Skip to main content

Sukses Outbound Bersama IMM

Outbound adalah kegiatan hari terakhir Propemka (Program Pembentukan Karakter). Tahun 2018 ini outbound digelar untuk Propemka gelombang 1, 2, 4, dan 5. Belajar dari gelombang pertama, maka di gelombang 2 diusahakan ada tim dari mahasiswa. Tak ada rotan, akar pun jadi. Tak ada mahasiswa HW, mahasiswa IMM pun jadi.

 

Petang, hari pertama Propemka Gelombang 2, terkumpul 8 Immawati berdasarkan informasi dari IMM. Lina selaku fasilitator Outbound Management Training Tingkat Nasional Hizbul Wathan yang diberi amanah Outbound Propemka 2018 menyampaikan maksud dan tujuan penyelenggaraan outbound. Lina juga meminta kesediaan tiap Immawati. Memahami permainan dan melakukan dengan keikhlasan diharapkan dapat melancarkan jalannya permainan dan membuahkan karakter yang diharapkan.

 

Kedelapan Immawati itu bersedia membantu pelaksanaan Outbound Propemka antara lain:

  1. Ariyanti, Keperawatan, asal Magelang (2,4,5)
  2. Irma Handayani, Keperawatan, asal Sumbawa (2,4,5)
  3. Risna Irawati, D4 TLM, asal Luwuk Sulsel (2,4,5)
  4. Nurul Azizah, D4 TLM, asal Kulonprogo (2,4,5)
  5. Sri Bulan, Psikologi, asal Sulteng (2,4)
  6. Ogi Oprilia, Keperawatan, asal Cilacap (2)
  7. Baiq Annisa, Biotek, asal Lombok (2)
  8. Wahyuni, Biotek, asal Kota Yogyakarta (2)

 

Tema outbound ini adalah “Kepemimpinan dan Manajemen Konflik”. Permainan yang dilakukan sebagaimana outbound pertama, yaitu Ball Tossing, Birthday Line up, dan Blind Train. Pada permainan Ball Tossing peserta akan berlatih mengikuti ketentuan yang berlaku, mengenal nama dan asal kota teman  satu kafilah, focus pada tujuan, kerjasama, kecepatan dan ketepatan. Pepatah mengatakan “tidak kenal, maka tidak sayang”. Ini menunjukkan bahwa saling mengenal itu penting. Nama teman dan berasal dari kota mana, diharapkan dapat meningkatkan saling pengertian akan budaya dan karakter tiap teman. Kerjasama, dengan demikian, dibangun dari sebuah rasa saling percaya. Kerjasama juga diharapkan memfasilitasi setiap pribadi menjadi lebih baik dan kian sempurna di hadapan Allah.

Pada permainan “Birthday Line Up”, peserta diajak melatih kekompakan tim menuju satu tujuan bersama. Setiap anggota mempunyai peran penting dalam pencapaian kesuksesan. Oleh karena itu kerjasama menumbuhkan semangat setiap individu untuk ikut berperan menyukseskan program. Ada kepedulian, empati. Diskusi dalam kelompok dilakukan agar dapat mengatur teknik dan strategi yana perlu dilakukan oleh tiap anggota kelompok.

 

Permainan “Blind Train” mengajak peserta kian meningkatkan kerjasama kelompok. Tantangan lebih besar lagi. Kepedulian, partisipasi dan peran tiap anggota sangat dibutuhkan bagi pencapaian sukses. Masalah yang timbul dalam kelompok harus dapat diatasi bersama. Rasa saling mempercayai, dengan demikian, menjadi urgen dan strategis untuk dilakukan. Tanpa adanya rasa saling percaya, sukses bersama mustahil dapat dicapai. Kepercayaan itu dilakukan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Pemimpin menjalankan tugasnya sebagai pemimpin, anggota pun menjalankan tugasnya sebagai anggota. Setiap bagian penting karena merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan satu dengan yang lain.

 

Permainan hari ini, Sabtu, 27 Januari 2018, berlangsung di halaman depan UNISA sisi utara. Hari ini UNISA Yogyakarta mempunyai 5 acara besar. Propemka sebagai agenda rutin tahunan bagi mahasiswa baru, kali ini digelar dalam 6 gelombang. Acara lainnya adalah Workshop Internasionalisasi Institusi, Peringatan Hari Gizi, Workshop Keperawatan dan Seminar Kebidanan. Pemanasan bagi peserta outbound pun dilakukan bersama dalam Senam memperingati Hari Gizi. Tepat guna dan saling menguntungkan.

 

Ini adalah beberapa komentar peserta Outbound 27 Januari 2018 yang dapat kami himpun.

  1. Ilmi Oktaviani, D3 Kebidanan, Kafilah Satu.

“Permainan Ball Tossing memberikan hikmah bahwa kita harus selalu fokus, cekatan, membutuhkan kerjasama yang baik, mengingat, manajemen waktu. Saya menyadari bahwa kejadian atau gambaran tentang masalah yang terjadi pada game tersebut ada di kehidupan pribadi saya maupun di dunia kuliah.

Dalam menerima bola yang dilempar juga harus cekatan agar tidak jatuh dan salah terima. Kita juga harus teliti dalam hal apapun agar tidak ada kesalahan. Apalagi kami sebagai calon tenaga kesehatan yang seharusnya bisa melayani pasien dan masyarakat dengan baik.

Permainan Birthday Line Up melatih kerjasama, kepercayaan, kekompakan, cekatan, teliti. Kita harus selalu bekerjasama dalam satu kelompok atau dalam suatu organisasi agar selalu bisa mencapai tujuan yang diinginkan. Manajemen waktu sangat dibutuhkan.

Permainan Blind Train melatih kepemimpinan, kepercayaan, kerjasama, manajemen konflik, kepekaan, manajemen waktu.Masing masing dari kita adalah pemimpin, jadi setiap diri kita juga harus bisa memimpin diri kita sendiri agar bisa memimpin oranglain.

Banyak yang bisa saya dan teman teman ambil dari permainan yang telah diberikan oleh panitia. Kepemimpinan, kerjasama, manajemen waktu, kepercayaan itu sangatlah dibutuhkan di dalam kehidupan kita, apalagi pada suatu kelompok atau organisasi.”

 

  1. Elvira Kartika N, D4 Teknologi Laboratorium Medis (TLM), Kafilah 7.

“Dari 3 game yang kami lewati kami bisa lebih mengenal teman-teman, hafal nama daerahnya, belajar lebih kompak dan lebih kreatif.  Luaaar biasaa 🤩”

 

  1. Shalma Alya Fadilla, D3 Kebidanan, Kafilah 8

Banyak sekali makna yang dapat diambil, diantaranya kerjasama yang baik. Seorang pemimpin tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, apabila tidak ada dukungan dari anggotanya.

Selain itu, menjadi seorang pemimpin harus bisa mengkondisikan anggotanya. Mulai dari ketepatan waktu, cara yang efektif dan efisien untuk menyelesaikan suatu masalah, berani mengambil resiko serta sabar menghadapi persoalan di komunitasnya.

Dan permainan ini melatih beberapa sikap seperti manajemen konflik, melatih konsentrasi dan kerjasama.

  1. Luthfy Nur Fadhila Putri, D3 Kebidanan, Kafilah 9

Kesan yang dapat dipetik dari ketiga permainan  tersebut adalah kekompakan, kepekaan dalam merespon perintah, dan berkeinginan untuk mencapai suatu keberhasilan. Dapat saya simpulkan bahwa kita butuh kerjasama antara anggota satu dengan yang lain.

 

  1. Dina Riska Anisa, D3 Kebidanan, Kafilah 11

Dapat bekerja sama dengan tim, mengatur waktu sedisiplin mungkin, memahami satu sama lain, konsentrasi, dan memecahkan masalah secara kelompok.

 

  1. Aprialis, D3 Kebidanan, Kafilah 12

Hari ini saya dan kelompok saya mengikuti 3 permainan. Dalam permainan tersebut kami mendapatkan pengalaman baru dan pelajaran. Permainan ball tossing mengajarkan kami untuk mengenal lebih jauh nama teman dan asal daerah teman, fokus dan lebih berhati-hati.

Permainan Birthday Line Up mengajarkan kami untuk fokus, berhati-hati, peka terhadap temannya, kompak dan kerja sama yang baik. Dari permainan Blind Train kami belajar fokus, kompak, peka, koordinasi dengan baik, percaya bahwa pemimpin bisa memandu, dan pemimpin harus cepat dalam mengambil keputusan.

 

  1. Safitri Anda Resta, D4 TLM, Kafilah 13

Kita menjadi lebih banyak mengenal satu sama lain teman-teman TLM, melatih kekompakan, kerjasama tim, manajemen waktu, melatih kesabaran, dan harmonisasi dalam kerja kelompok. Kami berharap dapat mengaplikasikannya dalam dunia kerja yang nyata.

 

  1. Lisa Wahyuningrum, D4 TLM, Kafilah 14

Banyak pelajaran yang dapat kami ambil. Melatih kesiapan, kesigapan, kecepatan dan saling mengenal satu dengan lainnya. Pada permainan Birthday Line Up kita dapat belajar  tentang kepentingan mengatur strategi dan kerjasama dalam mencapai suatu tujuan dengan cepat dan tanpa kesalahan.

Permainan Blind Train memberikan pelajaran pentingnya seorang pemimpin dan kerjasama dalam suatu kelompok.

 

  1. Indi Rafani Ayu Ranaris, D4 TLM, Kafilah 16

Kami mengalami kegagalan dalam permainan tersebut. Faktor penyebab kegagalan kami adalah kurangnya komunikasi, strategi, dan menegemen waktu. Kami mendapatkan pelajaran: 1. Team work dan kekompakan, 2. Menambah keakraban, 3. Menambah wawasan, 4. Mengetahui asal daerah dari teman satu tim, 5. Menambah daya ingat, dan 6. Belajar komunikasi dalam suatu tim.

Pada permainan pertama, Birthday Line Up, kami belajar bahwa dibutuhkan kecepatan, baik kecepatan dalam pemecahan masalah maupun kecepatan dalam melakukan pergerakan / perpindahan. Dibutuhkan juga ingatan tentang ciri fisik teman maupun data diri seperti tanggal lahir, strategi dan pemahaman. Tidak boleh ada kesalahan.

Pada permainan kedua, Blind Train, kami kurang mulus. Banyak sekali kesalahan seperti berbicara, tertawa, dan menendang rintangan sebanyak 2x. Dari permainan ini kami belajar fokus yang tinggi, ketepatatan pemandu/ pimpinan memberikan arahan, anggota juga harus respon terhadap arahan, cepat, diperlukan kepercayaan pada orang di belakang yang memberikan arahan.

Pada permainan ketiga, Ball Tossing, terjadi 1 kesalahan,  yaitu bola jatuh, tidak berhasil ditangkap. Kami belajar perlunya self control agar tidak panic. Panik dan gugup akan menyebabkan tidak bisa menangkap bola dan sulit menyebutkan nama serta asal kota teman. Juga sangat diperlukan fokus, agar dapat menyebutkan nama teman dan asalnya dengan benar. Dari permainan ini kita dapat menghafal lebih mudah tentang teman kita.

Dari ketiga permainan itu dapat disimpulkan bahwa setiap individu harus belajar fokus, untuk juri dibutuhkan kejujuran dan ketelitian dalam menilai permainan, untuk pemimpin  dibutuhkan kesabaran dalam memimpin dan kebijaksanaan, bagi anggota di dapatkan kemampuan melatih fokus, sabar, insting kuat, kepercayaan,  kekompakan.[]

Outbound Propemka UNISA 2018

Saya tidak tahu persis dari mana saya harus memulai tulisan ini. Hujan terus turun sejak tadi sore, seakan menyapa kehambaan kita. Allah ada, selalu mencipta dan mencipta. Hati terus bergulat antara sifat kemanusiaan dan jiwa yang akan kembali pada Sang Pencipta. Saya pun manusia biasa, butuh perjuangan untuk menghadirkan Allah dalam kehidupan sehari-hari.

 

Kemarin sore, sepulang dari kampus, sangat ingin segera menuliskan terima kasih saya pada Pak Emcho yang telah mengirimkan buku terbarunya “Virus Emcho”. Saya belajar hakikat dan makna ketulusan dari sosok Alumnus International Writing Program di University of Iowa (1993). Hahaha.. lagi-lagi saya dihadapkan pada makna iman. Iman yaitu keyakinan yang diucapkan, diyakini dalam hati dan dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Maksudnya?

 

Begini. Saat hendak menulis, tiba-tiba Bu Islam dan Pak Royan meminta saya memandu outbound untuk “besok pagi” (tadi pagi, red). Gedubrak! Besok pagi! Tak ada pendamping pula dari Hizbul Wathan Kafilah UNISA. Mardatillah ketua UKM HW untunglah segera menghubungi saya. Dia menyampaikan maaf karena tidak bisa membantu. Mahasiswa sudah pulang liburan, lainnya sedang tunaikan kewajiban praktikum.

 

Sebagai manusia biasa, jujur saya bingung dan agak nervous. E.. hla kok ya ndilalah baru saja saya belajar memahami hakikat dan makna ketulusan. Mengambil ibrah ketulusan dari sosok Kepala Pusat Bahasa UNESA ini, mendorong saya melaksanakan saja tugas itu apa adanya, semampunya. Pasrah saja. Siapapun dan berapapun yang akan membantu outbound, saya berserah diri saja kepada Allah. Teknik dan strateginya baru bisa disusun lanjut setelah tahu berapa kekuatan yang dimiliki.

 

Jam 07.00 koordinasi persiapan Outbound di ruang transit dosen Gedung B lt 1 UNISA. Ternyata hanya Bu Devin seorang. Bismillah.. Briefing singkat, bla.. bla.. bla.. Jam 07.30 acara dimulai. Alhamdulillah outbound propemka yang diikuti 250 mahasiswa Perawat dan Gizi dapat berlangsung sesuai dengan rencana. Game Ball Tossing, Birthday Line Up dan Blind Train digelar untuk tema “Kepemimpinan dan Manajemen Konflik”. Saat debriving, mahasiswa menyatakan senang dan mengambil hikmah dari ketiga permainan tersebut. Alhamdulillah. Allah akbar. Kuasa Allah saja.

 

Berikut adalah komentar mahasiswa tentang outbound “Kepemimpinan dan Manajemen Konflik”

 

Nama : Eko Arvin Witanto/ Ilmu Keperawatan 1B

Alhamdulillah Bu hari ini senang sekali. Setelah 3 hari 2 malam mengikuti acara Propemka, dilanjutkan outbound.  Rasa penat dan bosan hilang seketika. Kita diajarkan tentang kepemimpinan dan manajemen konflik, Di sini saya belajar bahwa jadi pemimpin itu susah. Pemimpin dituntut untuk  tanggungjawab, amanah, dan adil. Untuk apa? Demi terlaksananya kelompok/organisasi yang kompak dan berkemajuan. Terima kasih ilmunya, Bu 🙏😊

 

Nama: Komang Doniawan/ Ilmu Keperawatan 1B

Kesan kesan saya selama mengikuti Propemka selama 3 hari ini sangat menyenangkan, menarik dan menambah pengalaman yang luar biasa .

Dari ketiga permainan “Kepemimpinan dan Manajemen Konflik”, menurut saya, kita tidak begitu mudah menjadi seorang pemimpin yang baik. Kita harus melewati banyak  rintangan untuk menjadi pemimpin yang cerdas dan tegas. Bagaimana mengarahkan ke depannya agar lebih baik, sangat diperlukan dari seorang pemimpin.

 

Nama : Dian Alifah Kumala Dewi/S1 Gizi

Menurut pendapat saya, dari permainan “Kepemimpinan dan Manajemen Konflik” saya belajar  bagaimana cara memanaj atau mengatur konflik agar dapat terpecahkan. Dengan cara berkoordinasi dengan anggota, sebagai pemimpin harus bisa mengatur dan meminimalisir kesalahan tersebut. Dan sebagai anggota harus menuruti perintah pemimpin dan mampu bekerja sama dengan anggota lain maupun pemimpin. Sebagai anggota juga harus menerima pendapat orang lain agar misi dapat tercapai. Dan sebagai pemimpin harus bisa mengatur bagaimana strategi agar  misi tercapai dan akhirnya konflik tersebutdapat terpecahkan.

Mendidik Anak Shalih

Sore ini adalah pertemuan kedua saya dalam Kajian Ahad Sore Ibu-ibu Pimpinan Ranting Aisyiyah Banyuraden. Materi yang saya sampaikan masih mengulang bacaan surat Al-Ahqaf (46) ayat 15.

 

Hal menarik dari pertemuan satu dan dua, semua peserta antusias mengikuti kajian. Ibu-ibu menirukan bacaan satu persatu. Tentu bagi saya ini adalah hal yang luar biasa. “Banyak ilmu yang saya peroleh,” komentar peserta. Selain memperbaiki bacaan, eh, lebih tepatnya menyempurnakan bacaan, ngaji dua ahad ini menumbuhkan inspirasi manajemen pendidikan di 3 TK ABA yang ada di lingkungan Banyuraden.

 

Ide itu merupakan usulan ibu-ibu. Ini berita bagus. Ini adalah wujud kepedulian ibu-ibu PRA Banyuraden untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran di TK ABA. Tentu saja saya bahagia mendengarnya. Saya telah memimpikannya dua puluh tahun lalu. Pengalaman tujuh belas tahun mengelola BirruNA, mengajarkan pada saya pentingnya keyakinan tauhid dalam memberikan layanan terbaik kepada konsumen. Hanya dengan kekuatan bersama, kerja bersama seluruh kekuatan Aisyiyah Ranting, insyaallah mimpi itu akan menjadi kenyataan.

 

Hal kedua yang menjadi catatan menarik saya adalah ketertarikan ibu-ibu pada materi karena terkait langsung dengan persoalan perempuan dan ibu. Setiap ibu pasti membutuhkan anaknya berbakti pada kedua orang tua. Masalahnya, kebaktian itu tidak serta merta terjadi, melainkan harus diupayakan, dikondisikan. Inilah peran penting pendidikan. Buatlah proses pendidikan itu menyenangkan peserta didik, yang memotivasi, menggembirakan. Insyaallah tanpa dipanggil berkali-kali pun, mereka akan datang dengan sendirinya dan dengan suka-cita.

 

Karena ayat terkait langsung dengan dunia perempuan, maka bacaan menjadi lebih mudah difahami dan dihafalkan. Alhamdulillah.. Selain mengikuti kapasitas memori otak, bacaan ringan ini menjadi lebih mudah pula diamalkan dan dibagikan kepada orang lain. Dengan demikian, hal ini menumbuhkan rasa percaya diri ibu-ibu adanya ilmu yang dimiliki, yang dengan itu ibu-ibu memiliki semangat untuk juga berbagi kepada ibu-ibu lainnya di sekitarnya. Ada pertemuan dasawisma, posyandu, tabo jumantik, pertemuan rutin bulanan RT ibu-ibu, dan masih banyak lagi.

 

“Think globally, act locally” adalah semboyan yang sebaiknya kita terapkan dalam lingkungan kita. Maknanya “Berfikir global, namun melakukan hal dari local”, yaitu sederhana, kini, di sini dan saat ini. Semangat yang kita miliki, yuk kita jaga bersama. Bahwa kita bermimpi setiap siswa TK ABA mampu membaca Al-Qur’an, itu bagus. Yang perlu diingat pula adalah bahwa mimpi itu harus direncanakan secara bertahap, terukur dan terarah. Sampai kapan? Terus saja bergerak.

Menulis itu Bertasbih

Workshop Menulis Dua akan diselenggarakan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta pada Kamis, 11 Januari 2018. Bapak M. Husnaini, Pendiri SPN (Sahabat Pena Nusantara), akan hadir mendampingi peserta “Menulis Dari Nol Hingga Terbit Buku”, sebagaimana buku yang telah beliau tulis tersebut.

Workshop Menulis Dua ini diadakan selama lima jam, sejak jam 9 hingga 3 sore, agar peserta dapat praktek langsung kegiatan menulis buku. Kehadiran Pendiri grup penulis SPN tersebut, diharapkan benar-benar dapat mewujudkan mimpi banyak orang untuk menjadikan kegiatan menulis itu mudah, menyenangkan dan menghasilkan karya. Karenanya peserta diminta konfirmasi kehadiran dan mengikuti ketentuan yang berlaku, agar dapat memanfaatkan kesempatan berharga bertemu dengan Sang Penulis, dalam lawatannya ke Indonesia. Kesediaan beliau hadir di antara kesibukannya studi S3 di Universitas Islam Antarbangsa IIUM Malaysia, membuktikan kecintaannya dan kepeduliannya pada dunia tulis-menulis.

Workshop Menulis Dua akan diselenggarakan di kampus 1 UNISA Yogyakarta yang beralamat di Serangan, Ngampilan, Yogyakarta. Berada di belakang Taman Parkir Ngabean, bersebelahan dengan gedung PAY Aisyiyah, Panti Asuhan ‘Aisyiyah. Acara ini akan diikuti oleh 50 peserta yang terdiri dari dosen UNISA, mahasiswa UNISA dan anggota Serikat Taman Pustaka. Serikat Taman Pustaka adalah organisasi bentukan Kopdarnas Literasi yang berlangsung di UMS Surakarta, yaitu organisasi di bawah MPI PP Muhammadiyah yang bergerak di bidang literasi. Unsur Serikat Taman Pustaka terdiri dari Komunitas Literasi, Literasi Sekolah/ FPPTMA, dan MPI. Oleh karena itu, Workshop Menulis Dua yang didukung penuh oleh LPPM dan Wakil Rektor 1 ini merupakan kepedulian UNISA Yogyakarta terhadap tindak lanjut hasil Kopdarnas Literasi di Surakarta.

Semangat acara ini mengingatkan kita pada ayat 41 surat An-Nur “Tidakkah engkau (Muhammad) tahu bahwa kepada Allahlah bertasbih apa yang ada di langit dan di bumi, dan juga burung yang mengembangkan sayapnya. Masing-masing sungguh telah mengetahui cara berdoa dan bertasbih. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan”. Setiap pagi, siang dan petang, kita selalu melihat burung-burung beterbangan. Saat kita jalan pagi, saat belanja di warung tetangga, saat menuju kampus, saat kita tengok keluar dari jendela kampus, saat diskusi di gazebo kampus, saat petang pulang dari kampus. Ya, burung-burung tampak terbang dangan riangnya. Dia kepakkan sayapnya. Itulah tasbih mereka kepada Allah. Menulis, semoga menjadi cara kita berdoa dan bertasbih kepada Allah. Amin.

Profesional Qurani

LPPI UNISA besok pagi akan mempersembahkan Kajian Tematik Integrasi Agama dan Ilmu Pengetahuan dengan menghadirkan penulis buku best seller Ayat-Ayat Semesta, Agus Purwanto, D.Sc. Apa pentingnya acara tersebut bagi dosen Unisa? Ini mengingatkan saya pada sambutan Bu Rektor pada kegiatan refreshing AIK bagi dosen dan pertanyaan yang diajukan oleh Pak Ery Khusnal saat itu.

 

Satu  bulan yang lalu, tepatnya di Hari Guru, seluruh dosen Unisa Yogyakarta mengikuti kegiatan Refreshing Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Acara yang dilangsungkan di Hall 4 Siti Baroroh Baried itu mengangkat tema “Reaktualisasi Nilai-nilai Islam Berkemajuan dalam Peningkatan Kualitas Kinerja dan Layanan”.

 

Ibu Rektor menyampaikan agar refreshing ini jangan dianggap beban. Informasi di WA itu (grup WA Dosen Unisa, pen) menjadi pegangan tidak hanya di grup tapi aktualisasinya tidak ada. Hari Guru juga berarti Hari Dosen. Jangan hanya terjebak pada rutinitas, pulang pergi, tanpa ada hal lain yang kita harapkan dan kita tuju.

 

Lebih lanjut Bu Rektor menyampaikan bahwa pendidikan konvensional akan ditinggalkan. “Transfer ilmu bisa saja dengan membaca, namun transfer nilai juga perlu. Mari dengan ringan hati dan ikhlas diikuti. Ini tidak lama, mohon dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Peluruhan kedisiplinan harus dihindari. Bila dibiasakan, hal-hal kecil, maka lama-lama akan ragu. UNISA adalah universitas unggul dan pilihan. Terus terang ini keprihatinan kita bersama. Mari sama-sama melihat apa yang sudah kita lakukan. Bukan hanya mengajar. Mengajar itu super. Scopus, scopus.. sebenarnya tidak hanya itu. Menjaga spiritualitas kita, akhlak kita, itu penting.”

 

Di sambutan terakhir Bu Rektor mengajak, “Mari bersama-sama ngecas. Kita bagian dari persyarikatan. Unisa bukan hanya tempat cari maisyah, lebih penting lagi peran kita sebagai manusia tentunya. Mari berbenah dan memperbaharui, dengan inovasi menghasilkan yang unggul, nilai spiritualitas yang tinggi, dalam bertindak dan berkata. Kita kembali merecharge, merevitalisasi, kebijakan yang ada di persyarikatan, juga niatan utk memperbaharui diri kita masing-masing.

 

Adapun pertanyaan Pak Ery Khusnal, waktu itu diajukan kepada narasumber, Bu Susilaningsih. “Semua ilmu yang bersumber dari barat adalah sekuler. Teks semua barat. Di UNISA mau seperti apa? Caranya bagaimana ? Yang terjadi kini baru ayatisasi pada tugas skripsi. Kesannya memperkosa ayat. Berwawasan islam dalam keilmuan itu bagaimana?”

 

Bu Susilaningsih menjawab, “Di buku Pak Kunto disebutkan, kita tidak bisa menolak ilmu dari barat. Ya seperti itu orientasinya. Bukan berarti tidak bisa kita pakai. Kalau diserasikan ya harus diintegrasikan.”

 

Sebelumnya, Bu Sus menyampaikan alasan mengapa kita harus berdakwah. Tagline “Profesional Qurani” itu sudah benar. Harapannya kita bisa mengajak kepada kebaikan, bisa mencegah keburukan, mengajak pada keimanan. Ini ilmu profetik, kenabian. Diperlukan sikap tu’minu billah. Perguruan tinggi yang mengembangkan ilmu, sumbernya dari filsafat. Sekuler sering menafikan masalah-masalah ketuhanan. Itu sunnatullah. Dua hal yg berbeda akan menyebabkan split personality. Di Aisyiyah, dosen diharapkan komit pada nilai-nilai keislaman dan tidak lepas dari keilmuan.

 

Sambutan Bu Rektor, uraian Bu Sus dan pertanyaan Pak Ery memotivasi kita untuk mengkaji kembali Alquran dalam kehidupan dan profesi kita. Semoga Allah ringankan langkah kita menghadiri majelis ilmu, menuju UNISA kampus berwawasan kesehatan, pilihan dan unggul berbasis nilai-nilai Islam Berkemajuan. []

 

Yogyakarta, 22 Desember 2017

Propemka Unisa

Berkumpul, Berbagi dan Bergerak Bersama

Membaca dan menulis adalah dua kegiatan literasi yang menyenangkan. Keduanya sama-sama penting dan saling menguatkan.

Ketika setiap orang, komunitas, Majelis Pustaka dan Informasi Wilayah, Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah/ ‘Aisyiyah, Para Guru SMA/SMP/SD/MI berkumpul bersama dalam satu forum Kopdarnas Literasi Muhammadiyah, tentu ini hal yang sangat membahagiakan.

Bahagia karena ternyata kita tidak sendiri. Ada banyak elemen yang terlibat dalam gerakan literasi. Ini sungguh fenomena menarik.
(lebih…)