Skip to main content

Pengajian Dasawisma Pundung RT 08

*Pengajian Dasawisma Pundung RT 08*

_Sri Lestari Linawati_

 

Ahad malam saya dihubungi Pak Ovi PRM Mlangi, “Assalamu’alaikum. Bu Lina, mbok saya minta tolong. Besok siang bu Lina memberi pengajian ibu-ibu dasa wiswa 50 orang. Jam 14.00 di Rt 08 Pundung.”

Karena yang meminta adalah tetangga dekat Unisa, maka segera saya iyakan, “Wa’alaikum salam. Nggih, Pak Ovi, insyaallah.” Saya yakin ikhtiar ini akan membaikkan hubungan Unisa Yogyakarta dengan masyarakat sekitar, itu saja, karenanya tidak akan saya tolak.

“Materi?” tanya saya. Pak Ovi menjawab, “Bebas”.

Saya bertanya lagi, “Ten dalemipun sinten, Pak?” Pak Ovi pun menjawab,
“Bu waring. Barat tempat saya, pojok barat utara asrama. Matur nuwun.”

Pada.hari dan jam yang ditentukan, segera saya meluncur ke lokasi. Berhubung saya belum hafal daerah Pundung, maka sempat keliling kampung.. haha.. Tak apa. Asyik saja, meski sedikit _gobyos_.

Sesampai di rumah Bu Waring, Bu Daroyah langsung mempersilakan saya menyampaikan isian.

Saya meminta hadirin menyanyikan sekali lagi shalawat yang dilantunkan di awal pertemuan. Bu Daroyah menjelaskan bahwa kita musti bershalawat atas Nabi kita sebagaimana pesan Al-Qur’an.

Nah,
materi saya mengajak hadirin memahami makna shalawat tersebut yang notabene berbahasa Arab. Menarik diskusi kecil kami sore itu. “Yach.. intinya bershalawat,” tanggapan seorang ibu. Arti per kalimat? Tidak tahu.

Saya mulai mengajak ibu-ibu melihat pariwisata Bali. Tari Kecak yang jadi salah satu ikon pariwisata Bali kan kegiatan ritual. Pertanyaannya, mengapa kita melakukan ibadah ritual namun tidak mampu muncul sebagai ikon wisata sebagaimana halnya Bali? Mulai ramai para ibu berbisik. Seorang ibu menanggapi, “Ibadah kan memang tidak untuk dipertontonkan?”

Alhamdulillah, saya suka dengan diskusi itu. Benar, ibadah tidak untuk dipertontonkan. Saya hanya ingin mengajak ibu-ibu faham dengan apa yang ibu katakan, senandungkan. Saya coba bandingkan dengan lagu berbahasa Indonesia dan berbahasa Jawa. Ibu-ibu pun komentar, “Wah… bagus..”

Wajah sumringah mulai menghiasi wajah ibu-ibu. Saya bersyukur. “Ya, Ibu-ibu.. Mengapa itu terjadi? Karena bahasa Arab memang bukan bahasa ibu kita. Itu bahasa asing bagi kita, maka kita wajib mempelajarinya. Bagaimana Al-Qur’an sebagai pedoman hidup bisa kita amalkan apabila kita tidak faham apa artinya? Motor kita tidak akan bisa berjalan bila bensinnya tidak ada, seperti itulah ibaratnya. Hadirin pun manggut-manggut puas.

“Kulo niku pun tuwo, pun mboten saget..,” kata seorang simbah. Saya sampaikan, “Simbah, bukankah kita dituntunkan untuk belajar sejak buaian hingga liang lahat?” Simbah pun memgingat kembali ajaran yang diyakininya itu, kemudian beliau pun menganggukkan kepala.

Usai acara dasawisma, saya mampir ke asrama Unisa yang letaknya berdekatan. Bakda maghrib, saya sempatkan diskusi kecil dengan mahasiswa asrama, yaitu hal doa khusyuk dan praktek kultum. Mereka tampak antusias.

Ternyata usai isya’ yang akan mengisi materi adalah Bu Warsiti Rektor Unisa Yogyakarta. Saya bahagia berkesempatan bisa tatap muka dengan beliau.

Ibadah kita lakukan dengan optimal. Kita berharap agar kita mampu menjadi pribadi takwa, yang ikhlas menghadapkan diri, jiwa dan raganya lillah, hanya semata untuk Allah swt. Jihad fi sabilillah.[]

 

Yogyakarta, 7 Januari 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *