kami tentang belajar bahasa Arab. Memang susah dan sulit bagiku untuk belajar bahasa Arab karena bahasa Arab adalah sesuatu yang baru bagiku, tetapi aku menganggapnya adalah sebuah tantangan yang harus aku hadapi dan aku slalu berpikir bahwa tantangan adalah kunci menuju kesuksesan. AX, mahasiswa Kristen asal Timor Leste,  20151020xxxx.

 

Pelajaran apakah yang bisa kita ambil? Ya, mengenalkan Bahasa Arab itu sangat bertahap. Ada banyak jalan yang bisa kita tempuh. Di kelas, selalu memiliki keragaman, maka bagi guru, pendidik, dosen, mustilah berjiwa besar menghadapi mereka semua. Kita bertanggung jawab mengajak mereka semua untuk fun dan mengerti materi yang diajarkan. Tentu tidak sekali jalan sampai. Panjang, berliku dan berkelok-kelok. Bawalah kebahagiaan kita ke dalam kelas dan alirkan semangatnya kepada para siswa.

 

Apapun perkuliahan yang sedang kita sampaikan, ingatlah pesan Arthur Hauxley berikut.

Manusia tidak akan pernah hidup dalam keadaan damai, sampai kita mengatasi kebuasan yang ada dalam diri kita masing-masing.

 

Ada capaian materi percakapan Bahasa Arab yang harus dikuasai oleh mahasiswa perawat, namun jangan lupa bahagia. Jangan lupa damai. Mengajar bukan semata untuk selembar rupiah, namun lebih untuk berbagi kebahagian memandang semesta. Wajar bila mahasiswa bosan dengan rutinitas kuliah yang padat, kita dosen inilah yang mempunyai tugas membahagiakannya. Maklumlah mereka harus kuliah setiap hari, pagi, siang, sore, malam. Bisa difahami bila rasa bosan kadang menghinggapi. Menyiapkan pribadi seperti pribadi Bu Dokter tadi malam, sangat urgen dan strategis. Menyampaikan materi plus menhilangkan rasa bosan, itu satu paket dalam pembelajaran. Rasa bosan adalah satu-satunya penyebab utama dari kemerosotan hasil kerja manusia (Edward Thomdrike).

Itu pula sebabnya perlu dilakukan inovasi pembelajaran Bahasa Arab. Menyiapkan ahli sastra tentu berbeda programnya dengan menyiapkan ahli doa. Beda pula dengan menyiapkan perawat mampu berbicara dengan pasien berbahasa Arab. Bukan kerja satu dua hari saja. Elizabeth B. Browning berkata, “Jangan menilai seseorang sebelum pekerjaannya selesai.” []

 

Yogyakarta, 12 April 2018

 

#SavePerempuanSehat

 

 

Allah Maha Suci dari Kelemahan dan Kekurangan

 

 

Allah Maha Suci dari Kelemahan dan Kekurangan

Oleh: Sri Lestari Linawati

 

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

 

Satu pelajaran penting yang saya dapatkan hari ini adalah makna lebih jauh tentang arti “subhanallah”. Ternyata artinya tidak sekadar berhenti pada ucapan “Maha Suci Allah”. Dr. Okrizal menyampaikan bahwa” Maha Suci Allah” ini untuk menanamkan keimanan yang bersih.

 

Apakah keimanan yang bersih itu? Yaitu meyakini bahwa Allah Maha Suci dari kelemahan, dari kekurangan. Ini penting untuk diyakini. Jadi, meskipun orang memvonis “Anda miskin, nggak bakalan bisa pergi (ibadah) haji”.  Dalam pandangan umum, tanah orang ini yang hanya sepetak dan tidak memiliki akses jalan, tidak akan ada orang yang membeli, tidak akan laku. Ternyata, di luar dugaan banyak orang, tanah orang tersebut dibeli untuk didirikan tower. Jadilah dia mampu menunaikan ibadah haji. Dari fenomena ini, kita bisa belajar pentingnya sebuah keyakinan. Tetaplah miliki keyakinan bahwa suatu saat Anda mampu menunaikan ibadah haji, atas kehendak Allah.

 

Bisa juga manusia (dokter) memvonis, “Anda nggak mungkin sembuh, ini penyakit langka.” Kita mungkin shock mendengarnya, ini sangat wajar dialami manusia. Iman kita mengajarkan untuk meyakini “kemahaan Allah”. Sungguh Allah Maha Suci dari Kelemahan, kekurangan. Iman kita mengajak kita untuk meyakini bahwa kesembuhan itu dari Allah, maka kita dianjurkan untuk memohon dan meminta kepada Allah. Kekuasaan Allah memungkinkan segala hal terjadi, meskipun tidak mungkin dalam logika kita.

 

Mungkin juga seorang perempuan divonis tidak akan punya anak karena mandul. Ada seseorang yang di usia pernikahannya ke-24 akhirnya memiliki anak. Di Brazil, ada perempuan usia 68 th, melahirkan anak pertama. Maha Suci Allah. Inilah kekuatan Allah. Bulik saya sendiri juga pernah divonis senada itu, “Tidak akan bisa punya anak lagi (karena anak pertama meninggal). Bisa punya anak, asal tidak kerja”.

 

Bagaimana mungkin seorang petani tidak kerja? Makan apa? Akhirnya pasangan Bulik-Paklik (kini keduanya sudah almarhum, semoga Allah terima semua amal ibadahnya) memilih pasrah tidak memiliki anak. Suatu ketika, Allah menghendakinya punya anak. Jadilah usia di atas 40 tahun melahirkan anak pertama. Beberapa tahun kemudian lahirlah anak kedua dan ketiga, yang semuanya laki-laki. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi dalam analisa medis. Inilah the power of “Subhanallah”, kekuatan “Maha Suci Allah”.

 

Maha Suci Allah, Allah Suci dari kelemahan dan kekurangan. Artinya, Allah sanggup melakukan sesuatu yang tidak mungkin menurut logika manusia.  Allah sanggup menyembuhkan penyakit yang menurut manusia (dokter) tidak mungkin sembuh.  Allah pun sanggup menjadikan kaya dalam sekejap dan bisa juga memiskinkan dalam hitungan detik. Oleh karena itu jangan pernah sekali-kali kita merasa telah berada di zona aman.  Jangan bangga dengan kekuasaan kita saat ini. Allah sungguh Maha Berkehendak.

 

Dengan meyakini Allah Maha Suci, mengajarkan kita untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah. Berdoa, memohon dan terus ikhtiar dengan sabar dan shalat perlu dilakukan secara terus-menerus. Tidak kenal lelah menjalankan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya. Tak mudah memang, namun yakinlah Allah dekat, Maha Mengabulkan Doa. Tuhan kita adalah Allah, bukan yang lain. []

 

Nogotirto, 7 April 2018

 

 

 

Bahasa Arab dan Keindahan Al-Quran

Bahasa Arab dan Keindahan Al-Quran

 

Oleh: Sri Lestari Linawati

 

“Allah swt mewahyukan Al-Quran dalam 23 tahun, setara masa belajar formal (TK 2 tahun, SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, S1 4 tahun, S2 2 tahun dan S3 3 tahun)”. Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag.

“Rasakanlah keagungan Al-Quran sebelum engkau menyentuhnya dengan nalarmu.” (Muhammad Abduh)

 

Para walisantri tampak sudah memenuhi ruangan saat saya masuk. Ya, tadi saya harus menemui kedua buah hati kami terlebih dahulu. Saat duduk di forum pertemuan walisantri SMA Pondok Pesantren tersebut, seorang ibu menyapa, “Putranipun kelas pinten?” (Putranya kelas berapa?) Saya jawab, “Kalih welas” (Dua belas). Beliau bertanya lagi, “Ibu sinten?” (Nama Ibu siapa?). Saya jawab, “Lina”. Spontan beliau berkata dengan tersenyum seakan sudah kenal lama dan kembali menjabat erat tanganku, “O ibu yang sering menulis itu.. Maaf, saya tidak bisa menulis”.

 

Apa yang ingin saya bagikan dari cerita di atas? Pertama, hikmah menulis itu diantaranya menjalin silaturrahmi. Dalam forum pertemuan, waktunya terbatas, sehingga sangat tidak memungkinkan untuk bisa saling mengenal satu sama lain secara mendalam. Yang kita kenal hanya nama dan orang tua dari santri siapa. Lainnya, asalnya dari mana, kalau pulang naik apa, sudah. Padahal anak kita berinteraksi dengan teman-temannya, saat liburan adakalanya bermain ke rumah salah satu teman, dan kelak akan studi lanjut ke kota atau negara lain. Artinya? Kita orang tua perlu memastikan bahwa anak kita aman, baik-baik saja. Saya kira, inilah perlunya silaturrahim yang lebih jauh antarorangtua santri.

 

Kedua, menulis itu adalah wujud cinta dan kepedulian. Di grup WA walisantri, seringkali saya lihat orang tua posting tulisan-tulisan dari berbagai sumber. Dicopas. Panjaaang sekali. Isinya adalah dakwah, seruan moral. Bagus-bagus saja. Bukankah kita musti saling mengingatkan menuju kebaikan? Bukankah mengaji itu harus setiap detik, setiap hari? Sebagian orang tua lainnya, mengamini, ada yang komen, ada juga yang membaca saja. Sah saja. Pertanyaannya adalah, apakah hubungan kita akan tetap semacam ini yang hendak kita rawat? Saya yakin kita semua menjawab serempak, “Tidak”.

 

Ketiga, masalahnya adalah menulis. Menulis menjadi semacam momok. Menulis seakan hantu yang membayang-bayangi langkah. Menulis seakan hanya kerjaan yang bisa dilakukan oleh para professional. Menulis seakan sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh anak sekolahan. Padahal faktanya, setiap orang tua santri memegang gadget dan terbiasa menulis whatsapp. Artinya? Saya yakin para ibu dan para bapak orang tua santri bisa menulis.

 

Keempat, menulislah sejak sekarang. Dimulai dari satu paragraf. Besok, menulis satu paragraf. Besok lagi, satu paragraf lagi.  Bukankah apa yang kita harapkan itu adalah doa? Bukankah Allah mengabulkan doa hambaNya bila hambanya itu melantunkan doa? “Siapa membawa kebaikan, maka dia memperoleh balasan yang lebih baik daripadanya, sedang mereka merasa aman dari kejutan (yang dahsyat) pada hari itu” (An-Naml: 89). Ibu, Bapak, artinya, nggak perlu takut tulisan kita jelek. STOP! Mari belajar menghargai diri sendiri. Mari belajar berfikir positif memandang diri pribadi. Mari kita lihat diri kita sebagai pelaku perubahan peradaban bangsa ini. Agents of change.

 

Kelima, ini adalah pengingat bagi diri saya sendiri yang sedang mendampingi putra kami liburan di rumah. Membangun komunikasi dengan buah hati kami yang santri, sungguh hal yang perlu perjuangan. Semoga ini menjadi bagian dari ikhtiar kami menguatkan arah, orientasi gerakan dan teknik strategi survive di pondok pesantren. KepadaNya kami semua ‘kan kembali. Nashrun minallah wa fathun qarib.

 

Pagi Hujan di Yogyakarta, 27 Maret 2018

 

 

Allah Mengerti Bahasa Jawa

Allah Mengerti Bahasa Jawa

Oleh: Sri Lestari Linawati

 

Suatu hari, saya diminta tetangga sebelah untuk membaca Kalam Ilahi di acara Ngundhuh Mantu putranya. Sebagai seorang muslim, tentu saja saya usahakan memenuhi permintaannya, Sebenarnya, saat begini saya merasa menyesal. Mbok yao dulu saya lebih serius mempelajari qira’ah. Eit, berfikir positif dong.. Oya, kesadaran itu harusnya memotivasi kita untuk menggairahkan kegiatan mengaji di berbagai sudut kampung. Gembirakan jamaah dengan berbagai softskill kegiatan Al-Qur’an.

 

Menggembirakan jamaah itu tidak cukup dengan kegiatan Taman Pendidikan Al-Qur’an seminggu dua kali mengentaskan bacaan Al-Qur’an. Sebaliknya, ada banyak softskill kegiatan Al-Qur’an lainnya yang perlu juga dikembangkan, dilatihkan, misalnya hafalan juz ‘amma, lagu-lagu Qur’ani, cerdas-cermat Al-Qur’an, qira’ah, tafhimul Qur’an, dan masih banyak lagi.

 

Baiklah, kita kembali ke permintaan tetangga saya untuk membaca Kalam Ilahi. Masyarakat tempat tinggal kami adalah masyarakat yang percakapannya sehari-hari menggunakan Bahasa Jawa. Saya ingat Surat Ibrahim (14): 4 Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

 

 

“Dengan Bahasa kaumnya” bisa kita fahami bahwa setiap kaum berhak mengerti isi Al-Quran dan Allah Maha Mengetahui setiap Bahasa yang dilantunkan hambanya. Dalam teori pendekatan masyarakat dikenal dengan istilah pendekatan kultural. Dari itu, saya terinspirasi menyampaikan terjemahnya dalam Bahasa Jawa. Saya membacakan surat Ar-Rum (30) ayat 20-22.

 

Kawulo nyuwun reksa dhumateng Allah saking panggodhaning syetan ingkang kabendhu.

(Ini terjemah Bahasa Indonesianya, namun tidak sayabaca.. “Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk”).

 

Kanthi nyebat asma dalem Gusti Allah ingkang Maha Welas, Maha Asih. (Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang).

 

Lan saka sawenehe ayat tandha yekti  kasampurnaning KakuwasaNe Allah yaiku panjenengaNe wus nitahake sira kabeh saka lemah, banjur ing wektu iku sira kabeh dadi manungsa kang sumebar anguwasani ana ing salumahing bumi.

(Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.)

 

Lan saka sawenehe ayat tandha yekti  kasampurnaning KakuwasaNe Allah yaiku panjenengaNe wus nitahake tumrap sira kabeh pirang-pirang jodho soko jenis awakira, supaya sira padha tentrem kalawan dheweke, lan PanjenengaNe andamel kasenengan lan asih ana ing antaranira lanang lan bojone. Sanyata kang mangkono iku temen dadi ayat tandha yekti tumrap wong kang padha gelem mikir-mikir.

(Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.)

 

Lan saka sawenehe ayat tandha yekti  kasampurnaning KakuwasaNe Allah yaiku tumitahing Langit-langit lan Bumi, sarta beda-bedaning basanira, lan warnaning kulit ira. Sanyata kang mangkono iku temen dadi Ayat tandha yekti tumrap kabeh wong kang mangerti.

(Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.)

 

Maha leres Allah kanthi sedoyo firmanipun.

(Maha Benar Allah dengan segala firmanNya).

 

Lega bila telah menjalankan amanah yang diberikan. Semoga membawa manfaat bagi pemahaman Islam yang lebih sempurna di masyarakat. Ke depan, semoga tergarap upaya menggiatkan TPA kampung dengan kegiatan softskill Al-Qur’an.

 

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. (Peribahasa Indonesia)

Al-Quran adalah pengantin wanita yang menyembunyikan wajahnya . Bila engkau membuka cadarnya dan tidak mendapatkan kebahagiaan, itu karena caramu membuka cadar  telah menipu dirimu sendiri. Apabila engkau mencari kebaikan darinya, ia akan menunjukkan wajahnya, tanpa perlu kau buka cadarnya.” (Jalaludin Rumi)

Ayat Al-Quran itu seperti buah kurma. Setiap kali kamu mengunyahnya, rasa manisnya akan terasa” (Basyar bin Sura)

 

Yogyakarta, 26 Maret 2018

 

 

Outbound Propemka Gelombang 5

OUTBOUND PROPEMKA GELOMBANG 5

 

Outbound Propemka Gelombang 5 dilaksanakan Sabtu, 3 Februari 2018. Maaf baru sempat posting. Outbound ini diikuti 144 peserta yang dibagi dalam 6 kelompok permainan. Berlangsung meriah di halaman parkir gedung B sayap selatan. Berikut ini beberapa komentar peserta.

 

PELAJARAN PENTING BAGIKU, BAGIMU DAN BAGI KITA SEMUA

Oleh: Edi Fajar Alidarma Wijaya, asal Lombok NTB, Prodi Manajemen

 

Kami dari kelompok  empat memiliki banyak pengalaman dan pembelajaran yang sangat berkesan dan bermakna dalam permainan. Contohnya dalam permainan Ball Tossing, kami sangat terlatih dalam hal kefokusan, dalam berfikir dan menerima instruksi dari rekan atau pemimpin kami.

Di permainan Birthday Line Up, sangat sarat makna. Terutama dalam insting kita sebagai ketua ataupun anggota dalam sebuah organisasi dan inisiatif dalam mencari informasi.

Dan yang terakhir, permainan Blind Train. Saya terutama, yang menjadi masinis atau otak dari permainan, sangat banyak mendapatkan pembelajaran dalam permainan ini. Pertama, saya mendapatkan pelajaran sebagai seorang pemimpin itu harus memiliki kesabaran yang ekstra karena kadang anggota sangat sering membuat kita emosi. Kedua, keberanian dan ketepatan dalam mengambil keputusan untuk kebaikan bersama dan toleransi dalam menghargai pendapat anggota dan pemimpin.

 

KOMUNIKASI DAN PEMIMPIN

Oleh: Havis, kelompok 5

 

Banyak pelajaran yang dapat kami ambil. Permainan Birthday Line Up mengajarkan untuk berani berpendapat dan berkomunikasi dengan tenang. Permainan Blind Train mengajarkan bahwa majunya organisasi tergantung pemimpinnya. Permainan Ball Tossing mengajarkan kerjasama, kompak dan menghargai pendapat orang lain.

 

DINAMIKA KELOMPOK

Oleh: Ayu Nuraini, Bioteknologi, Kelompok 1

 

Dari ketiga permainan yang telah dilakukan, dapat diambil pelajaran pentingnya saling kenal. Pemimpin dalam permainan kami belum dapat memaksimalkan perhatiannya karena belum mengenal bawahannya. Pemimpin tidak memiliki tujuan yang sama dan belum dapat memberi arahan yang dapat benar-benar dimengerti oleh bawahannya. Dampaknya, kekompakan kurang dan strategi dalam permainan ini juga belum dapat dimengerti dengan mudah.

 

Bawahan dalam permainan ini juga masih banyak yang tidak mengerti aturan dalam permainan, sehingga banyak melakukan kesalahan. Setelah diskusi antara bawahan dan pemimpin, permainan dapat berkembang dalam menjalani aturan permainan. Bawahan juga masih banyak yang belum bisa menahan diri untuk menahan tawa dan tanpa sengaja mengeluarkan suara saat saling membantu.

 

BELAJAR JADI PEMIMPIN

Oleh: Azfar Mufid Abdullah, Bioteknologi, Kelompok 2

Permainan ini menarik. Yang bisa saya pelajari, ternyata susah menjadi pemimpin karena tidak semua anggota bisa diatur. Banyak terjadi salah komunikasi antaranggota, instruksi saya kadang tidak dikerjakan oleh anggota.

Saya bisa mengambil pelajaran bahwa menjadi pemimpin itu harus benar-benar menguasai medan dan menguasai anggotanya agar tujuan tercapai, atau visi misi kelompok bisa tertuju.

Pelajaran pada permainan Birthday Line Up adalah kekompakan, kerjasama dan strategi.  Pelajaran permainan Blind Train adalah saling percaya antaranggota kelompok, koordinasi, konsentrasi dan kekompakan. Pelajaran pada permainan Ball Tossing adalah saling mengenal antaranggota kelompok, kekompakan, dan konsentrasi.

 

PERMAINAN YANG MENARIK

Puji Khuwata, Administrasi Publik, Kelompok 3

 

Apakah kepemimpinan itu? Kepemimpinan yang bisa disimpulkan dalam konteks ini (fun game) adalah suatu kebijakan yang dirumuskan oleh seseorang untuk menghasilkan sebuah kebijakan baru, pemimpin harusnya memberi arahan yang tepat, jelas, padat, dan selalu konsisten dengan apa yang diucapkannya. Pemimpin sangat berpengaruh dalam pergerakan sebuah perkumpulan atau sebuah tim. Karena jika pemimpinnya salah, maka anggota atau timnya akan salah juga.

Bawahan?

Dalam sebuah tim atau kelompok pasti ada yang dinamakan pemimpin dan bawahan. Jika seseorang menjadi bawahan, maka dia harus mendengar dan patuh pada apa yang dikatakan pemimpinnya (dalam hal positif). Jika bawahan tidak patuh dan taat kepada pimpinan, maka sudah bisa disimpulkan suatu tim atau kelompok itu pasti tidak akan berjalan dan pasti akan menjadi kacau.

Jadi kesimpulannya, pemimpin dan bawahan mempunyai tugas masing-masing dan harus tahu apa tugas masing-masing tersebut. Fun game ini sangat membantu kita semua dalam membentuk karakter kita saat kita sebagai bawahan dan saat kita sebagai pemimpin. Menarik sekali game ini. Sukron, jazakumullah khair.

 

 

 

Bahagia dengan permainan ini?
Ayo, lewaaat…
Berani terima tantangan selanjutnya?
Kemana harus melangkah?
Tim Outbound bersama Tim FRESHT

Pesan Taqwa Mengawali Family Gathering UNISA 2018

Pesan Taqwa Mengawali Family Gathering UNISA 2018

Oleh: Sri Lestari Linawati

 

Agenda pertama Family Gathering UNISA adalah wisata religi ke Masjid Agung Jawa Tengah. Khutbah Jumat disampaikan oleh Prof. Rosihan. Beliau menyampaikan pesan taqwa, bahwa yang bisa menyelamatkan kita adalah diri kita sendiri dan amal perbuatan kita.

 

Prof. Rosihan menyampaikan surat Yasin ayat 12 yang artinya “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. “Dengan demikian, ada hubungan antara hidup di dunia dan akhirat nanti,” ulas Prof. Rosihan. Kemudian Hadist Riwayat Bukhari “Sesungguhnya kalian akan menjumpai Allah dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian, berjalan kaki dan belum dikhitan”. Dan ketika manusia dikumpulkan di padang Mahsyar, matahari didekatkan sejauh satu mil (1,6 km), sehingga manusia berkeringat, hingga keringat tersebut menenggelamkan mereka sesuai dengan amalan masing-masing ketika di dunia.

 

Namun demikian, ada perbuatan yang menyejukkan. Menurut hadist riwayat Abu Hurairah, “Ada tujuh perkara yang mampu menurunkan suhu di hari akhirat, yaitu:  1. Pemimpin/ penguasa yang adil untuk menjaga agama dan kesejahteraan agama, 2. Orangtua yang memperhatikan pendidikan anak-anaknya, agar senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, 3. Remaja yang terbiasa menghadiri masjid, 4.Orang-orang yang hidupnya, setiap bertemu selalu mendiskusikan kebaikan-kebaikan bagi masyarakat, 5. Orang-orang yang menghindari perbuatan tercela, 6. Orang-orang yang bersedekah dengan tulus, dan 7. Orang-orang yang taat kepada Allah, Rasul dan pemimpinnya.

 

Setelah makan siang di ruang perpustakaan Masjid Agung, perjalanan dilanjutkan ke Water Blaster. Ada berbagai wahana permainan air, seperti Bendulan, Blaster Warior, Jungle Tree, Great Wall, Slider, Slide Race, Family Slide, Beach, dan Wavepool yang layak dimainkan oleh anak-anak maupun dewasa. Wavepool adalah wahana air yang memunculkan efek ombak dari tepi kolam, sehingga pengunjung yang bermain air akan merasakan sensasi dorongan ombak. Sayangnya sensasi ombak baru keluar pada jam 16.30, sehingga pengunjung merasa terlalu singkat saat harus pulang jam 17.00. Tampak seorang bapak akhirnya sedikit memaksa sang anak untuk mandi dan melanjutkan perjalanan, namun sang anak enggan dan akhirnya keluar kolam dengan wajah cemberut.

 

Usai makan malam, rombongan diantar menuju Hotel Laras Asri dan Beringin. Setiap peserta Family Gathering dimanjakan dengan layanan hotel. Mungkin, panitia mengajak kami semua mengingat keindahan surgaNya kelak. Salah satu gambaran surga adalah Al-Quran surat Al-Kahfi ayat 30-31 “Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal shalih, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalannya dengan baik. Bagi mereka surga Adn, yaitu mengalir sungai-sungai di bawahnya, dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya dan tempat istirahat yang indah”.

 

Hari kedua, kami diajak ke Kampoeng Kopi Banaran, wisata agro di areal perkebunan kopi kebun Getas Afedlling Assinan yang terletak di Jl. Raya Semarang-Solo km 35 dengan ketinggian 480-600 m dpl dengan suhu udara sejuk antara 23-27 derajat Celcius. Kami akan diajak naik kereta wisata mengelilingi kebun kopi. Peserta Family Gathering UNISA 2018 ini sejumlah 500 orang, sehingga kami harus antri. Pak suami memilih duduk di pinggir kolam menikmati gigitan ikan-ikan kecil. Saya, mas Adi dan istri, Bu Dewinta dan Bu Loan memilih menikmati flying fox. Pak suami menikmati flying fox berikutnya, bersama Pak Amir dan istri, Mbak Umi. Ternyata kereta masih antri, maka pak suami mengajak mendaki bukit. Aha.. mengingatkanku pada rumah masa kecilku. Ibuku harus naik turun bukit untuk mengambil air yang ada di bawah, selama 13 tahun.

 

Bermain di Kampoeng Kopi Banaran, mengajak kita merenungkan ayat 60 surat An-Naml. Artinya “Bukankah Dia Allah yang menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air dari langit untukmu, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah? Kamu tidak akan mampu menumbuhkan pohon-pohonnya. Apakah di samping Allah ada tuhan yang lain? Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran.” Ya, kebun kopi itu sangat indahnya. Allahlah yang menurunkan air dari langit dan membuat kebun itu memiliki pemandangan yang indah. Menikmati desir angin sepanjang jalur flying fox sungguh sebuah anugerah Allah yang patut disyukuri.

 

Jam 11.00 kami diminta kumpul di aula untuk Gatrehing Unisa sambil menikmati makan siang. Rektor UNISA, Bu Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat., menyampaikan sambutannya. Beliau menyampaikan terima kasih atas kesediaan seluruh peserta dalam Family Gathering kali ini. Acara ini dimaksudkan mempererat hubungan dan komunikasi. Dengan banyaknya peserta yang ikut kali ini, mengajarkan kita untuk bersabar. Perkenalan dari masing-masing prodi/unit diwarnai iringan lagu dan pembagian doorprize.

 

Acara dilanjutkan ke tahubaxo Bu Pudji dan Cimori. Hujan deras setiba di Cimori, tak menyurutkan langkah peserta mengunjungi wisata susu ini. Anak-anak tentu sangat menyukai. Makan malam di RM Bintangan mengakhiri kunjungan kami. Jam 21.00 bus kami tiba di kampus UNISA. Alhamdulillah, semoga pertemuan ini dapat meningkatkan kebersamaan dan kinerja kita membangun UNISA. Semoga Allah meridhai setiap upaya dan ikhtiar kita, amin.[]

 

#UnisaGathering2018

Bu Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat., Rektor UNISA, sejenak bersama di depan Hotel Laras Asri
Pak Eko Angga, suami Mbak Endri Wijiyanti (Akademik) bersama rombongan bus 2
Suasana jalan depan Cimory saat 10 bus UNISA parkir
Wah… Perpustakaan “Cheng Ho” tutup. Hanya bisa melihat buku dari kaca jendela.
Persembahan lagu dari Bu Umu, Bu Ismar dan Pak Khozin
Asyiknya flying fox.. dimulai dengan mencium aroma durian pohon pendek.

#BanggaMenjadiUNISA

PERSEPSI DALAM MEMPELAJARI BAHASA ARAB

PERSEPSI DALAM MEMPELAJARI BAHASA ARAB

 

OLEH: SRI LESTARI LINAWATI

 

Bicara karakter,  SPN Pusat telah menerbitkan “Pendidikan Karakter: Hidup dengan Energi Positif, Menjadi Pribadi yang Lebih Baik”. Bicara fenomena alam dan basis konstruksi ilmu pengetahuan, telah tersaji buku “Ayat-Ayat Semesta” dan “Nalar Ayat-Ayat Semesta”. Bicara fa’al tubuh manusia dan schellong test, Dr. dr. H. Zaenal Muttaqien Sofro, AIFM, Sports & Circulatory Med dengan lugas dan gamblang menjelaskan secara medis.

 

Kok bisa menjadi bunga sedemikian indah? Muaranya adalah Alquran. Dari mana memulainya? Mempelajari Bahasa Arab. Wah.. sulit dong.. Eiiit, jangan buru-buru bilang sulit. Bukankah sejak kecil Anda telah belajar Bahasa Arab? Ah, masak iya sih?

 

Hla itu berdoa.. Mau tidur baca doa “Allahumma ahya wabismika amut..” Bangun tidur, masuk kamar mandi, keluar kamar mandi, memakai baju, wudlu, shalat, shalawatan di mushalla, dan masih banyak lagi. Bener nggak? Di surau, langgar, mushalla, masjid kita belajar “a, ba, ta..”, hingga “idzhar, ikhfa’, idgham, iqlab”.

 

Juga ketika kita membaca Alquran. Kita menghafalkan itu hakikatnya senam mulut, menjaga agar lisan kita tetap lancar melafadzkannya. Soal berapa pahalanya berapa, yakin deh Malaikat mencatat tanpa salah.

 

Ketika kita mulai membaca terjemahnya, secara pelahan kita coba memahami arti kata perkata. Subhanallah memiliki arti “subhana” Maha Suci, “Allah” Allah. Subhanallah artinya Maha Suci Allah. Terbuka peluang bagi kita untuk membacanya sejak halaman pertama hingga terakhir Kitab Suci Alquran.

 

Pembacaan selanjutnya akan mengantarkan kita pada pemahaman yang lebih menyeluruh. Membawa kita pada konsep hidup dan kehidupan yang saling terkait antara satu komponen dengan komponen hidup lainnya. Asal kejadian manusia dan titik akhir kembali pada Sang Pencipta menjadi satu kesatuan utuh yang patut dipahami.

Profesi kita menuntut terbacanya Quran. Bukankah kita telah meyakininya sebagai way of live? Bagaimana mungkin Quran hadir sebagai penuntun hidup, bila membacanya saja bila sempat, kadang-kadang, seminggu sekali saat yasinan malam jumat, atau bahkan sudah kehabisan waktu? Sobat, yuk pastikan diri “wajib setiap hari baca quran minimal 5 menit” bila ingin selamat di dunia dan akhirat.

 

Jadi profesi apa yang perlu belajar Bahasa Arab? []

 

Membaca-Menulis itu Satu Paket

Membaca-Menulis itu Satu Paket

Oleh: Sri Lestari Linawati

 

Saya merasakan bagaimana Allah menunjukkan kebesaranNya, kekuasaanNya, adaNya. Kemarin sore sempat sedih karena di waktu yang telah direncanakan sedemikian rupa, masih saja belum bisa telpon Ibu. Baru saja beliau turun dari mobil dan bergegas pulang. Kakak perempuan saya pun segera melaju menuju rumahnya. Hujan deras. Ibu dan kakak baru saja takziyah Mbah Suli, adiknya Simbah kami, di Ambulu, Jember.

 

Sepulang kampus dan meletakkan buku-buku di rumah, segera saya menuju tempat kerja suami. Mau numpang merampungkan tugas. Sekadar mencari kesibukan, agar tidak terlalu larut dalam kesedihan.

 

Subhanallah wal hamdulillah. Bertemu Pak Lasa Hs. Beliau istimewa. Mantan Kepala Perpustakaan UGM yang kini menjadi Kepala Perpustakaan UMY ini, selalu menyempatkan berbincang dengan siapapun pecinta buku. Dan yang lebih luar biasa dari sosok Alumni Sastra Arab Gadjah Mada ini adalah semangatnya untuk mengajak setiap orang untuk membaca dan menulis. Membaca-menulis itu satu paket.

 

Sebelum pulang, beliau berkenan membacakan pantun yang ditulisnya. Adeeem mendengarnya. Inilah pantun beliau. Bila saya yang membacakannya, akankah mampu sebagaimana Pak Lasa membacanya? Menarik untuk dicoba.

 

Ke Borobudur beli kaca

Ke Pati beli manggis

Jangan tidur sebelum membaca

Jangan mati sebelum menulis

 

Beli barang ke Bengkalis

Beli apel ke kota Batu

Ilmuwan yang tidak menulis

Ibarat burung bersayap satu

 

Beli bakwan laris manis

Beli sarung ke Mangga Dua

Ilmuwan yang menulis

Ibarat burung bersayap dua

 

Naik mobil susah parkir

Jalan kaki susah menyeberang

Bila tidak ingin tersingkir

Tulislah buku sejak sekarang

 

Beli tiket tak perlu ke stasiun

Angkat jempol dan jari

Bila tidak ingin  pensiun

Menulislah sejak kini

 

Jalan-jalan seputar Jatijajar

Lihat pantai, indah panoramanya

Jangan bangga gelar berjajar

Tidak menulis, kurang manfaatnya.

 

Kota Solo kota Bengawan

Air terjun di Tawangmangu

Banyak bunga berwarna ungu

Wahai intelektual ilmuwan

Tulislah buku mumpung ada waktu

Meski satu,  semasa hidupmu.

                                                      

Akhirnya, malam pun saya bisa pulang dengan senyum dan menyimpan semangat. Semangat membaca, semangat menulis, semangat kerinduan pada Ibunda, semangat kerinduan pada Kasih Pencipta. Masyaallah. Alhamdulillah.[]