Skip to main content

Geng Pelajar dalam Tinjauan Psikologi, Pendidikan dan Keluarga

 

Sri Lestari Linawati

 

 

Berbahagia diundang hadir dalam seminar “Peran Muhammadiyah dalam Mensikapi Fenomena Klitih” yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bantul. Mungkin ini efek dari menulis. Kebetulan 15 Januari lalu saya menulis “Dukung Sultan Perhatikan Keluarga Tangani Klithih”.

 

Ketika membaca para pelaku klithih adalah anak-anak remaja usia belasan tahun, usia SMP SMA, spontan hati ini serasa teriris. Saya juga memiliki anak-anak usia SMP SMA. Setiap orang tua pasti ikut tersentak dan sedih melihat fenomena ini.

 

Tersentak juga ketika membaca di berbagai grup whatsapp (grup jamaah whatsappiyah nih ye..) tentang informasi geng klitih. Disebutkan dalam informasi tersebut nama sekolah, alamat sekolah, nama geng, tempat berkumpulnya, juga musuh mereka. Mereka adalah para pelajar di SMA Negeri, SMA Muhammadiyah, SMA swasta lainnya, SMP Negeri, SMP Muhammadiyah, SMP swasta lainnya.

 

Sebagai pembaca yang bijak, pada kita dituntunkan melihat sejauh mana kebenaran berita tersebut. Lebih dari itu, kita perlu melakukan refleksi terhadap fenomena tersebut, menganalisis, kemudian menyusun agenda-agenda strategis untuk pencegahannya dan upaya solutifnya. Itulah sebabnya saya segera mengambil sikap mendukung upaya Sultan untuk membentuk pokja dan mewujudkan ketahanan keluarga.

 

Sekolah Muhammadiyah memang tidak sepenuhnya harus menanggung penderitaan ini. Keluarga, lingkungan dan masyarakat juga musti turut andil mengatasinya, melakukan upaya-upaya pencegahan. Namun demikian, sekolah memiliki peluang besar menanamkan nilai-nilai akhlak pada diri siswa. Inilah makna bahwa sekolah tidak hanya bertugas transfer of knowledge, namun yang lebih penting lagi adalah transfer of values. Transfer pengetahuan dan transfer nilai.

 

Yang seperti apakah itu? Mari kita kaji bersama..

 

Satu, geng pelajar. Di manakah peran IPM dan OSIS?

Apakah IPM dan OSIS selama ini telah cukup menyediakan kegiatan yang menyibukkan pelajar? Aktivitas pelajar dengan kemampuan, potensi dan minat yang beragam?

 

Dua, sejauh manakah peran guru, karyawan dan segenap keluarga besar sekolah untuk menyiapkan lulusan yang tangguh, bermoral dan berdaya saing?

Siiruu fil ardhi..

 

Tiga, sejauh manakah peran pemerintah dalam menyiapkan kurikulum sekolah yang mencerdaskan para siswa? Sesungguhnya tujuan pendidikan adalah memberikan keyakinan pada setiap siswa bahwa mereka adalah makhluk berharga di muka bumi, tidak sia-sia mereka diciptakan, ada visi misi hidup yang musti mereka jalankan untuk kehidupan ini.

 

Dari tiga poin ini,

Mari kita lihat sekeliling kita.

  1. Sekolah,
  • dalam prosesnya tiap hari, sudahkah secara optimal ‘nguwongke’ setiap komponen sekolah?
  • Apakah program-program sekolah telah dikomunikasikan dengan baik kepada orang tua siswa?
  • Bagaimana sekolah membangun kepercayaan dan kepuasan orang tua dalam menitipkan putra-putrinya di sekolah?
  • Guru dan karyawan perlu difasilitasi untuk studi lanjut dan kembali mengembangkan sekolah.

 

  1. IPM/ OSIS
  • Buatlah program-program yang inovatif, kreatif untuk menyalurkan berbagai bakat dan minat siswa.
  • Program-program pertukaran pelajar perlu digalakkan.
  • Pentas kreativitas sesama pelajar antarsekolah perlu digagas dan dikembangkan.
  1. Pemerintah
  • Perlu memfasilitasi terselenggaranya pendidikan yang baik dan mencerahkan
  • Perlu ‘nguri-uri’ terselenggaranya pengajian-pengajian di masyarakat. Mengapa? Karena pengajian adalah model pendidikan berbasis masyarakat. Di tengah situasi ekonomi yang menghimpit, masyarakat masih merasa perlu untuk belajar yang menyenangkan.

 

Demikianlah ‘jlentrehan’ ketahanan keluarga yang saya fahami. Keluarga musti kita jaga dan rawat bersama. Untuk Indonesia Berkemajuanlah kita semua bergerak membangun bangsa.  Tak semudah membalik telapak tangan memang. Mari niatkan semua ikhtiar kita hanya karena Allah swt. Semoga dengan niat tulus ikhlas, kita mampu meningkatkan kesabaran dan ketaatan kita, sehingga pada saatnya kita dipanggil Allah dalam keadaan husnul khatimah, amin..

 

 

Kanoman Banyuraden, 8 Februari 2020

 

 

Sri Lestari Linawati, S.S., M.S.I. adalah dosen UNISA (Universitas ‘Aisyiyah) Yogyakarta, pegiat literasi, peneliti pada Pusat Studi Anak Usia Dini dan Keluarga Yogyakarta. Buku solo alumni Sastra Arab UGM ini ada dua, yaitu “Menggerakkan Ipmawati” dan “Bahasa Arab di Mata Santri ABG: Studi Persepsi Pembelajaran Bahasa Arab Siswa SMP Ponpes Modern MBS Yogyakarta”. Buku antologi alumni Psikologi Pendidikan Islam Magister Studi Islam UMY ini ada sepuluh. Tiga di antaranya adalah yang baru dilauncingkan 25 Januari 2020 di Seminar Kepenulisan dan Kopdar IV Sahabat Pena Kita di UNISMA Malang, yaitu “Moderasi Beragama”, “Sejuta Alasa Mencintai Indonesia” dan “Guru Pembelajar”. Lina bisa dihubungi di email sllinawati@gmail.com atau no hp/WA 0812.15.7557.86

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *