Skip to main content

Mendidik Anak Shalih

Sore ini adalah pertemuan kedua saya dalam Kajian Ahad Sore Ibu-ibu Pimpinan Ranting Aisyiyah Banyuraden. Materi yang saya sampaikan masih mengulang bacaan surat Al-Ahqaf (46) ayat 15.

 

Hal menarik dari pertemuan satu dan dua, semua peserta antusias mengikuti kajian. Ibu-ibu menirukan bacaan satu persatu. Tentu bagi saya ini adalah hal yang luar biasa. “Banyak ilmu yang saya peroleh,” komentar peserta. Selain memperbaiki bacaan, eh, lebih tepatnya menyempurnakan bacaan, ngaji dua ahad ini menumbuhkan inspirasi manajemen pendidikan di 3 TK ABA yang ada di lingkungan Banyuraden.

 

Ide itu merupakan usulan ibu-ibu. Ini berita bagus. Ini adalah wujud kepedulian ibu-ibu PRA Banyuraden untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran di TK ABA. Tentu saja saya bahagia mendengarnya. Saya telah memimpikannya dua puluh tahun lalu. Pengalaman tujuh belas tahun mengelola BirruNA, mengajarkan pada saya pentingnya keyakinan tauhid dalam memberikan layanan terbaik kepada konsumen. Hanya dengan kekuatan bersama, kerja bersama seluruh kekuatan Aisyiyah Ranting, insyaallah mimpi itu akan menjadi kenyataan.

 

Hal kedua yang menjadi catatan menarik saya adalah ketertarikan ibu-ibu pada materi karena terkait langsung dengan persoalan perempuan dan ibu. Setiap ibu pasti membutuhkan anaknya berbakti pada kedua orang tua. Masalahnya, kebaktian itu tidak serta merta terjadi, melainkan harus diupayakan, dikondisikan. Inilah peran penting pendidikan. Buatlah proses pendidikan itu menyenangkan peserta didik, yang memotivasi, menggembirakan. Insyaallah tanpa dipanggil berkali-kali pun, mereka akan datang dengan sendirinya dan dengan suka-cita.

 

Karena ayat terkait langsung dengan dunia perempuan, maka bacaan menjadi lebih mudah difahami dan dihafalkan. Alhamdulillah.. Selain mengikuti kapasitas memori otak, bacaan ringan ini menjadi lebih mudah pula diamalkan dan dibagikan kepada orang lain. Dengan demikian, hal ini menumbuhkan rasa percaya diri ibu-ibu adanya ilmu yang dimiliki, yang dengan itu ibu-ibu memiliki semangat untuk juga berbagi kepada ibu-ibu lainnya di sekitarnya. Ada pertemuan dasawisma, posyandu, tabo jumantik, pertemuan rutin bulanan RT ibu-ibu, dan masih banyak lagi.

 

“Think globally, act locally” adalah semboyan yang sebaiknya kita terapkan dalam lingkungan kita. Maknanya “Berfikir global, namun melakukan hal dari local”, yaitu sederhana, kini, di sini dan saat ini. Semangat yang kita miliki, yuk kita jaga bersama. Bahwa kita bermimpi setiap siswa TK ABA mampu membaca Al-Qur’an, itu bagus. Yang perlu diingat pula adalah bahwa mimpi itu harus direncanakan secara bertahap, terukur dan terarah. Sampai kapan? Terus saja bergerak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *