Skip to main content

Peran Orangtua dalam Menyiapkan Generasi Rabbany

Sri Lestari Linawati

 

 

Sebulan yang lalu saya dihubungi Mbak Hartini untuk menjadi pemateri pada pengajian akbar LINAS (pengajian keliling antarmasjid di Sidoarum Godean). Hari ahad, 9 Februari 2020 jam 09.00-11.00 di masjid Jengkelingan, dengan materi “Peran Orangtua dalam Menyiapkan Generasi Rabbany”.

 

Saya sanggupi karena waktu itu belum ada agenda. Kebetulan sudah lama juga mbak Hartini meminta saya mengisi pengajian ibu-ibu ‘Aisyiyah di sana, namun beberapa kali jadwalnya pas saya tidak bisa. Pertama, tentu dari segi waktu, juga sudah saya bicarakan dengan suami. Adapun soal materi, disiapkan sambil jalan. Jamaahnya, menurut informasi, adalah ibu-ibu muda dan beberapa ibu-ibu tua.

 

Baiklah, sekarang mari kita mulai kaji bersama. Satu-satu kita bahas ya..

 

Apa yang dimaksud dengan “Generasi Rabbany”?

 

Saya yakin ibu-ibu jamaah LINAS sudah sering mendengar, sudah sering mengikuti pengajian tentang generasi Rabbany. Secara harfiah, generasi Rabbany adalah generasi yang berpegang pada nilai-nilai yang telah digariskan oleh Rabb, Sang Pemelihara, Allah swt. Artinya, generasi yang berpegang pada prinsip Al-Qur’an.

 

Seperti apakah generasi yang berpegang pada prinsip Al-Qur’an? Mari kita buka Al-Qur’an..

 

Surat Al-Ahqaf (46) ayat 15

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ إِحْسَـٰنًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ كُرْهًۭا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًۭا ۖ وَحَمْلُهُۥ وَفِصَـٰلُهُۥ ثَلَـٰثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةًۭ قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَـٰلِحًۭا تَرْضَىٰهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِىٓ ۖ إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”

 

Ayat ini:

  1. Allah memerintah manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya
  2. Seorang ibu telah mengandungnya dengan susah payah
  3. Melahirkannya dengan susah payah pula
  4. Mengandung sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan
  5. Anak tumbuh hingga dewasa
  6. Ketika umurnya 40 tahun, si anak berdoa sebagaimana di atas.

 

Berikutnya, apa makna pesan-pesan tersebut bagi kita saat ini? Mari coba kita dalami lagi..

Poin satu, berbuat baik kepada kedua orang tua adalah perintah Allah. Artinya, selain mengabdi kepada Allah swt, mengagungkan nama Allah, mengesakanNya, Allah memerintah kita berbuat baik pada kedua orang tua. Mengapa? Karena dari kedua orang tualah kita lahir ke dunia ini.

 

Pertanyaannya adalah, apakah mudah bagi setiap kita untuk berbuat baik kepada kedua orang tua?

 

Jawabannya bermacam-macam. Sedikit orang yang menjawab “Mudah, karena kedua orang tua saya faham Islam”. Lainnya “orang tua saya otoriter”, “orang tua saya tidak peduli”, “orang tua saya bercerai”.

 

Sebagai anak, kita diperintahkan untuk berbuat baik. Sepanjang hayat kita, pada orang tua, kita tetap sebagai anak, meski kita anak-anak, remaja, dewasa, bahkan bisa jadi kita sudah jadi orang tua bagi anak kita. Menjaga hubungan baik antara kita dengan orang tua menjadi wajib hukumnya.

 

Pada masa dahulu, anak tinggal dekat dengan orang tua. Hubungan batin didukung oleh kedekatan fisik. Kini, sangat mungkin, anak tinggal berjauhan dengan kedua orangtua. Bagaimana membangun hubungan keduanya, apabila secara fisik tidak bisa setiap hari bertemu? Mungkin saat lebaran bisa hadir. Atau saat-saat liburan panjang. Atau juga saat ada perlu. Nah,ada perlu dan ada kesempatan ini yang mungkin perlu kita pertimbangkan, kita siapkan, secara batin dan lahir.

 

Poin dua, ibunya mengandungnya dengan susah payah.

Artinya, mengandung itu suatu hal atau keadaan yang perlu perjuangan lahir batin. Tiap orang bisa berbeda kondisi kehamilannya. Normal alhamdulillah. Tidak pun musti tetap kita bersyukur, alhamdulillah. Bila kita kaji lebih jauh tentang masa kehamilan, baik trimester pertama, kedua, ketiga, ada banyak kisah yang dapat kita ambil pelajaran (ibrah). Ada yang harus bedrest selama kehamilan hingga harus berhenti bekerja, ada yang muntah-muntah tanpa sebab bila tercium keringat suaminya, dan masih banyak lagi.

 

Poin tiga, melahirkannya dengan susah payah pula. Nah, banyak-banyaklah istighfar dan bermunajat kepadaNya.

 

Poin empat, mengandung sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. Ini adalah rentang ujian kesabaran bagi seorang ibu. Bagi kita sebagai anak, ingatlah masa itu yang dialami ibu kita.

 

Poin lima, anak tumbuh hingga dewasa. Selama masa ini, anak perlu diberi makan, pendidikan, asuhan, kesehatan. Seorang ibu, yang peduli dan kasih sayang pada anaknya, tentu berjuang dengan sepenuh jiwa raga.

 

Poin enam, ketika umurnya 40 tahun, si anak berdoa sebagaimana di atas. Doa itu ungkapan kesyukuran, harapan dan cita.

 

Ini adalah bahan diskusi kita pada pertemuan ini. Buka kran besar pada mendengarkan umat, jamaah. Harapannya, jamaah pulang dengan membawa ilmu dan keyakinan. Saya yakin ibu-ibu jamaah LINAS memiliki masalah masing-masing. Semoga kajian kita kali ini membawa manfaat yang besar bagi kita semua, yaitu ilmu yang kita ketahui, kita yakini dan ada dan tumbuh semangat kita untuk mengamalkannya. “Ilmu yang tidak diamalkan laksana pohon tanpa buah.”

 

 

Kanoman, Banyuraden, Gamping, 9 Februari 2020

 

 

Sri Lestari Linawati yang akrab disapa Bu Lina adalah dosen UNISA (Universitas ‘Aisyiyah) Yogyakarta, pegiat literasi, peneliti pada Pusat Studi Anak Usia Dini dan Keluarga Yogyakarta. Buku solo alumni Sastra Arab UGM ini ada dua, yaitu “Menggerakkan Ipmawati” dan “Bahasa Arab di Mata Santri ABG: Studi Persepsi Pembelajaran Bahasa Arab Siswa SMP Ponpes Modern MBS Yogyakarta”. Buku antologi alumni Psikologi Pendidikan Islam Magister Studi Islam UMY ini ada sepuluh. Tiga di antaranya adalah yang baru dilauncingkan 25 Januari 2020 di Seminar Kepenulisan dan Kopdar IV Sahabat Pena Kita di UNISMA Malang, yaitu “Moderasi Beragama”, “Sejuta Alasa Mencintai Indonesia” dan “Guru Pembelajar”. Lina bisa dihubungi di email sllinawati@gmail.com atau no hp/WA 0812.15.7557.86

Geng Pelajar dalam Tinjauan Psikologi, Pendidikan dan Keluarga

 

Sri Lestari Linawati

 

 

Berbahagia diundang hadir dalam seminar “Peran Muhammadiyah dalam Mensikapi Fenomena Klitih” yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bantul. Mungkin ini efek dari menulis. Kebetulan 15 Januari lalu saya menulis “Dukung Sultan Perhatikan Keluarga Tangani Klithih”.

 

Ketika membaca para pelaku klithih adalah anak-anak remaja usia belasan tahun, usia SMP SMA, spontan hati ini serasa teriris. Saya juga memiliki anak-anak usia SMP SMA. Setiap orang tua pasti ikut tersentak dan sedih melihat fenomena ini.

 

Tersentak juga ketika membaca di berbagai grup whatsapp (grup jamaah whatsappiyah nih ye..) tentang informasi geng klitih. Disebutkan dalam informasi tersebut nama sekolah, alamat sekolah, nama geng, tempat berkumpulnya, juga musuh mereka. Mereka adalah para pelajar di SMA Negeri, SMA Muhammadiyah, SMA swasta lainnya, SMP Negeri, SMP Muhammadiyah, SMP swasta lainnya.

 

Sebagai pembaca yang bijak, pada kita dituntunkan melihat sejauh mana kebenaran berita tersebut. Lebih dari itu, kita perlu melakukan refleksi terhadap fenomena tersebut, menganalisis, kemudian menyusun agenda-agenda strategis untuk pencegahannya dan upaya solutifnya. Itulah sebabnya saya segera mengambil sikap mendukung upaya Sultan untuk membentuk pokja dan mewujudkan ketahanan keluarga.

 

Sekolah Muhammadiyah memang tidak sepenuhnya harus menanggung penderitaan ini. Keluarga, lingkungan dan masyarakat juga musti turut andil mengatasinya, melakukan upaya-upaya pencegahan. Namun demikian, sekolah memiliki peluang besar menanamkan nilai-nilai akhlak pada diri siswa. Inilah makna bahwa sekolah tidak hanya bertugas transfer of knowledge, namun yang lebih penting lagi adalah transfer of values. Transfer pengetahuan dan transfer nilai.

 

Yang seperti apakah itu? Mari kita kaji bersama..

 

Satu, geng pelajar. Di manakah peran IPM dan OSIS?

Apakah IPM dan OSIS selama ini telah cukup menyediakan kegiatan yang menyibukkan pelajar? Aktivitas pelajar dengan kemampuan, potensi dan minat yang beragam?

 

Dua, sejauh manakah peran guru, karyawan dan segenap keluarga besar sekolah untuk menyiapkan lulusan yang tangguh, bermoral dan berdaya saing?

Siiruu fil ardhi..

 

Tiga, sejauh manakah peran pemerintah dalam menyiapkan kurikulum sekolah yang mencerdaskan para siswa? Sesungguhnya tujuan pendidikan adalah memberikan keyakinan pada setiap siswa bahwa mereka adalah makhluk berharga di muka bumi, tidak sia-sia mereka diciptakan, ada visi misi hidup yang musti mereka jalankan untuk kehidupan ini.

 

Dari tiga poin ini,

Mari kita lihat sekeliling kita.

  1. Sekolah,
  • dalam prosesnya tiap hari, sudahkah secara optimal ‘nguwongke’ setiap komponen sekolah?
  • Apakah program-program sekolah telah dikomunikasikan dengan baik kepada orang tua siswa?
  • Bagaimana sekolah membangun kepercayaan dan kepuasan orang tua dalam menitipkan putra-putrinya di sekolah?
  • Guru dan karyawan perlu difasilitasi untuk studi lanjut dan kembali mengembangkan sekolah.

 

  1. IPM/ OSIS
  • Buatlah program-program yang inovatif, kreatif untuk menyalurkan berbagai bakat dan minat siswa.
  • Program-program pertukaran pelajar perlu digalakkan.
  • Pentas kreativitas sesama pelajar antarsekolah perlu digagas dan dikembangkan.
  1. Pemerintah
  • Perlu memfasilitasi terselenggaranya pendidikan yang baik dan mencerahkan
  • Perlu ‘nguri-uri’ terselenggaranya pengajian-pengajian di masyarakat. Mengapa? Karena pengajian adalah model pendidikan berbasis masyarakat. Di tengah situasi ekonomi yang menghimpit, masyarakat masih merasa perlu untuk belajar yang menyenangkan.

 

Demikianlah ‘jlentrehan’ ketahanan keluarga yang saya fahami. Keluarga musti kita jaga dan rawat bersama. Untuk Indonesia Berkemajuanlah kita semua bergerak membangun bangsa.  Tak semudah membalik telapak tangan memang. Mari niatkan semua ikhtiar kita hanya karena Allah swt. Semoga dengan niat tulus ikhlas, kita mampu meningkatkan kesabaran dan ketaatan kita, sehingga pada saatnya kita dipanggil Allah dalam keadaan husnul khatimah, amin..

 

 

Kanoman Banyuraden, 8 Februari 2020

 

 

Sri Lestari Linawati, S.S., M.S.I. adalah dosen UNISA (Universitas ‘Aisyiyah) Yogyakarta, pegiat literasi, peneliti pada Pusat Studi Anak Usia Dini dan Keluarga Yogyakarta. Buku solo alumni Sastra Arab UGM ini ada dua, yaitu “Menggerakkan Ipmawati” dan “Bahasa Arab di Mata Santri ABG: Studi Persepsi Pembelajaran Bahasa Arab Siswa SMP Ponpes Modern MBS Yogyakarta”. Buku antologi alumni Psikologi Pendidikan Islam Magister Studi Islam UMY ini ada sepuluh. Tiga di antaranya adalah yang baru dilauncingkan 25 Januari 2020 di Seminar Kepenulisan dan Kopdar IV Sahabat Pena Kita di UNISMA Malang, yaitu “Moderasi Beragama”, “Sejuta Alasa Mencintai Indonesia” dan “Guru Pembelajar”. Lina bisa dihubungi di email sllinawati@gmail.com atau no hp/WA 0812.15.7557.86

RAT Koperasi UMEGA

*RAT Koperasi UMEGA*

_Sri Lestari Linawati_

 

Siang cerah ini dilangsungkan RAT Koperasi UMEGA Stikes ‘Aisyiyah Yogyakarta Tahun 2019 di aula gedung B kampus terpadu UNISA Yogyakarta.

Acara dimulai jam 12.30 wib. Setelah shalat dhuhur berjamaah di masjid kampus, kami berjalan menuju gedung B. Petugas telah siap di tempat masing-masing. Mengisi tanda tangan kehadiran, SHU, makan siang, snack dan batik. Sehubungan empat bulan lagi Muktamar Muhammadiyah ‘Aisyiyah, pengurus memberikan batik Muktamar untuk kami semua.

Forum ini dihadiri para pegawai Unisa beserta keluarganya, sehingga acara ini sekaligus sebagai ajang silaturrahmi. Ada yang mengajak suami, istri, anak, ibu, atau pun saudaranya.

Makan siang kali ini tentu berbeda dengan hari-hari lain. Kali ini kami dapat beramah tamah juga dengan segenap anggota koperasi.

Acara dimulai dengan bersama membacakan basmalah. Kalam Ilahi surat Al-Maidah ayat 2 dan Al-Jum’ah ayat 10 dibacakan oleh Slamet Santoso, mahasiswa tingkat akhir Manajemen UNISA Yogyakarta.

Intermezo pertama, pembagian doorprize untuk 20 anggota. Tentu saja acara ini meriah. Apapun isinya, sesi ini cukup memeriahkan suasana.

Sambutan Rektor UNISA disampaikan oleh Bu Warsiti. Beliau menyampaikan agar forum ini sekaligus menjadi ajang silaturrahmi. Diharapkan jalannya koperasi ke depan lebih baik lagi.

Pak Sulthoni menyampaikan sambutan Dinas Koperasi dan UKM DIY. Beliau menyampaikan agar keadaan koperasi menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

Pengesahan Kuorum, Pembacaan Tata Tertib dan Pengesahan, dilanjutkan Pembacaan Berita Acara RAT 2019.

Laporan Pertanggungjawaban Pengurus disampaikan oleh Bu Indah dan Bu Irkham. UMEGA dulu kependekan dari Usaha Menambah Gaji, sekarang menjadi Usaha Mensejahterakan Anggota.

Laporan Pertanggungjawaban Pengawas Koperasi disampaikan oleh Ibu Mufdlilah, Ibu Sulistyaningsih dan Ibu Anjarwati.

Di sesi Pengesahan Laporan Pertanggungjawaban Pengurus dan Pengawas, Bu Irkham menanyakan pada anggota, “Apakah laporan pertanggungjawaban dapat disahkan?” Anggota menjawab serempak, “Bisaaaaaaaaa…” Palu diketok tiga kali. Tok.. tok.. tok. Alhamdulillah.

Intermezo kedua adalah pembagian doorprize untuk 25 nomor.

Acara dilanjutkan pemilihan pengurus dan pemilihan pengawas. Petugas membagikan kertas nama-nama dan kertas pemilihan. Setelah diisi, petugas segera mengumpulkan kembali lembar pemilihan.

Sambil menunggu hasil pemilihan, dilakukan pembagian doorprize kembali untuk 28 anggota. Dilanjutkan penghitungan hasil pemilihan.

Doorprize untuk 30 anggota kembali digelar. Satu per satu nama dipanggil oleh Bu Fathiyatur Rohmah. Mas Anang S yang menyerahkan doorprizenya.

Selanjutnya 10 doorprize. Bapak R Wicaksono, Sukmawati, Ibu Farida Noor Rohmah, Ibu Dika Rizki Imania, Ibu Nurul Kurniati, Ibu Dewi Aminatun, Ibu Atni TPA, Ibu Suri TPA, Bapak Nasrudin, Ibu Paryanti, Naura putri Bu Fitna.

Lanjuuut?
Lanjuuuuuut….

4 doorprize lagi.
Ibu Nur Amalia Shaliha, Bapak Sujoko/ Veni, Bu Dita. Doorprize berlaku bagi yang masih di tempat. Bu Ratri Ayuningtyas. Bapak Basit Adi Arifianto.

Teng ting teeeeng..

Mas Adi Sasmito dapat sepeda. Bapak Setiono. Basit Adi Putranto.

Dua lagi. Mesin cuci dan kulkas. Siapa?

Olivia. 54321 batal.

Bapak Hermin Widodo suami Bu Elika.

Satu lagi.

Dini Windartanti. 👏🏻👏🏻 Dua tahun berturut-turut mendapatkan doorprize utama.

Kita akhiri dengan hamdalah bersama. Wassalamu’alaikum..

 

 

Yogyakarta, 1 Februari 2020.

 

Sri Lestari Linawati adalah dosen UNISA Yogyakarta, pegiat literasi dan pengurus ‘Aisyiyah Ranting Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY.