Skip to main content

Berhentilah Mengecam Kegelapan

Sri Lestari Linawati

 

Bahagia diundang hadir dalam pertemuan menggagas upaya solutif pengembangan AIK yang diselenggarakan Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah ini. Acara yang digelar di Kantor PP Muhammadiyah jl Cik Di Tiro Yogyakarta ini berlangsung jam 18.00 wib hingga selesai.

Kebetulan sore ada kelas teori Kemuhammadiyahan Dan Keaisyiyahan dengan Keperawatan semester 4 kelas B. Pertemuan membahas Profil Pimpinan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Saya minta mahasiswa menuliskan sebuah artikel tentang satu tokoh Muhammadiyah/ ‘Aisyiyah yang menginspirasi mereka. Menarik. Ada yang menulis tentang Prof. Dr. H. Siti Baroroh Baried yang diabadikan namanya sebagai nama Hall 4 Unisa. Ada yang menulis Prof. Chamamah, Bu Noordjanah Djohantini, Sutan Mansyur, KH Fachrodin, Pak AR Fahruddin, Pak Amien Rais, Buya Syafi’i Ma’arif, Pak Watik, Siti Bariyah, Siti Munjiyah, Kiai Haji Ibrahim, Siti Hayinah, Pak Azhar Basyir, dsb. Artinya, perhatian mereka tidak terkonsentrasi hanya pada KHA Dahlan dan Nyai Siti Walidah saja. Usai perkuliahan, segera saya meluncur ke Cik Di Tiro.

 

Telah hadir di forum inisiasi S2 Konsentrasi AIK ini antara lain Pak Sayuti, Pak Muh. Samsuddin, Pak Muttaqin, Prof. Sutrisno, Prof. Munir Mulkhan, Kaprodi Sekprodi S2 AIK UAD Dan UMY, Pak Miftah, Pak Iwan, saya, Ketua dan Sekretaris Majelis Dikdasmen DIY, Dan undangan lainnya.

Apa latar belakang acara ini?
Ada banyak keluhan. Hentikan keluhan. Jangan mengecam kegelapan. Hentikan segera! Mari buka S2 AIK. Dosen AIK butuh kualifikasi S2. Punya kompetensi. Ada anak SD disuruh menghafal tujuan Aisyiyah. Problem tidak saja di pendidikan tinggi. Buku mas Robby sudah sangat kuat sebagai landasan filosofis. Demikian penjelasan Pak Sayuti.

Mengapa ngundang ALAIK?
Perkumpulan ini, Asosiasi Lembaga AIK PTMA, yang mengkoordinasikan Lembaga AIK di PTMA Dan para dosen AIK. UAD sudah menyiapkan S2. Nanti S3 Konsentrasi AIK juga.. Syekh Munir Mulkhan dihadirkan untuk menguatkan tujuan Kita.

Respon?

Prof Sutrisno menyampaikan Hal Kebijakan. AIK biasanya terhenti pada persoalan formalitas. Ekonomi misalnya. Andai Ada dosen terbaik. Jangan selamanya terhenti pada formalitas. Mari berbenah diri. Kembali ke tadi, kurikulum. Bagaimana agar menjadi gerakan masif? Perlu diupayakan.

Bagaimana tanggapan Prof.Munir Mulkhan?

Menurut tokoh Muhammadiyah asal Jember yang kemudian sempat merantau ke Lampung ini sebagai berikut. “Kebetulan saya tidak ikut di Malang. Menurut saya, orientasi bukan hanya pada mahasiswa saja, namun PTM juga. Pendidikan, lebih khusus perguruan tinggi, maka harus memberi warna di PTM itu. Karenanya perlu orientasi pembelajaran. Jangan cuma cerita sejarah, kelembagaan. Kuno. Harus bisa memberi pemaknaan mengapa Muhammadiyah berdiri.

Prof Munir melanjutkan. Berdirinya Muhammadiyah dan majelis-majelis, filosofinya apa. Agar Kita bisa buat maping. Pola di daerah minoritas seperti apa. Sosiologi, antropologi. Ilmu lain diperlukan juga. Selalu muncul dari bawah. Ini lho cara ‘ngrembokokan’ Muhammadiyah.

Kesaksian dokter Soetomo. Terkonfirmasi dg jumlah anggota. Sy cek. sejak tahun 1912 anggota Kita belum ada 1 jt. Membuat orang Kristen Katolik lebih manusiawi. Ini yang saya sebut virus Muhammadiyah.

Demikian diantara diskusi Inisiasi Program S2 Konsentrasi AIK bersama Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah. Ada sebuah tantangan menarik yang perlu kita fikirkan dalam hal pengembangan AIK ini, baik di perguruan tinggi maupun di pendidikan dasar Dan menengah. Tentu, saya hanyalah secuil bagian tersebut. Saya ingat pesan Pak Amien Rais kala itu, sekitar tahun 90-an, “Teruslah lakukan sesuatu untuk kemajuan bangsa ini..”

Saya kira pesan itu selaras dengan pesan Al-Qur’an bahwa “Lakukanlah kebajikan walau hanya sebesar biji sawi..” Ada pula ayat “Betapapun hanya sebesar biji sawi, Allah pasti akan membalasnya.”

Omong-omong nih, apa sih hakikat kita berMuhammadiyah?

Yaitu agar Kita mampu berbuat baik, punya inisiatif kuat untuk selalu melakukan kebaikan dan kebajikan. Tantangan dan kemajuan jaman perlu kita apresiasi secara positif. Terus tebarkan salam. Kampung akhirat senantiasa kita dambakan. []

 

Yogyakarta, 12 Maret 2020

 

Sri Lestari Linawati adalah pegiat literasi, penggagas BirruNA “PAUD Berbasis Alam dan Komunitas”, peneliti pada Pusat Dunia (Pusat Studi Anak Usia Dini dan Keluarga Yogyakarta), Dosen UNISA Yogyakarta. Perempuan yang akrab disapa “Lina” ini adalah salah satu pengurus ALAIK PTMA, juga ikut ‘nguri-uri’ ‘Aisyiyah Center UNISA Yogya. Bu Lina bisa dihubungi di email sllinawati@gmail.com atau no hp 0812.15.7557.86.

Peran Orangtua dalam Menyiapkan Generasi Rabbany

Sri Lestari Linawati

 

 

Sebulan yang lalu saya dihubungi Mbak Hartini untuk menjadi pemateri pada pengajian akbar LINAS (pengajian keliling antarmasjid di Sidoarum Godean). Hari ahad, 9 Februari 2020 jam 09.00-11.00 di masjid Jengkelingan, dengan materi “Peran Orangtua dalam Menyiapkan Generasi Rabbany”.

 

Saya sanggupi karena waktu itu belum ada agenda. Kebetulan sudah lama juga mbak Hartini meminta saya mengisi pengajian ibu-ibu ‘Aisyiyah di sana, namun beberapa kali jadwalnya pas saya tidak bisa. Pertama, tentu dari segi waktu, juga sudah saya bicarakan dengan suami. Adapun soal materi, disiapkan sambil jalan. Jamaahnya, menurut informasi, adalah ibu-ibu muda dan beberapa ibu-ibu tua.

 

Baiklah, sekarang mari kita mulai kaji bersama. Satu-satu kita bahas ya..

 

Apa yang dimaksud dengan “Generasi Rabbany”?

 

Saya yakin ibu-ibu jamaah LINAS sudah sering mendengar, sudah sering mengikuti pengajian tentang generasi Rabbany. Secara harfiah, generasi Rabbany adalah generasi yang berpegang pada nilai-nilai yang telah digariskan oleh Rabb, Sang Pemelihara, Allah swt. Artinya, generasi yang berpegang pada prinsip Al-Qur’an.

 

Seperti apakah generasi yang berpegang pada prinsip Al-Qur’an? Mari kita buka Al-Qur’an..

 

Surat Al-Ahqaf (46) ayat 15

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ إِحْسَـٰنًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ كُرْهًۭا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًۭا ۖ وَحَمْلُهُۥ وَفِصَـٰلُهُۥ ثَلَـٰثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةًۭ قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَـٰلِحًۭا تَرْضَىٰهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِىٓ ۖ إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”

 

Ayat ini:

  1. Allah memerintah manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya
  2. Seorang ibu telah mengandungnya dengan susah payah
  3. Melahirkannya dengan susah payah pula
  4. Mengandung sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan
  5. Anak tumbuh hingga dewasa
  6. Ketika umurnya 40 tahun, si anak berdoa sebagaimana di atas.

 

Berikutnya, apa makna pesan-pesan tersebut bagi kita saat ini? Mari coba kita dalami lagi..

Poin satu, berbuat baik kepada kedua orang tua adalah perintah Allah. Artinya, selain mengabdi kepada Allah swt, mengagungkan nama Allah, mengesakanNya, Allah memerintah kita berbuat baik pada kedua orang tua. Mengapa? Karena dari kedua orang tualah kita lahir ke dunia ini.

 

Pertanyaannya adalah, apakah mudah bagi setiap kita untuk berbuat baik kepada kedua orang tua?

 

Jawabannya bermacam-macam. Sedikit orang yang menjawab “Mudah, karena kedua orang tua saya faham Islam”. Lainnya “orang tua saya otoriter”, “orang tua saya tidak peduli”, “orang tua saya bercerai”.

 

Sebagai anak, kita diperintahkan untuk berbuat baik. Sepanjang hayat kita, pada orang tua, kita tetap sebagai anak, meski kita anak-anak, remaja, dewasa, bahkan bisa jadi kita sudah jadi orang tua bagi anak kita. Menjaga hubungan baik antara kita dengan orang tua menjadi wajib hukumnya.

 

Pada masa dahulu, anak tinggal dekat dengan orang tua. Hubungan batin didukung oleh kedekatan fisik. Kini, sangat mungkin, anak tinggal berjauhan dengan kedua orangtua. Bagaimana membangun hubungan keduanya, apabila secara fisik tidak bisa setiap hari bertemu? Mungkin saat lebaran bisa hadir. Atau saat-saat liburan panjang. Atau juga saat ada perlu. Nah,ada perlu dan ada kesempatan ini yang mungkin perlu kita pertimbangkan, kita siapkan, secara batin dan lahir.

 

Poin dua, ibunya mengandungnya dengan susah payah.

Artinya, mengandung itu suatu hal atau keadaan yang perlu perjuangan lahir batin. Tiap orang bisa berbeda kondisi kehamilannya. Normal alhamdulillah. Tidak pun musti tetap kita bersyukur, alhamdulillah. Bila kita kaji lebih jauh tentang masa kehamilan, baik trimester pertama, kedua, ketiga, ada banyak kisah yang dapat kita ambil pelajaran (ibrah). Ada yang harus bedrest selama kehamilan hingga harus berhenti bekerja, ada yang muntah-muntah tanpa sebab bila tercium keringat suaminya, dan masih banyak lagi.

 

Poin tiga, melahirkannya dengan susah payah pula. Nah, banyak-banyaklah istighfar dan bermunajat kepadaNya.

 

Poin empat, mengandung sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. Ini adalah rentang ujian kesabaran bagi seorang ibu. Bagi kita sebagai anak, ingatlah masa itu yang dialami ibu kita.

 

Poin lima, anak tumbuh hingga dewasa. Selama masa ini, anak perlu diberi makan, pendidikan, asuhan, kesehatan. Seorang ibu, yang peduli dan kasih sayang pada anaknya, tentu berjuang dengan sepenuh jiwa raga.

 

Poin enam, ketika umurnya 40 tahun, si anak berdoa sebagaimana di atas. Doa itu ungkapan kesyukuran, harapan dan cita.

 

Ini adalah bahan diskusi kita pada pertemuan ini. Buka kran besar pada mendengarkan umat, jamaah. Harapannya, jamaah pulang dengan membawa ilmu dan keyakinan. Saya yakin ibu-ibu jamaah LINAS memiliki masalah masing-masing. Semoga kajian kita kali ini membawa manfaat yang besar bagi kita semua, yaitu ilmu yang kita ketahui, kita yakini dan ada dan tumbuh semangat kita untuk mengamalkannya. “Ilmu yang tidak diamalkan laksana pohon tanpa buah.”

 

 

Kanoman, Banyuraden, Gamping, 9 Februari 2020

 

 

Sri Lestari Linawati yang akrab disapa Bu Lina adalah dosen UNISA (Universitas ‘Aisyiyah) Yogyakarta, pegiat literasi, peneliti pada Pusat Studi Anak Usia Dini dan Keluarga Yogyakarta. Buku solo alumni Sastra Arab UGM ini ada dua, yaitu “Menggerakkan Ipmawati” dan “Bahasa Arab di Mata Santri ABG: Studi Persepsi Pembelajaran Bahasa Arab Siswa SMP Ponpes Modern MBS Yogyakarta”. Buku antologi alumni Psikologi Pendidikan Islam Magister Studi Islam UMY ini ada sepuluh. Tiga di antaranya adalah yang baru dilauncingkan 25 Januari 2020 di Seminar Kepenulisan dan Kopdar IV Sahabat Pena Kita di UNISMA Malang, yaitu “Moderasi Beragama”, “Sejuta Alasa Mencintai Indonesia” dan “Guru Pembelajar”. Lina bisa dihubungi di email sllinawati@gmail.com atau no hp/WA 0812.15.7557.86

Geng Pelajar dalam Tinjauan Psikologi, Pendidikan dan Keluarga

 

Sri Lestari Linawati

 

 

Berbahagia diundang hadir dalam seminar “Peran Muhammadiyah dalam Mensikapi Fenomena Klitih” yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bantul. Mungkin ini efek dari menulis. Kebetulan 15 Januari lalu saya menulis “Dukung Sultan Perhatikan Keluarga Tangani Klithih”.

 

Ketika membaca para pelaku klithih adalah anak-anak remaja usia belasan tahun, usia SMP SMA, spontan hati ini serasa teriris. Saya juga memiliki anak-anak usia SMP SMA. Setiap orang tua pasti ikut tersentak dan sedih melihat fenomena ini.

 

Tersentak juga ketika membaca di berbagai grup whatsapp (grup jamaah whatsappiyah nih ye..) tentang informasi geng klitih. Disebutkan dalam informasi tersebut nama sekolah, alamat sekolah, nama geng, tempat berkumpulnya, juga musuh mereka. Mereka adalah para pelajar di SMA Negeri, SMA Muhammadiyah, SMA swasta lainnya, SMP Negeri, SMP Muhammadiyah, SMP swasta lainnya.

 

Sebagai pembaca yang bijak, pada kita dituntunkan melihat sejauh mana kebenaran berita tersebut. Lebih dari itu, kita perlu melakukan refleksi terhadap fenomena tersebut, menganalisis, kemudian menyusun agenda-agenda strategis untuk pencegahannya dan upaya solutifnya. Itulah sebabnya saya segera mengambil sikap mendukung upaya Sultan untuk membentuk pokja dan mewujudkan ketahanan keluarga.

 

Sekolah Muhammadiyah memang tidak sepenuhnya harus menanggung penderitaan ini. Keluarga, lingkungan dan masyarakat juga musti turut andil mengatasinya, melakukan upaya-upaya pencegahan. Namun demikian, sekolah memiliki peluang besar menanamkan nilai-nilai akhlak pada diri siswa. Inilah makna bahwa sekolah tidak hanya bertugas transfer of knowledge, namun yang lebih penting lagi adalah transfer of values. Transfer pengetahuan dan transfer nilai.

 

Yang seperti apakah itu? Mari kita kaji bersama..

 

Satu, geng pelajar. Di manakah peran IPM dan OSIS?

Apakah IPM dan OSIS selama ini telah cukup menyediakan kegiatan yang menyibukkan pelajar? Aktivitas pelajar dengan kemampuan, potensi dan minat yang beragam?

 

Dua, sejauh manakah peran guru, karyawan dan segenap keluarga besar sekolah untuk menyiapkan lulusan yang tangguh, bermoral dan berdaya saing?

Siiruu fil ardhi..

 

Tiga, sejauh manakah peran pemerintah dalam menyiapkan kurikulum sekolah yang mencerdaskan para siswa? Sesungguhnya tujuan pendidikan adalah memberikan keyakinan pada setiap siswa bahwa mereka adalah makhluk berharga di muka bumi, tidak sia-sia mereka diciptakan, ada visi misi hidup yang musti mereka jalankan untuk kehidupan ini.

 

Dari tiga poin ini,

Mari kita lihat sekeliling kita.

  1. Sekolah,
  • dalam prosesnya tiap hari, sudahkah secara optimal ‘nguwongke’ setiap komponen sekolah?
  • Apakah program-program sekolah telah dikomunikasikan dengan baik kepada orang tua siswa?
  • Bagaimana sekolah membangun kepercayaan dan kepuasan orang tua dalam menitipkan putra-putrinya di sekolah?
  • Guru dan karyawan perlu difasilitasi untuk studi lanjut dan kembali mengembangkan sekolah.

 

  1. IPM/ OSIS
  • Buatlah program-program yang inovatif, kreatif untuk menyalurkan berbagai bakat dan minat siswa.
  • Program-program pertukaran pelajar perlu digalakkan.
  • Pentas kreativitas sesama pelajar antarsekolah perlu digagas dan dikembangkan.
  1. Pemerintah
  • Perlu memfasilitasi terselenggaranya pendidikan yang baik dan mencerahkan
  • Perlu ‘nguri-uri’ terselenggaranya pengajian-pengajian di masyarakat. Mengapa? Karena pengajian adalah model pendidikan berbasis masyarakat. Di tengah situasi ekonomi yang menghimpit, masyarakat masih merasa perlu untuk belajar yang menyenangkan.

 

Demikianlah ‘jlentrehan’ ketahanan keluarga yang saya fahami. Keluarga musti kita jaga dan rawat bersama. Untuk Indonesia Berkemajuanlah kita semua bergerak membangun bangsa.  Tak semudah membalik telapak tangan memang. Mari niatkan semua ikhtiar kita hanya karena Allah swt. Semoga dengan niat tulus ikhlas, kita mampu meningkatkan kesabaran dan ketaatan kita, sehingga pada saatnya kita dipanggil Allah dalam keadaan husnul khatimah, amin..

 

 

Kanoman Banyuraden, 8 Februari 2020

 

 

Sri Lestari Linawati, S.S., M.S.I. adalah dosen UNISA (Universitas ‘Aisyiyah) Yogyakarta, pegiat literasi, peneliti pada Pusat Studi Anak Usia Dini dan Keluarga Yogyakarta. Buku solo alumni Sastra Arab UGM ini ada dua, yaitu “Menggerakkan Ipmawati” dan “Bahasa Arab di Mata Santri ABG: Studi Persepsi Pembelajaran Bahasa Arab Siswa SMP Ponpes Modern MBS Yogyakarta”. Buku antologi alumni Psikologi Pendidikan Islam Magister Studi Islam UMY ini ada sepuluh. Tiga di antaranya adalah yang baru dilauncingkan 25 Januari 2020 di Seminar Kepenulisan dan Kopdar IV Sahabat Pena Kita di UNISMA Malang, yaitu “Moderasi Beragama”, “Sejuta Alasa Mencintai Indonesia” dan “Guru Pembelajar”. Lina bisa dihubungi di email sllinawati@gmail.com atau no hp/WA 0812.15.7557.86

RAT Koperasi UMEGA

*RAT Koperasi UMEGA*

_Sri Lestari Linawati_

 

Siang cerah ini dilangsungkan RAT Koperasi UMEGA Stikes ‘Aisyiyah Yogyakarta Tahun 2019 di aula gedung B kampus terpadu UNISA Yogyakarta.

Acara dimulai jam 12.30 wib. Setelah shalat dhuhur berjamaah di masjid kampus, kami berjalan menuju gedung B. Petugas telah siap di tempat masing-masing. Mengisi tanda tangan kehadiran, SHU, makan siang, snack dan batik. Sehubungan empat bulan lagi Muktamar Muhammadiyah ‘Aisyiyah, pengurus memberikan batik Muktamar untuk kami semua.

Forum ini dihadiri para pegawai Unisa beserta keluarganya, sehingga acara ini sekaligus sebagai ajang silaturrahmi. Ada yang mengajak suami, istri, anak, ibu, atau pun saudaranya.

Makan siang kali ini tentu berbeda dengan hari-hari lain. Kali ini kami dapat beramah tamah juga dengan segenap anggota koperasi.

Acara dimulai dengan bersama membacakan basmalah. Kalam Ilahi surat Al-Maidah ayat 2 dan Al-Jum’ah ayat 10 dibacakan oleh Slamet Santoso, mahasiswa tingkat akhir Manajemen UNISA Yogyakarta.

Intermezo pertama, pembagian doorprize untuk 20 anggota. Tentu saja acara ini meriah. Apapun isinya, sesi ini cukup memeriahkan suasana.

Sambutan Rektor UNISA disampaikan oleh Bu Warsiti. Beliau menyampaikan agar forum ini sekaligus menjadi ajang silaturrahmi. Diharapkan jalannya koperasi ke depan lebih baik lagi.

Pak Sulthoni menyampaikan sambutan Dinas Koperasi dan UKM DIY. Beliau menyampaikan agar keadaan koperasi menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

Pengesahan Kuorum, Pembacaan Tata Tertib dan Pengesahan, dilanjutkan Pembacaan Berita Acara RAT 2019.

Laporan Pertanggungjawaban Pengurus disampaikan oleh Bu Indah dan Bu Irkham. UMEGA dulu kependekan dari Usaha Menambah Gaji, sekarang menjadi Usaha Mensejahterakan Anggota.

Laporan Pertanggungjawaban Pengawas Koperasi disampaikan oleh Ibu Mufdlilah, Ibu Sulistyaningsih dan Ibu Anjarwati.

Di sesi Pengesahan Laporan Pertanggungjawaban Pengurus dan Pengawas, Bu Irkham menanyakan pada anggota, “Apakah laporan pertanggungjawaban dapat disahkan?” Anggota menjawab serempak, “Bisaaaaaaaaa…” Palu diketok tiga kali. Tok.. tok.. tok. Alhamdulillah.

Intermezo kedua adalah pembagian doorprize untuk 25 nomor.

Acara dilanjutkan pemilihan pengurus dan pemilihan pengawas. Petugas membagikan kertas nama-nama dan kertas pemilihan. Setelah diisi, petugas segera mengumpulkan kembali lembar pemilihan.

Sambil menunggu hasil pemilihan, dilakukan pembagian doorprize kembali untuk 28 anggota. Dilanjutkan penghitungan hasil pemilihan.

Doorprize untuk 30 anggota kembali digelar. Satu per satu nama dipanggil oleh Bu Fathiyatur Rohmah. Mas Anang S yang menyerahkan doorprizenya.

Selanjutnya 10 doorprize. Bapak R Wicaksono, Sukmawati, Ibu Farida Noor Rohmah, Ibu Dika Rizki Imania, Ibu Nurul Kurniati, Ibu Dewi Aminatun, Ibu Atni TPA, Ibu Suri TPA, Bapak Nasrudin, Ibu Paryanti, Naura putri Bu Fitna.

Lanjuuut?
Lanjuuuuuut….

4 doorprize lagi.
Ibu Nur Amalia Shaliha, Bapak Sujoko/ Veni, Bu Dita. Doorprize berlaku bagi yang masih di tempat. Bu Ratri Ayuningtyas. Bapak Basit Adi Arifianto.

Teng ting teeeeng..

Mas Adi Sasmito dapat sepeda. Bapak Setiono. Basit Adi Putranto.

Dua lagi. Mesin cuci dan kulkas. Siapa?

Olivia. 54321 batal.

Bapak Hermin Widodo suami Bu Elika.

Satu lagi.

Dini Windartanti. 👏🏻👏🏻 Dua tahun berturut-turut mendapatkan doorprize utama.

Kita akhiri dengan hamdalah bersama. Wassalamu’alaikum..

 

 

Yogyakarta, 1 Februari 2020.

 

Sri Lestari Linawati adalah dosen UNISA Yogyakarta, pegiat literasi dan pengurus ‘Aisyiyah Ranting Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY.

Dukung Sultan Perhatikan Keluarga Tangani Klithih

“Cara terbaik untuk membuat anak-anak betah di rumah adalah menciptakan suasana yang menyenangkan dan jauh dari kejenuhan.” (Dorothy Parker)

 

Sri Lestari Linawati

 

 

Headline news Kedaulatan Rakyat  Selasa, 14 Januari 2020 tentang “Penanganan Klithih Menyasar Keluarga: Sultan Akan Bentuk Pokja”. Meski beberapa waktu lalu pernah terjadi dan diulas, namun persoalan klithih masih kembali mencuat.

 

Berita itu dimulai dengan penyampaian bahwa persoalan klithih tidak akan bisa hilang atau ditangani secara tuntas, apabila akar masalah dari lingkungan keluarga tidak tertangani. Mayoritas pelaku merupakan anak dari keluarga bermasalah seperti ‘broken home’. Penanganannya harus lintas sector.

 

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengungkapkan, Pemda DIY akan mengupayakan pembentukan kelompok kerja (Pokja) dalam upaya memberantas aksi klithih dengan menguatkan ketahanan keluarga.

 

Dari persoalan klithih ini kita dihentakkan tentang pentingnya ketahanan keluarga. Keluarga yang harmonis adalah keluarga yang dibangun atas dasar cinta dan kasih sayang. Cinta dan kasih sayang itu akan melahirkan sikap-sikap saling menghormati, saling menolong, saling melengkapi, saling menyempurnakan. Tidak terpenuhinya rasa cinta dan kasih sayang yang melahirkan sikap saling tersebut, akan menyebabkan timbulnya masalah-masalah di dalam keluarga.

 

Masalah pertama yang akan muncul dalam keluarga adalah perbedaan antara suami dan istri. Banyak orang menganggap bahwa yang namanya kebahagiaan suami istri adalah ketika suami sama persis dengan istri. Padahal sejatinya keharmonisan suami istri itu terletak pada pemahaman terhadap perbedaannya. Inilah hakikat pernikahan yang sesungguhnya. Istri memerlukan suami, suami pun memerlukan istri. Tiap pribadi perlu memahami kelebihan dan kekurangan pribadi masing-masing. Untuk apa? Agar tiap pribadi dapat berbuat yang terbaik yang diperlukan pasangannya.

 

Masalah kedua yang mungkin muncul dalam keluarga adalah kehadiran keluarga besar. Hal ini mendasar sifatnya. Pernikahan mustilah difahami bukan hanya antara dua orang saja, lelaki dan perempuan, namun juga pertautan hati antara dua keluarga, yaitu keluarga laki-laki dan keluarga perempuan. Keduanya akan bisa menjalin hubungan harmonis ketika tiap pihak memahami budaya yang dianut. Suami dan istrilah yang bertugas mempererat hubungan itu, bukan justru menjauhkan.

 

Dampak hubungan harmonis dua keluarga akan sangat terasa ketika anak-anak terlahir dari pasangan suami istri. Anak tidak saja dikenalkan hormat pada ayah ibu, namun juga berkasih sayang pada keluarga ayah dan juga keluarga ibu. Pada waktu liburan atau lebaran Idul Fitri merupakan waktu-waktu istimewa untuk mempererat hubungan ini. Tak semudah membalik telapak tangan memang, terutama bila suami dan istri asalnya berjauhan, yang untuk mencapainya musti menempuh perjalanan darat selama berjam-jam. Menjaga kesehatannya, menjaga keceriaannya, dan kecerdasannya merupakan hal utama dilakukan.

 

Persoalan komunikasi dalam keluarga yang disebutkan di atas mengingatkan kita pada 4 hak anak. Satu, anak memilikihak hidup. Setiap janin perlu dijaga agar dia dapat lahir dengan baik. Dua, anak memiliki hak untuk tumbuh. Ketika seorang anak lahir, maka tugas kedua orang tuanyalah yang memberinya dia makan dan minum. ASI musti diberikan. Ketercukupan gizi anak perlu diperhatikan.

 

Hak anak ketiga yaitu hak berkembang. Selain memberi anak makan, orang tua perlu memberinya stimulasi-stimulasi pada perkembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotoriknya. Sel otak yang distimulasi dengan baik akan menyebabkan percepatan sel sarafnya. Sebaliknya, apabila tidak distimulasi, akan menyebabkan sel saraf patah yang berdampak pada keterlambatan periode berikutnya.

 

Hak anak keempat adalah hak berbicara. Penting bagi ibu dan bapak untuk selalu mengajak anaknya dialog. Kisah percakapan Ibrahim dan putranya Ismail adalah tauladan yang musti kita kaji secara mendalam. Ibrahim bertanya pada Sang Putra, “Wahai anakku, aku melihat dalam mimpiku aku menyembelihmu. Bagaimanakah menurut pendapatmu?” Sang Putra menjawab, “Laksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insyaallah Ayah akan mendapatiku sebagai orang yang sabar.”

 

Dalam konteks komunikasi, kita dapat melihat betapa indahnya jalinan komunikasi keduanya. Ibrahim adalah sosok bapak yang bijak, bukan semena-mena pada anaknya. Bila bapaknya arogan, mungkin saja sang bapak mengatakan, “Sini, Nak, aku akan menyembelihmu.” Si anak pun bisa saja menjawab, “Bapak ini apa-apaan? Gila po mau menyembelih anak sendiri?”

 

Ada sebuah ketulusan pada tiap pribadi bapak dan anak tersebut. Satu saja kesamaannya, yaitu kepasrahannya pada Sang Pencipta. Nah, keadaan tersebut tentulah  bukan sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba, namun dibangun secara bertahap sesuai dengan masa pertumbuhan anak. Masa perkembangan anak balita tentu sangat membutuhkan perhatian dan bantuan kedua orang tuanya. Pada masa remaja awal, remaja akhir dan dewasa juga membutuhkan perhatian yang berbeda. Pada usia remaja, anak lebih mendengarkan kata temannya.

 

Perkembangan remaja ini perlu disadari dan difahami oleh orang tua. Ketidakfahaman orang tua pada masa perkembangan remaja ini akan menyebabkan kerenggangan psikologis anak dan orang tua. Anak lebih mendengarkan apapun yang dikatakan teman, namun orang tua tersinggung karena merasa tidak dihormati anak. Hal ini menyebabkan tumbuhnya benih masalah pada anak dan orang tua.

 

Inilah pentingnya pendidikan anak usia dini, usia nol hingga 6 tahun. Stimulasi yang diberikan sesuai dengan usia anak adalah upaya memberikan hak perkembangan anak. Anak yang mendapatkan stimulasi ini akan tumbuh lebih mandiri dan percaya diri. Kecerdasannya pun akan berkembang secara bertahap dan pelan-pelan.

 

Sebaliknya, apabila anak hanya didiamkan saja dengan dalih “besok gede sendiri, ngerti sendiri” itu tidak benar. Tidak ada sesuatu yang terjadi tiba-tiba, termasuk juga kecerdasan dan kemandirian. Hanya kesediaan memberikan stimulasilah yang akan merubah segalanya. Pekerjaan ini memang tidak mudah. Membutuhkan kesabaran dan ketlatenan. Mengapa? Karena anak memang awalnya hanya bisa menangis. Tidak bisa mengatakan apapun. Ibu bapaknyalah yang musti memahami arti tangis anak. Di tangan ibu bapaklah pembentukan karakter anak dimulai. Inilah makna bahwa keluarga adalah sekolah pertama dan utama bagi anak.

 

Bagaimana bila sang ibu harus bekerja? Musti ada pihak yang membantu pelaksanaan tugas ibu, dialah surrogate mother, ibu pengganti. Ibu pengganti ini mulia juga tugasnya. Persoalannya adalah masyarakat masih memandang rendah pekerjaan surrogate mother dan memandang sebelah mata. Dampaknya adalah pembayaran rendah pada tugas mereka. Yang lebih parah adalah menyamakan tugas surrogate mother dengan tugas pembantu rumah tangga. Mereka layak disuruh ini itu untuk memenuhi kebutuhan sang anak, kapanpun ibu dan bapak membutuhkannya. Inilah ketimpangan yang masih terjadi dalam masyarakat kita.

 

Ketika anak mulai sekolah, anak dihadapkan pada system pendidikan Indonesia dengan seabrek kurikulum yang musti dicapai. TK, SD, SMP, hingga SMA, anak dipaksa menelan mentah apa yang diberikan guru. Seakan semua kebenaran adalah apa yang dikatakan guru. Jarang dibangun sikap diskusi dan musyawarah. Anak didik menjadi tidak terbiasa mengemukakan pendapat. Tak jarang pendapatnya direndahkan atau bahkan disingkirkan. Akibatnya anak enggan lagi bersuara.

 

Indonesia adalah negara kesatuan republic Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau dan suku-suku. Artinya, keragaman itu penting dan strategis untuk diajarkan pada anak-anak kita. Hanya pemahaman terhadap keragaman itulah yang akan mengantarkan sikap saling menghormati, saling mendukung dan saling menyempurnakan. Masih banyak agenda kita untuk memajukan anak-anak bangsa. Persatuan dan perdamaian itu dari kitalah yang akan mewujudkan. Siapa pun kita, di mana pun kita berada, mari kita jaga keluarga kita. Bangun budaya komunikasi dan saling menghormati, dimulai dari keluarga. Pendidikan sebaik apapun, anak kita selalu merindukan kedamaian keluarga. Jangan biarkan jiwanya hampa. Kosong tiada daya dan cita hanya akan menyebabkan anak lari mencari suatu yang tak pasti.

 

Mari bersama bangkit! Tidak ada kata terlambat untuk memulai.

 

Keluarga, marilah wujudkan kedamaiannya. Masyarakat, mulailah beri perhatian pada kesatuan keluarga-keluarga. Pendidikan, galilah potensi-potensi baik dalam diri anak didik. Sajikan kegiatan-kegiatan menarik yang menggugah potensi, minat dan bakat anak. Negara, mulailah serius dan penuh ketulusan memajukan Indonesia ke arah yang lebih baik. UUD 1945 adalah panduan kita bersama. Hanya kesucian niat dan tekad yang akan mampu membawa Indonesia kepada kemajuan dan kejayaan bangsa.

 

Klithih, sebagaimana penyakit social lainnya, saya yakin dapat kita tangani, akan sembuh, apabila secara bersama kita berupaya mengatasinya. Tak perlu menuding siapa-siapa. Kita hanya perlu bertanya pada diri sendiri, sudahkah kita ikut berperan mengatasi persoalan klithih?

 

Sesampai rumah nanti, sapalah anak dan istri/ suami Anda. Luangkan waktu sejenak untuk makan bersama dan shalat berjamaah bersama segenap anggota keluarga. Jangan buru-buru pergi kerja bakti atau ronda kampung. Pastikan anak dan istri telah kita ajak diskusi tentang pengalaman berharga yang didapatkan hari ini. Dengan langkah kecil semacam inilah, kita atasi persoalan klithih ini. Inilah hakikat pokja yang sebenarnya. Tebarkan salam. Tebarkan perdamaian. Salam semangat!

 

Yogyakarta, 15 Januari 2020

 

Sri Lestari Linawati, S.S., M.S.I. adalah Dosen UNISA (Universitas ‘Aisyiyah) Yogyakarta.

 

 

Pengajian Dasawisma Pundung RT 08

*Pengajian Dasawisma Pundung RT 08*

_Sri Lestari Linawati_

 

Ahad malam saya dihubungi Pak Ovi PRM Mlangi, “Assalamu’alaikum. Bu Lina, mbok saya minta tolong. Besok siang bu Lina memberi pengajian ibu-ibu dasa wiswa 50 orang. Jam 14.00 di Rt 08 Pundung.”

Karena yang meminta adalah tetangga dekat Unisa, maka segera saya iyakan, “Wa’alaikum salam. Nggih, Pak Ovi, insyaallah.” Saya yakin ikhtiar ini akan membaikkan hubungan Unisa Yogyakarta dengan masyarakat sekitar, itu saja, karenanya tidak akan saya tolak.

“Materi?” tanya saya. Pak Ovi menjawab, “Bebas”.

Saya bertanya lagi, “Ten dalemipun sinten, Pak?” Pak Ovi pun menjawab,
“Bu waring. Barat tempat saya, pojok barat utara asrama. Matur nuwun.”

Pada.hari dan jam yang ditentukan, segera saya meluncur ke lokasi. Berhubung saya belum hafal daerah Pundung, maka sempat keliling kampung.. haha.. Tak apa. Asyik saja, meski sedikit _gobyos_.

Sesampai di rumah Bu Waring, Bu Daroyah langsung mempersilakan saya menyampaikan isian.

Saya meminta hadirin menyanyikan sekali lagi shalawat yang dilantunkan di awal pertemuan. Bu Daroyah menjelaskan bahwa kita musti bershalawat atas Nabi kita sebagaimana pesan Al-Qur’an.

Nah,
materi saya mengajak hadirin memahami makna shalawat tersebut yang notabene berbahasa Arab. Menarik diskusi kecil kami sore itu. “Yach.. intinya bershalawat,” tanggapan seorang ibu. Arti per kalimat? Tidak tahu.

Saya mulai mengajak ibu-ibu melihat pariwisata Bali. Tari Kecak yang jadi salah satu ikon pariwisata Bali kan kegiatan ritual. Pertanyaannya, mengapa kita melakukan ibadah ritual namun tidak mampu muncul sebagai ikon wisata sebagaimana halnya Bali? Mulai ramai para ibu berbisik. Seorang ibu menanggapi, “Ibadah kan memang tidak untuk dipertontonkan?”

Alhamdulillah, saya suka dengan diskusi itu. Benar, ibadah tidak untuk dipertontonkan. Saya hanya ingin mengajak ibu-ibu faham dengan apa yang ibu katakan, senandungkan. Saya coba bandingkan dengan lagu berbahasa Indonesia dan berbahasa Jawa. Ibu-ibu pun komentar, “Wah… bagus..”

Wajah sumringah mulai menghiasi wajah ibu-ibu. Saya bersyukur. “Ya, Ibu-ibu.. Mengapa itu terjadi? Karena bahasa Arab memang bukan bahasa ibu kita. Itu bahasa asing bagi kita, maka kita wajib mempelajarinya. Bagaimana Al-Qur’an sebagai pedoman hidup bisa kita amalkan apabila kita tidak faham apa artinya? Motor kita tidak akan bisa berjalan bila bensinnya tidak ada, seperti itulah ibaratnya. Hadirin pun manggut-manggut puas.

“Kulo niku pun tuwo, pun mboten saget..,” kata seorang simbah. Saya sampaikan, “Simbah, bukankah kita dituntunkan untuk belajar sejak buaian hingga liang lahat?” Simbah pun memgingat kembali ajaran yang diyakininya itu, kemudian beliau pun menganggukkan kepala.

Usai acara dasawisma, saya mampir ke asrama Unisa yang letaknya berdekatan. Bakda maghrib, saya sempatkan diskusi kecil dengan mahasiswa asrama, yaitu hal doa khusyuk dan praktek kultum. Mereka tampak antusias.

Ternyata usai isya’ yang akan mengisi materi adalah Bu Warsiti Rektor Unisa Yogyakarta. Saya bahagia berkesempatan bisa tatap muka dengan beliau.

Ibadah kita lakukan dengan optimal. Kita berharap agar kita mampu menjadi pribadi takwa, yang ikhlas menghadapkan diri, jiwa dan raganya lillah, hanya semata untuk Allah swt. Jihad fi sabilillah.[]

 

Yogyakarta, 7 Januari 2020

Outbound: Bermain Menyenangkan dan Terarah

Outbond: Bermain Menyenangkan dan Terarah

 

Mezi dan Sri Lestari Linawati

 

“Cara terbaik untuk membuat anak-anak betah di rumah adalah menciptakan suasana yang menyenangkan dan jauh dari kejenuhan.” (Dorothy Parker)

 

 

  

Pada kegiatan Outbond Pesantren Pemimpin Muda Berkemajuan (PESPAMA) Gelombang 5 pada hari ini. Ahad,5 januari 2020, diikuti oleh 153 mahasiswi Prodi TLM dan Manajemen Unisa. Hujan yang turun sejak malam, kebetulan reda, sehingga outbound bisa diselenggarakan sesuai dengan rencana.

 

Ayunda Novi, Febri, Lia dan Maya dari Hizbul Wathan Kafilah Unisa Yogyakarta siap memandu permainan. Untuk kelancaran kegiatan, sebagian peserta diberi tugas membantu pelaksanaan. Ada 4 mahasiswi yang bertugas di tiap running, yaitu Mirna (kelompok 1), Khofifah (kelompok 2), Suci (kelompok 3), dan Fitri Datun Solang (kelompok 4). Adapun 2 mahasiswi bertugas sebagai time keeper, yaitu Teti rahmawati dan Erniwati Astuti. Puput dan satu mahasiswi bertugas dokumentasi gambar dan video. Adapun Mezi bertugas menuliskan pengamatannya. Ini sebuah pembelajaran kecil berorganisasi.

 

Ada 4 permainan dalam outbound kali ini, yaitu Ambil Pipet,Kaki Seribu, Estafet Sarung, dan Air Mengalir. Setiap permainan diberi waktu selama 10 menit, dilanjutkan ke permainan selanjutnya, hingga semua kelompok pernah melakukan keempat permainan yang tersedia.

Pada permainan Ambil Pipet, peserta dituntut mampu bekerja sama dalam mengambil pipet yang berada di wadah. Satu per satu pipet harus diambil. Ini butuh kerjasama dan kesabaran.

Di permainan Kaki Seribu, peserta berjalan dengan posisi semua peserta duduk dan mengaitkan  kakinya ke teman di depannya. Untuk berjalan peserta menggunakan tangan sebagai kakinya. Tak jarang kaitan peserta lepas, sehingga gagal sampai di garis finish. Peserta tiap sub kelompok diberi kesempatan untuk merundingkan strategi pencapaiannya. Ditandingkan lagi. Di sinilah peserta belajar berkomunikasi, membangun rasa saling percaya, saling mendukung dan kompak mencapai satu tujuan bersama.

Pada permaian Estafet Sarung, peserta diuji dalam kecepatan, kekompakan, dan manajemen waktu. Ingin berhasil sukses dalam waktu yang cepat adalah sifat manusiawi yang musti dilatih dalam kehidupan kita sehari-hari.

Terakhir, permainan Air Mengalir.  Permainan ini agak sulit dan sangat membutuhkan kerja sama yang baik dalam kelompok. Tanggung jawab tiap individu sangat menentukan keberhasilan kelompok. Nilai yang dapat diambil dari permainan ini adalah kerjasama, tanggung jawab, kecepatan, ketangkasan, dan manajemen waktu dengan baik.

 

Semua peserta semangat dan antusias di setiap pos permainan, meskipun awalnya mereka tampak enggan. Beberapa catatan yang masih perlu menjadi perhatian adalah masih ada peserta yang kurang percaya diri selama permainan, tidak memakai sepatu dan tidak memakai baju olahraga sebagaimana ketentuan.

         

Kegiatan outbound diakhiri dengan sarapan bersama dilanjutkan De Brief. Peserta menceritakan apa kesan dan pesan yang didapat selama Outbound. Kelompok 1 diwakili Tiara (TLM) menyampaikan bahwa kerjasama membutuhkan musyawarah, komunikasi yang baik antar anggota dalam kelompok. Kelompok  2 diwakili  Rifa (TLM) menyampaikan bahwa konsentrasi adalah fokus dalam tujuan yang ingin dicapai dalam kelompok. Kelompok  3 diwakili Meri (TLM) menyampaikan bahwa saling percaya adalah komitmen dalam kelompok . Kel 4 diwakili Amelia (Managemen) menyampaikan bahwa komunikasi penting demi kelancaran dalam kerjasama di dalam kelompok, agar komunikasi  lancar perlu dilakukan musyawarah.

Satu Pohon untuk Negri, dari Orang Tua Murid

# Orangtua Murid Menanam

# Satu Pohon untuk Negri, dari Orang Tua Murid

 

Oleh: Sri Lestari Linawati

 

Program “Satu Pohon untuk Negri” berikutnya adalah untuk orang tua. Kebetulan hari jumat pagi para murid juga sedang praktek menanam, sehingga pagi itu suasana ‘gayeng’. Beberapa murid perempuan antusias membantu saya menyiapkan segala sesuatunya.

 

Murid kelas 4 itu didampingi mbak Afifah dan mbak Annisa menanam di depan kelas mereka. Mbak Mia juga sempat hadir dalam keterbatasan waktunya. Teman-teman Rumah Baca Komunitas ternyata juga hadir dengan pasukan lengkap dan peralatan lengkap. Cangkul pun dibawa serta. Hadir di antaranya adalah Kak Dafrin, Kak Sanny, Kak Sahrul Pora, Kak Arief, Kak Lukman.

   

 

Untuk kelas orang tua murid, kegiatan diselenggarakan di masjid sekolah. 60% undangan hadir. Maklum, ternyata hari ini ada beberapa sekolah yang raportan, tidak semuanya Sabtu. Meski demikian, acara tetap berlangsung meriah.

 

Program “Satu Pohon untuk Negri” saya sampaikan dengan sederhana dan gamblang. Berawal adanya tugas mendampingi mahasiswa Bioteknologi untuk melakukan dakwah masyarakat, muncullah ide dimitrakan dengan pihak-pihak terkait. Singkat cerita, jadilah program kali ini, Satu Pohon untuk Negri, kerjasama Bioteknologi Unisa Yogyakarta, Komite SDN Kanoman, Rumah Baca Komunitas, Bank Wakaf Mikro Unisa (Usaha Mandiri Sakinah) dan BRI Syari’ah.

 

Kepala SDN Kanoman yang diwakili Pak Wahid menyampaikan pentingnya kegiatan menanam ini. Dalam pelajaran, masih banyak anak yang tidak tahu bagaimana bentuk tanaman ubi, misalnya. Dalam konteks inilah, kegiatan menanam dirasakan sangat menunjang pembelajaran sekolah.

 

Hadir pada kesempatan ini dari Bank Wakaf Mikro Unisa adalah mbak Devi dan mbak Mera. Beliau memaparkan apa dan bagaimana Bank Wakaf Mikro itu. Pinjaman usaha tanpa bunga ini misalnya pinjaman satu juta rupiah, pengembalian juga satu juta rupiah. Diangsur 40 kali, jadi tiap angsuran sebesar 25 ribu. Tiap pertemuan angsuran itu ada bermacam kajian, baik bagaimana memajukan usaha, bagaimana memandirikan usaha, bagaimana komunikasi dalam keluarga dan hal terkait lainnya sesuai dengan visi misi BWM Unisa.

 

Pak Afif Sumariyanto dari Bank BRI Syari’ah menyampaikan terima kasih dan penghargaan adanya inisiatif program Satu Pohon untuk Negri ini. Simpel atau Simpanan Pelajar ini sangat simpel, sederhana. Hanya seribu rupiah sudah bisa buka rekening. Kenapa? Ini untuk edukasi, pendidikan menabung pada anak. Caranya cukup mudah. Fotocopy KK dan KTP Bapak/ Ibu untuk kelengkapan datanya, sedangkan buku tabungannya adalah atas nama anak.

 

Apa hubungannya menanam dan menabung Simpel? Hasil jual panen tanaman murid yang ditabung ini akan membawa sebuah kepuasan rasa “Ini hasil jerih payah kami”. Nilai ini diharapkan mampu menanamkan rasa tanggung jawab dan kemandirian pada diri murid.

 

Adapun Rumah Baca Komunitas, diwakili juru bicaranya, Kak Dafrin, menyampaikan dukungan penuh terhadap program Satu Pohon untuk Negri ini. “Kami senang dilibatkan juga dalam program ini karena menanam adalah juga bagian program kami. RBK “Membaca Menulis Menanam”, kata mas Dafrin.

  

Acara inti menanam dipaparkan oleh Ody, mahasiswa Bioteknologi Unisa Yogya. Orang tua murid mendengarkan dengan antusias, terlebih setelah dilakukan pembagian bibit tanaman cabe dan terong, polybag dan pupuknya. Otomatis pertanyaan-pertanyaan mengalir dari para peserta. Ketiga mahasiswa yang bertugas, yaitu Ody, Nia dan Dinda, tampak sibuk melayani pembagian benih kepada peserta dan menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan.

Tentu ada sebuah perasaan lega, bahagia, haru dan bangga. Ini memang baru langkah awal. Pohon pun masih kecil dan baru ditanam. Kami baru berkumpul. Namun semangat yang tampak di wajah murid maupun orang tua murid, memberikan harapan bagi kami, yaitu kesuksesan.

 

Perlu kami tuliskan langkah kecil di awal ini sebagai rasa syukur kami atas nikmat Allah yang tidak terhingga. Kami yakin atas ijinNya saja pertemuan itu bisa terlaksana. Semua unsur bisa hadir dalam forum menanam “Satu Pohon untuk Negri” ini: SDN Kanoman, Komite SDN Kanoman, Bioteknologi Unisa Yogya, Rumah Baca Komunitas, Bank Wakaf Mikro dan BRI Syari’ah.

 

Dengan tetap memohon ridha Allah, kami semua berharap agar langkah ini bisa berjalan lancar, ditindaklanjuti dengan baik dan sesuai dengan rencana.

 

Hendaklah ada rasa takut pada orang-orang yang sekiranya meninggalkan keturunan tak berdaya setelah mereka, khawatir akan nasib mereka. Maka takutlah kamu kepada Allah dan hendaklah berbicara dengan tutur bahasa yang penuh kasih sayang.

“Nggih, Bu, sami-sami. Kami selaku mahasiswa berterima kasih kepada Ibu Lina selaku dosen pengampu mata kuliah AIK yang telah memberikan kami kesempatan untuk bisa berdakwah menyampaikan ilmunya pada masyarakat. Kami selaku mahasiswa mendapatkan manfaat dan pengalaman yang amat sangat berharga. Terima kasih atas bimbingan dan arahannya, Ibu. Terima kasih juga kepada pihak-pihak yang terlibat untuk menyukseskan penyelenggaraan program menanam ini,” kata Ody mewakili tim kali ini.

 

 

Yogyakarta, 21 Desember 2019

 

Sri Lestari Linawati akrab disapa Lina. Pegiat literasi ini adalah penggagas BirruNA, PAUD Berbasis Alam dan Komunitas. Aktif di RBK, Komite SDN Kanoman dan kini mengabdi sebagai dosen Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta.

Asrama Unisa Yogyakarta

Sore, Petang, Malam di Asrama Unisa

Hari ini saya bertugas di asrama Unisa. Ini adalah kegiatan asrama gelombang 3. Dua gelombang sebelumnya adalah asrama bagi mahasiswa laki-laki. Delapan gelombang berikutnya, dimulai gelombang 3 ini, adalah kegiatan asrama bagi mahasiswa perempuan. Terdapat 154 mahasiswi prodi S1 Arsitektur dan prodi S1 Gizi.

Pagi tadi saya mengajar AIK Praktikum pertemuan keenam Prodi S1 Fisioterapi di kampus 1 Serangan. Setelah menunaikan tugas-tugas di kampus 1, segera saya meluncur ke asrama. Cuaca terik sekali siang tadi di Yogyakarta. Menyengat. ‘Gobyos’ dibuatnya. Namun entah bagaimana, saya tetap merasa adem dibuatnya. Keindahan alam tampak amat sangat nyata. Bangunan-bangunan di kanan kiri bahu jalan berjajar rapi. Kendaraan lalu lalang, menandakan berputarnya aktivitas ekonomi. Tiap orang berpencar mencari karunia Allah yang tersebar di semesta bumi. Persediaan air mulai menyusut di banyak tempat, namun pepohonan di sana-sini tampak masih hijau. Menandakan adanya jatah air untuk kehidupan pepohonan. Dedaunan menari-nari lembut diterpa angin. Lekukan awan terlukis indah mewarnai langit. Pesawat terbang yang terbang melambat, tampak pelahan memasuki bandara Adisutjipto Yogyakarta.

 

Sesampai asrama, tampak Pak Satpam sedang berbincang dengan tiga bapak. Beliau baru selesai mengerjakan lahan parkir asrama. Seusai koordinasi dengan mbak Nida admin asrama, sesuai dengan ketugasan yang diberikan pada kami, yaitu jam 17.00, saya ke depan melihat keadaan. Langit mulai tampak kekuningan. Burung-burung beterbangan pulang ke sarangnya. Di mana ya sarang mereka? Saat pagi mereka pergi ke mana? Selama seharian apa saja yang mereka lakukan? Duh, teramat banyak yang tidak kita ketahui dalam hidup ini. Sudahlah, yang jelas, burung-burung itu membuat saya takjub. Beterbangan dengan bebasnya. Terkadang mengepakkan kedua sayapnya. Terkadang mereka terbang dengan sayap telentang. Naik turun. Lurus. Masyaallah. Allahu akbar.

Mahasiswa mulai berdatangan dari kampus. Satu per satu memasuki asrama. Memarkir motor mereka di tempat parkir depan dan belakang. Memarkir motor pun menjadi media berlatih mandiri pada diri mahasiswa. Nilai-nilai semacam inilah yang menjadi dasar pembentukan karakter yang nantinya akan melekat pada diri mahasiswa. Di asrama, mahasiswa juga belajar bersabar karena mereka harus antri. Mereka pun belajar hidup dalam kebersamaan, mengaji dan mengkaji.

 

Shalat maghrib dilakukan secara berjamaah, dilanjutkan dzikir. Imam shalat dipilih dari tiap kelompok mahasiswa yang ikut asrama. Musyrifah yang merupakan kakak kelas Unisa semester 3 ke atas, adalah mahasiswa BIP (Beasiswa Ikatan Persyarikatan). Untuk kemudahan pendampingan mahasiswa, di tiap lantai ada musyrifah yang bertugas. Adapun pengelola asrama dan dosen LPPI bergiliran tugas jaga di asrama, sejak jam 17.00 hingga keesokan harinya jam 05.30 WIB.

 

Usai makan malam dilanjutkan shalat isya berjamaah di aula. Materi yang merupakan kajian tematik ini diharapkan mampu memberikan wawasan dan penguatan pada diri kader. Ketua MPK PP ‘Aisyiyah yang sehari-hari sebagai dosen Farmasi UMY ini bernama Ibu Dra. Salmah Orbayyinah, M.Kes. Beliau menyampaikan materi “‘Aisyiyah sebagai Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan”.

 

Paparan beliau runtut sejak awal hingga akhir. Diskusi antarkelompok juga merupakan pembelajaran yang menarik. Materi diakhiri dengan bersama menyanyikan theme song Mars Muktamar Muhammadiyah 48. Ya, sekitar enam bulan lagi akan kita ikuti bersama Muktamar Muhammadiyah ke-48. Itulah perhelatan akbar Muhammadiyah ‘Aisyiyah. Selamat dan sukses, Muhammadiyah ‘Aisyiyah.. Semoga Allah melimpahkan karuniaNya yang tidak terhingga pada kita semua menuju Indonesia Berkemajuan.[]

Semnas AIK dan ALAIK PTMA

Semnas AIK dan ALAIK PTMA

 

 

Sri Lestari Linawati

Semnas AIK pertama di UMS diadakan Desember 2018. Saya hadir sebagai utusan UNISA (Universitas ‘Aisyiyah) Yogyakarta, bersama Pak Iwan dan Pak Royan. Semnas tersebut satu rangkaian dengan call for paper dan bussiness meeting. Awalnya saya juga tidak faham apa itu bussiness meeting. “Apa hubungannya dengan AIK? Apakah di AIK akan dibentuk semacam jaringan pengusaha?” Saya ikuti saja alurnya. Ternyata, bussiness meeting itu membahas berbagai persoalan AIK di PTMA. Singkat cerita, bussiness meeting waktu itu memutuskan perlunya dibentuk kepengurusan bernama asosiasi lembaga al-islam kemuhammadiyahan, yang disingkat ALAIK.

Kepengurusan ALAIK segera disusun. Diajukan ke Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah. “Dilengkapi biodata,” saran Diktilitbang. Ternyata, tak mudah mengumpulkan biodata dimaksud. Sudah diopyak-opyak via grup whatsapp asosiasi lembaga AIK pun responnya hanya satu dua. Dijapri pun membuahkan hasil yang amat sangat lama. Membutuhkan kesabaran yang super duper ekstra. Walhasil, waktu kian mepet, sedangkan SK sebaiknya segera diturunkan, untuk memberikan kejelasan arah dan sikap. Terbitlah SK Kepengurusan ALAIK PTMA, isinya hanya sebatas pengurus harian dan koordinator divisi. Mengapa? Karena hanya data tersebut yang sudah siap.

Hari semnas 2 AIK Umsida kian dekat. Persiapan pelantikan pun dilakukan. Koordinasi antara ALAIK PTMA, Umsida dan Majelis Diktilitbang PPM dilakukan. Alhamdulillah rangkaian semnas 2 AIK Umsida berjalan lancar, pelantikan juga terselenggara sesuai dengan rencana. Mengharukan. Membanggakan. Syukur pada Allah atas segala karuniaNya.

Kerja ALAIK PTMA membentang luas di depan mata. Ada banyak agenda persoalan AIK yang musti dipecahkan oleh ALAIK. Paket kerja ALAIK harus dilanjutkan: semnas, call for paper dan bussiness meeting. Three in One. Semnas AIK merupakan penyegaran terhadap substansi AIK. Call for paper adalah partisipasi aktif AIK di bidang karya ilmiah. Bussiness meeting adalah forumnya membahas persoalan-persoalan AIK PTMA.

Bagaimana dengan peningkatan kualitas dosen AIK? Ya, ini akan dibahas dalam program kita selanjutnya.

Bagaimana dengan interneisyenel conference AIK? Desember 2019 ini UMS memulainya. Sedih juga tidak bisa mengejar deadlinenya karena penelian saya belum kelar. Namun demikian, terselip rasa bangga atas kesediaan UMS mengibarkan forum itu. Ke depan, interneisyenel conference diharapkan jadi fokus garapan ALAIK PTMA juga.

Omong-omong, ada berapa sih jumlah PTMA kita? Infonya, hingga awal November 2019, terdapat 165.

Apakah semua PTMA telah memiliki lembaga AIK? Nah itu dia.. belum! Nah, tugas ALAIK PTMA untuk mensupport terbentuknya lembaga AIK di setiap PTMA.

Mudahkah?
Mudah..

Hla gimana mudah, wong ngumpulin biodata saja susahnya minta ampyun..?

Hla ya diusahakan satu per satu.. Ok?

Sejumlah 165 PTMA itu? 😳

Hla iya..

Wuik!

Bismillah..

Oke.. oke..

Lalu apa langkah pasca semnas 2 AIK Umsida?

ALAIK PTMA akan segera audiensi dengan Majelis Diktilitbang PPM, Konsorsium Nasional LPPM PTMA, dan juga Majelis Dikti PP ‘Aisyiyah.

Apa agenda semnas AIK berikutnya? Telah ada beberapa kampus yang inden sebagai host semnas, al UMSU (tahun 2020), UM Metro Lampung (2021), UM Surabaya (2022) dan UHAMKA (2023).

 

Bagaimana kesiapan dana ALAIK? Bussiness meeting pertama di UMS telah memutuskan adanya iuran satu juta rupiah tiap PTMA per tahun.

Apakah yang dimaksud dengan virtual account ALAIK PTMA?

Virtual account ALAIK PTMA atau selanjutnya disingkat VA adalah metode pembayaran iuran ALAIK PTMA dengan aplikasi bank. Dengan sistem ini, tiap PTMA akan mengirimkan iurannya secara mudah dan praktis. Online. Data PTMA yang mentransfer iurannya akan langsung terekam di dalam sistem. Misal PTMA X mentransfer iurannya pada hari, tanggal, jam berapa.

Apa manfaatnya untuk ALAIK PTMA?

Tentu sistem ini akan memudahkan manajemen keuangan. ALAIK akan bisa segera mendeteksi PTMA mana saja yang sudah kirim maupun yang belum, dengan sekali klik. Transparansi keuangan antara sesama pengurus maupun dengan anggota diharapkan dapat terwujud. Kepercayaan antar individu itulah nilai dasar yang perlu kita bangun. Tanpa adanya rasa saling percaya, saling menghormati, saling mendukung, tidak mungkin kegiatan AIK PTMA berjalan baik. Itu karena AIK adalah core values.

Kembali tentang virtual account atau VA. Bagaimana mekanismenya?
1. Bendahara ALAIK akan mendata satu nama dari PTMA di link
http://bit.ly/datalembagaAIKptma
2. Bendahara akan mengirimkan informasi tagihan iuran ke PTMA dan memberikan nomor VA ke email person yang telah ditunjuk PTMA yang namanya telah diisikan di link no 1 di atas.
3. PTMA mentransfer iurannya pada ALAIK PTMA dengan nomor VA yang telah diberikan dari bank manapun, baik langsung dari bank ataupun dari ATM.
4. Setelah transfer, otomatis PTMA akan memperoleh bukti pembayaran. ALAIK PTMA juga otomatis mengetahui adanya dana masuk dari PTMA tersebut, tanpa harus menunggu konfirmasi dari pengirim, apalagi bertanya-tanya ini kiriman dari siapa.

Mengapa ikhtiar ini perlu kita lakukan?

Karena agenda pengembangan AIK di PTMA ada banyak, maka sudah semestinya kita memulai langkah ini. Tidak mudah memang, namun saya yakin ini menjawab persoalan kita. AIK adalah core values PTMA yang musti kita carikan solusi alternatif-alternatif pengembangannya. Kebijakan-kebijakan AIK PTMA yang telah berhasil dirumuskan oleh Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah dan Majelis Dikti PP ‘Aisyiyah perlu ditindaklanjuti dalam dataran kongkrit kehidupan PTMA. Denyut nadi PTMA terus berdetak. ALAIK PTMA sudah saatnya tampil menjadi waltakun minkum ummatun yad’una ilal khair wayakmuruna bil ma’ruf wayanhauna ‘anil mungkar segolongan umat yang menyerukan kebaikan, mengajak kebajikan dan mencegah kemungkaran.

Tidak semua persoalan AIK bisa diselesaikan oleh ALAIK PTMA. Setidaknya kita bersama memiliki semangat untuk memikirkan, mengkaji dan menyelesaikan persoalan AIK PTMA, setahap demi setahap. Sak uprit tak apalah. Konsisten dan istiqamah semoga bisa kita lakukan terhadap langkah kecil kita. Kepada Allah jua kita serahkan segala daya dan upaya.[]

Yogyakarta, 24 November 2019.

Sri Lestari Linawati akrab disapa “Lina” ini sehari-hari mengabdi sebagai dosen UNISA Yogyakarta. Tinggal di Kanoman, Banyuraden, Gamping, Sleman. Pegiat literasi ini suka blusukan dari kampung ke kampung untuk mencerdaskan anak Indonesia. Allah menganugerahkan kecerdasan pada tiap individu, kita mengenalnya “multiple intelligence”, kecerdasan majemuk. Pelajaran ini Lina dapatkan dari empat buah hatinya, hasil pernikahannya dengan Arief Budiman Ch yang akrab disapa “Adim”.